Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

"Aku memutuskan menerima lamaran Darrel" Ucap Aira pada Eve. Setelah bertemu dengan Darrel Aira mengunjungi sahabatnya, kebetulan Noah sedang ada urusan.


"Aku senang mendengarnya, Darrel pria yang baik. Aku yakin dia bisa membahagiakan kamu." Eve tentu saja sangat bahagia, sepasang sahabatnya akan menikah. Ia merangkul tubuh Aira.


"Iya demi dia aku melupakan impian ku" Ucap Aira sambil mengusap perutnya. Mata Evelyn membulat melihat apa yang Aira lakukan.


"Aira kamu?" Tanya Eve dengan tatapan penuh tanya.


"Iya Ve, aku ternyata benar-benar hamil. Tadi pagi aku sudah mengeceknya dengan tespack" Di satu sisi Evelyn berbahagia, di sisi lain ia merasa sedih karena nasip nya berbeda. Padahal ia juga sangat menginginkan kehadiran buah hati.


"Selamat ya Ra, aku turut bahagia. Darrel sudah tau?"


"Iya, dia sangat bahagia Ve. Aku bersyukur meskipun pernikahan kami nanti tanpa cinta setidaknya Darrel sangat menyayangi anak kami" Ucap Aira memaksakan senyumnya.


"Darrel pasti akan mencintai kamu Ra, percayalah" Evelyn mengusap lengan Aira berusaha menguatkan sahabatnya.


"Kamu sudah ke dokter?"


"Belum, tadi Darrel sudah memaksa untuk ke dokter. Tapi aku masih malu mengingat kami belum resmi menikah. Rasa nya aneh memeriksakan kandungan saat status kami masih seperti ini" Yah Evelyn dapat memahami perasaan sahabatnya itu.


"Jadi rencana kapan kalian akan menikah?" Tanya Evelyn antusias.


"Secepatnya Ve, sebelum bayi kami semakin besar. Dia harus segera diberi status, cukup pernikahan sederhana saja. Kemungkinan dalam beberapa hari lagi. Jadi kamu jangan pulang dulu ya?" Eve mengangguk, ia tidak mungkin melewatkan momen bahagia Aira. Aira telah banyak membersamai nya dalam setiap kondisi, karena nya Evelyn ingin melakukan hal yang sama.


Obrolan mereka terjeda saat ponsel Aira berbunyi.


"Iya kenapa Rel?"


"Kamu masih di tempat Eve? Aku lagi di supermarket sebentar lagi aku sampai ke sana" Ucap Darrel


"Aku kan sudah bilang akan pulang sendiri Rel, kenapa repot-repot?" Aira menjadi tak enak hati.


"Aira, Kamu bukan lagi seperti sebelumnya. Ada bayi kita di dalam tubuhmu, jadi tidak mungkin aku membiarkan kamu ke mana-mana sendiri" Wajah Aira merona mendengar ucapan Darrel sementara Evelyn membulatkan matanya dengan senyum lebar.


"Ya sudah hati-hati Rel" Tak ada pilihan selain menuruti Darrel. Pria itu benar, ia harus memikirkan kenyamanan bayi mereka.

__ADS_1


"Darrel sweet ya Ra, dia pria yang tepat untuk kamu" Ucap Evelyn saat panggilan dari Darrel telah terputus.


"Iya, aku juga tidak menyangka dia bisa semanis itu." Keduanya terkekeh, kebaikan Darrel tak mereka ragukan mengingat mereka telah bersahabat cukup lama, namun baru kali ini mereka menyadari sisi lain dari pria itu.


20 menit kemudian bel kamar Evelyn berbunyi, Ia segera membuka kan pintu. Darrel masuk setelah Evelyn mempersilahkan nya.


"Ra, kamu masih mual?" Darrel langsung duduk di sebelah Aira.


"Nggak Rel, aku mual kalau mencium bau yang terlalu menyengat." Jawab Aira.


"Parfume aku gimana? kamu mual juga?" Darrel mengangkat lengannya berusaha menghirup aroma tubuhnya. Khawatir Aira tidak nyaman dengan bau tubuhnya.


"Nggak Rel, sepertinya bayi kita suka aroma papa nya." Ucap Aira malu-malu. Karena jujur menghirup aroma tubuh Darrel membuatnya begitu tenang. Mata Darrel berbinar mendengarnya, ia mengusap perut Aira dengan begitu sayang.


"Ehemm, jangan melupakan ada manusia lain di sini selain kalian berdua" Ucap Evelyn tak terima menjadi obat nyamuk. Darrel terkekeh sementara Aira tersenyum malu.


"Sorry-sorry, maklum lah calon orang tua baru. Noah belum pulang?"


"Sudah di jalan katanya. Rel jadi kapan kalian menikah?" Evelyn duduk di sofa single sebelah Aira.


"Bagus Rel, sudah seharusnya begitu"


****


Darrel menurunkan dua kantong besar belanjaan di bagasi mobilnya.


"Ini susu hamil, vitamin dan cemilan sehat untuk kamu Ra."


"Sebanyak ini Rel?" Aira tampak terkejut.


"Iya Ra, ini sengaja aku beli banyak rasa supaya kamu bisa memilih yang mana yang cocok dan tidak membuat kamu mual" Aira mengikuti langkah Darrel yang telah lebih dulu menuju rumahnya, mereka memang sudah begitu akrab hingga Darrel tidak lagi merasa asing masuk ke rumah Aira.


"Ra, nanti orang tua kamu bagaimana kasih taunya, aku datang ke sana atau bagaimana?" Aira memang tinggal sendiri karena orang tuanya tinggal di kota yang berbeda.


"Nanti aku telfon saja Rel, terlalu memakan waktu kalau harus ke sana" Aira duduk merebahkan diri di samping Darrel.

__ADS_1


"Tapi nanti orang tua kamu meragukan keseriusan aku Ra"


"Kamu tau sendiri orang tua aku santai dan tidak terlalu ribet Rel" Darrel mengangguk menyetujui.


***


Noah memeluk tubuh Evelyn dari belakang, gadis itu tengah menikmati pemandangan langit malam.


"Kenapa sayang?" Bisik Noah sambil mengeratkan pelukan nya.


"Kenapa apa?" Tanya Evelyn masih menatap langit.


"Kamu sepertinya masih bersedih sayang. Bisakah kembali ceria seperti biasanya? aku merasa was-was saat melihat mendung di wajah istriku" Ucap Noah lesu sembari menghembuskan nafas berat.


Evelyn memutar badan nya hingga berhadapan dengan suami nya, ia mengalungkan tangan nya di leher pria itu.


"Iya aku akan berusaha untuk tidak terlalu bersedih lagi" Evelyn memasang senyum manisnya, meski tidak sesedih tadi pagi tapi memang rasa sedih di hati Eve masih tersisah. mengingat ia sudah begitu berharap bisa hamil bulan ini.


Noah menatap istrinya, ia mendaratkan kecupan di bibir Eve, hanya kecupan singkat agar tak kebablasan. Sang istri sedang tidak bisa ia apa-apakan malam ini.


"Sayang, pulang nya diundur boleh tidak? aku mau menghadiri pernikahan Aira" Kening Noah tampak berkerut, ia cukup heran akan informasi yang cukup tiba-tiba.


"Aira menikah? kapan? sama siapa?" Evelyn begitu gemas melihat ekspresi suaminya, karena itu ia mendaratkan ciuman di wajah pria itu.


"Sama Darrel, mungkin 3 hari lagi" Noah semakin tampak kebingungan.


"Memangnya mereka berpacaran? sudah lama merencanakan ingin menikah?"


"Kalau sudah jodoh meskipun tidak berpacaran tetap saja akan menikah sayang, Darrel sudah lama melamar Aira. Tapi baru diterima sekarang" Evelyn sengaja tidak menceritakan seputar kehamilan Aira. Sebisa mungkin ia ingin menjaga harga diri sahabatnya.


"Baiklah kalau begitu, nanti aku telfon mama.


Masuk yuk, aku ingin menagih janji" Bisik Noah tiba-tiba dengan tatapan penuh arti. Nafas hangat pria itu menerpa telinga Eve hingga membuat nya meremang.


"Janji apa?" Tanya Eve bingung.

__ADS_1


"Bukankah istriku sudah belajar cara memuaskan suami dalam kondisi darurat? aku ingin mencoba nya sayang, aku tidak mau kamu menyia-nyiakan pelajaran mu begitu saja." Wajah Eve merona malu, Noah membopong tubuh istrinya sambil membenamkan bibirnya pada bibir Evelyn.


__ADS_2