
"Hai manis" Sapa Satria sambil menyerahkan sekuntum mawar merah untuk Evelyn. Selanjutnya ia membantu Evelyn menutup rolling door warungnya.
"Makasih Sat" Evelyn meraih bunga yang Satria ulurkan kemudian menyesap wangi mawar itu, matanya terpejam seiring bau harum khas kembang berduri itu menyapa hidungnya.
"Kecantikan mawar ini langsung tak ada apa-apanya saat disandingkan dengan wajah kamu Ve" Ucap Satria sambil mengulum senyum. Seperti biasa Evelyn tersenyum cuek.
"Gombalan kamu khas bujangan angkatan papa aku Sat" Evelyn terkekeh saat melihat mata Satria yang membulat.
"Please lah Ve, nggak sekuno itu juga kali" Pria itu melipat tangan nya di dada sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku anterin pulang ya" Tawar Satria saat tak melihat motor yang biasa dikendarai Evelyn.
"Nggak ngerepotin?"
"Mindahin gunung aja aku nggak akan ngerasa repot kalo kamu yang minta Ve, apalagi cuma sekedar nganterin pulang, tiap hari juga aku jabanin dengan senang hati. Malah itu yang aku mau" Jawab Satria sambil tersenyum lebar.
"Emang bisa mindahin gunung?" Tanya Evelyn sok polos.
"Enggak sich. Aku kan cuma berandai-andai Ve" Jawab Satria sambil terkekeh. Sementara Evelyn langsung tersenyum masam.
Satria membukakan pintu mobilnya untuk Evelyn, Setelahnya ia berjalan dan masuk ke bangku kemudi. Satria mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah sewa Evelyn tang tidak terlalu jauh dari warung milik gadis itu.
__ADS_1
"Motor kami emang ke mana Ve?" Tanya Satria sambil menoleh sekilas.
"Dipake Sandi, Tadi istrinya telfon anaknya sakit. Kasihan kalo mesti naik angkot pasti lama di jalan" Sandi adalah salah satu pegawai Evelyn di warung makan miliknya. Pria itu bertugas mengantarkan pesanan, namun karena hari ini motornya sedang di bengkel Evelyn berbaik hati meminjamkan motor miliknya.
"Kamu emang bidadari berhati malaikat. Makanya hati aku nggak pernah bisa berpaling dari kamu" Evelyn menggeleng malas. Di setiap kesempatan Satria selalu melancarkan gombalan padanya.
"Mau masuk dulu Sat?" Tawar Evelyn saat mobil Satria sudah memasuki pekarangan rumahnya.
"Kalo dibolehin aku mau lah, ditawari menginap jauh lebih senang lagi tentunya"
Evelyn memukul lengan Satria, kesal dengan godaan Satria yang seakan tak pernah habis.
"Aku ambilin minum dulu ya" Pamit Evelyn setelah mempersilahkan Satria duduk di ruang tamunya. Ia melangkah menuju dapur mengambilkan minuman kaleng yang tersedia di kulkasnya. Ia membawa serta setoples cemilan menuju ruang tamu tempat Satria berada.
"Makasih Eve" Ucap Satria saat Evelyn menghidangkan minuman dan cemilannya. Eve memilih duduk berhadapan dengan Satria yang tak lepas menatap nya.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Tanya Evelyn heran.
"Kamu cantik, aku jadi nggak bisa melihat ke tempat lain. Wajah kamu seakan magnet yang terus menarik mata aku untuk tetap memandangi kamu"
"Kamu tu ya, uda berapa gadis yang kamu modusin dengan rayuan gombal kamu itu"
__ADS_1
"Cuma kamu kok Ve. Gadis lain nggak perlu aku rayu datang sendiri. Sementara untuk menghadapi kamu aku hampir kehabisan stok rayuan tapi yang dirayu nggak pernah peduli" Satria memasang wajah memelas. Evelyn terkekeh memandangi wajah Satria yang dibuat menyedihkan.
"Emang laki-laki itu seperti apa Ve? tiga tahun aku berjuang tapi kamu masih tidak melihat ke arah ku. Apa dia sangat spesial?" Evelyn merasa jengah dan resah tiap kali Satria beralih pada mode serius. Lebih mudah menghadapi saat ia tengah bertingkah konyol dengan segudang rayuan jayus nya.
"Dia baik, dia setia, dia peduli, dia perhatian. Hampir semua yang diinginkan perempuan ada padanya" Mata Evelyn menerawang, membayangkan wajah Noah yang masih begitu lekat diingatan nya. Ia memilih untuk mulai terbuka pada Satria. Ia tidak ingin menggantung perasaan Satria lebih lama lagi. Tiga tahun sudah cukup rasanya untuk mulai membuka diri, tak selalu hidup dalam kenangan masa lalu. Evelyn ingin bahagia dengan keluar dari bayangan yang telah lalu. jikapun belum berhasil setidaknya ia telah mencoba membuka hatinya.
"Apa yang terjadi padanya?" Mengherankan jika memang pria masa lalu Evelyn sebaik itu mengapa mereka tidak lagi bersama saat ini.
"Aku menyakitinya, tak menghargai keberadaan nya. Aku menganggapnya posesif hingga aku merasa tersiksa. Akhirnya dia memilih melepaskan ku, tapi aku tak pernah menduga jika kepergiannya akan menjadi awal segala kesakitan ku" Satria terus diam mendengarkan kisah yang mengalir dari bibir Evelyn. Matanya tak lepas menatap pada Evelyn. Ia bisa membaca segala kekalutan yang ada di mata Evelyn, pancaran mata itu menunjukkan betapa Evelyn masih mencintai pria masa lalunya dengan amat besar.
"Masih berharap untuk kembali padanya?" Tanya Satria saat melihat Evelyn kembali terdiam. Evelyn tersenyum getir matanya masih menerawang.
"Sayangnya sudah tidak mungkin lagi. Dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Dia sudah menemukan wanita yang mampu bersyukur akan keberadaan nya. Tiga tahun yang lalu terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia sedang menanti kehadiran buah hati mereka. Saat ini aku yakin hidup mereka sudah sangat bahagia, mungkin mereka sudah memiliki satu bayi lagi" Evelyn tersenyum, namun kali ini Satria menyadari senyum itu sedikit berbeda, ada kebahagiaan yang terpancar di sana.
"Aku bahagia mendapati kebahagiaan nya Sat. Aku berlapang dada menerima bahwa aku memiliki kenangan kami sebagai jatahku. Alu mengikhlaskan nya, meski aku masih mencintainya tapi cintaku tidak egois. Cintaku tidak memaksa untuk kembali bersamanya lagi"
"Cintamu tidak egois padanya Ve, tapi sayangnya ia egois pada dirimu sendiri. Ia memenjarakan kamu dalam kenangan masa lalu yang membuat mu sulit merangkai kisah yang baru. Bibir mu berucap ikhlas namun di luar kesadaran mu kamu masih terus berharap untuk kembali bersamanya. Bangun dan sadarlah Eve. Kamu tidak mungkin hidup sendiri selamanya" Satria menatap tajam pada Evelyn.
"Aku sudah berusaha, aku juga menginginkan hadirnya seseorang di hidupku. Hanya saja belum berhasil. Aku ingin memulai kisah yang baru, namun aku harus benar-benar memastikan bahwa aku memang telah siap untuk itu. Aku nggak mau memulai sementara hatiku masih belum selesai dengan kisah yang lalu, aku takut jika nantinya hanya akan menyakiti pasanganku yang baru karena tak bisa memberikan hati dan perasaanku secara utuh"Akhirnya semua yang mengganjal selama ini telah berhasil ia utarakan pada Satria. Ia merasa amat lega, Evelyn berharap dengan kejujurannya Satria bisa menentukan langkahnya. Berhenti dan membunuh semua harapan atau terus berjuang untuk mendapatkan hatinya.
"Terimakasih untuk kejujuran mu Evelyn, ini semakin membuka jalan bagiku untuk menuju hatimu. Aku pastikan akan memenangkan nya" Ucap Satria dengan senyum mengembang. Ia seakan mendapat semangat baru. Evelyn menceritakan kisah lamanya adalah langkah awal kemenangan nya, menjadi bukti bahwa gadis itu telah mempercayainya. Bisa jadi itu adalah pertanda bahwa Evelyn ingin diperjuangkan olehnya.
__ADS_1