Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

"Noah tolong telfon Eve" Ucap mama Noah disela menenangkan Cilla yang tengah menangis sembari terus menyebut 'mama'


"Buat apa ma?" Ini pertama kalinya Cilla menangis histeris seperti ini dan tentu saja Noah ikut panik. Namun menelfon Evelyn bukan solusi yang bijak, mengingat ini sudah lewat tengah malam. Noah juga tidak ingin merepotkan Evelyn untuk urusan pribadinya.


"Cilla nyariin Evelyn Nak, Cilla pasti berhenti kalo Eve datang" Mama Noah tampak kesal. Tangisan gadis kecil itu tak kunjung mereda. Ia terus memanggil mama dan mencari-cari dengan matanya.


"Belum tentu Cilla nyariin Eve ma, dia pasti kangen Syahira" Bantah Noah cepat, ia kini mengambil alih putrinya berharap mampu menenangkan gadis mungil itu.


"Tapi sebelumnya nggak pernah kayak gini kan semenjak Syahira nggak ada. Tadi kamu lihat sendiri gimana senang nya Cilla bertemu dan tidak ingin lepas dari Evelyn? mama yakin kamu juga dengar Cilla memanggil Eve dengan sebutan mama" Mama Noah terlihat gemas pada sang anak yang tak peka.


"Tapi ini uda malam ma, nggak enak ngerepotin Eve" Ucap Noah akhirnya, meski ia tak menampik ucapan sang mama bahwa Cilla mencari Evelyn.


"Sayang mau mama?" Tanya Noah lembut, di balas anggukan oleh Cilla yang tampak berurai air mata.


"Lihat fotonya aja ya?" Tawar Noah, sayangnya Cilla kembali menangis sambil menggelengkan kepalanya.


"Biar mama yang telfon Evelyn kalo kamu nggak berani" Tegas sang mama.


"Ma Eve punya kehidupan sendiri. Kita nggak bisa merepotkan dia dengan hal-hal yang nggak ada sangkut pautnya sama dia" Noah tetap kukuh pada pendirian nya yang tak ingin melibatkan Evelyn dalam urusannya.


"Uda sayang, yuk kita cari mama" Bujuk Noah sambil mengusap puncak Putrinya. Ia menuju kamar untuk mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


"Kamu mau ajak Cilla ke mana nak? ketemu Evelyn?"


"Nggak ma, Noah mau ajak keliling-keliling aja sampai Cilla kembali tidur" Jawab Noah sambil berjalan keluar. Tangisan Cilla perlahan berhenti saat Noah mengatakan akan mencari mama, namun isakan nya masih sesekali terdengar.


*****


Noah duduk bersimpuh di sebuah tempat yang menjadi peristirahatan Syahira selama satu tahun ini. Kini wanita baik itu terbaring di sana setelah berjuang melawan penyakitnya.


Saat Cilla berusia satu setengah tahun Syahira diketahui mengidap kanker getah bening stadium lanjut. Syahira mengabaikan setiap gejala yang menyerang hingga akhirnya terlambat diketahui, sel kanker sudah menjalar ke organ vital hingga segala usaha penyembuhan tak mampu menolongnya. Hingga 6 bulan kemudian Syahira menyerah pada penyakitnya.


"Syahira, Evelyn telah kembali. Cilla juga sudah bertemu. Sesuai keinginan kamu Cilla sepertinya sangat menyukai Eve dan memanggilnya mama seperti yang selalu kamu ajarkan." Sejak Cilla lahir Syahira begitu getol mengenalkan Cilla pada Evelyn, ia terus mengajari Cilla menyebut mama sambil menunjukkan foto gadis itu. Syahira tak pernah peduli tiap kali Noah melayangkan protes atas apa yang istrinya lakukan. Saat ini Noah paham tujuan Syahira yang seolah telah merasakan bahwa ia tak akan lama mendampingi Cilla.


"Kak Noah" Sebuah tepukan di pundaknya membuat Noah membalikkan badannya. Tampak raut terkejut menghiasi wajahnya mendapati Evelyn berada di hadapannya.


"Ehem Eve, kenapa di sini?" Noah memaki pertanyaan bodohnya. Tentu saja Evelyn sedang berziarah di makam mamanya yang hanya beerjarak beberapa blok dari makam Syahira. Noah menyayangkan kunjungannya hari ini, ia tak memperhitungkan kemungkinan bertemu Evelyn.


Sebelumnya Evelyn yang telah selesai bercerita pada sang mama beranjak dari makam. Saat akan meninggalkan tempat itu ia menangkap sosok yang amat ia kenali tengah duduk di depan sebuah makam. Rasa penasaram mendera nya tentang makam siapa yang Noah datangi. Sebuah pemikiran terlintas tentang sosok yang tengah Noah kunjungi, diperkuat dengan sikap Cilla saat bertu dengan nya. Namun Eve segera menepis pemikiran itu, karenanya Ia memilih mendekati Noah untuk memastikan rasa penasaran nya.


Ia memberanikan diri menyapa Noah, tampak sekali keterkejutan di mata pria itu. Suaranya bergetar saat menjawab pertanyaan nya membuat Evelyn semakin curiga. Evelyn memalingkan wajahnya ke arah nisan, seperti tertimpa beban puluhan kilo kepalanya terasa berat dan hatinya terasa tertusuk saat melihat nama Syahira terpampang di sana. Air matanya berjatuhan tak mampu ia tahan. Ia tak menyangka akan mendapati hal ini, wajah dan senyum cantik Syahira terbayang di pelupuk matanya. Ucapan penuh permohonan dari Syahira bergantian menggema di telinga nya. Evelyn merasa tubuhnya tak bertulang hingga ia terduduk dengan mata tak lepas menatap nisan itu.


"Kenapa? ada apa ini? kak Syahira?" Bibir Evelyn terus menceracau, tak percaya rasanya jika wanita itu telah pergi untuk selamanya. Sungguh ia berharap saat ini tengah bermimpi.

__ADS_1


Evelyn beralih menatap pada Noah


"Kak ini salah kan? aku salah lihat? ini nggak mungkin kak Syahira kan?" Ia berharap ada bantahan dari Noah akan apa yang ia lihat.


"Ini nyata Eve, Syahira memang telah pergi satu tahun yang lalu" Evelyn kembali tergugu, ia tak mengharapkan jawaban itu keluar dari bibir Noah. Ia ingin Syahira baik-baik saja agar bisa terus menemani dan membahagiakan Noah nya.


"Kenapa kakak biarin dia pergi? harusnya kakak pertahankan dia. Syahira istri yang sangat baik, kenapa kakak tidak menahan nya?" Noah terpaku atas pertanyaan dan tangisan Evelyn, ia kembali mengingat saat Syahira menangis dan mengucapkan kata-kata yang sama ketika Evelyn pergi.


"Bukan aku yang membiarkan nya pergi Eve, namun takdir nya tertulis demikian. Apa yang harus aku lakukan untuk melawan nya? Aku sudah berjuang semampuku" Evelyn memeluk nisan Syahira, wanita yang pernah menawarkan hubungan persaudaraan padanya yang sebatang kara.


"Kak Syahira kenapa pergi? Aku belum sempat mengucapkan terimakasih atas semua kebaikan kakak kepada ku dulu" Ucap Evelyn lirih. Jika dilihat dari hubungan darah Syahira bukan siapa-siapa namun kehilangan nya Eve tak menyangka akan merasa sehancur ini.


"Kak maaf dulu pergi tanpa pamit, maaf belum sempat mengatakan bahwa aku sayang kakak. Maaf tak bisa memenuhi permintaan kakak"


"Syahira sudah tenang di sana Evelyn, dia sangat bahagia pernah mengenal kamu. Jangan menyesali yang pernah terjadi. Semua memang sudah tergaris demikian" Noah mengusap pundak Evelyn yang masih terus terisak.


"Maafkan Syahira jika pernah membuatmu tidak nyaman. Jangan terbebani atas ucapan dan permintaan nya dulu" Ucap Noah lagi.


****


Gimana? sesuai harapan kah? 😉😉

__ADS_1


__ADS_2