
Evelyn menoleh mendengar namanya disebut, terlebih suara yang memanggilnya sangat ia kenali.
"Hai kak kenapa di sini?" Evelyn tersenyum kecut. Pria itu menatap sedih pada Evelyn, bibirnya begitu sulit untuk berucap. Suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
"Mama, ada kak Noah. Dulu mama sering nanya tentang kak Noah kan? ini dia datang" Ucap Eve lemah, ia sedikit putus asa saat sang mama tetap membisu. Otaknya terus memaksa Eve untuk sadar bahwa sang mama tak akan pernah bangun lagi.
"Mama, bangun sayang. Mama nggak mungkin ninggalin Eve sendirian kan?" Kali ini Eve mulai menggoyangkan tubuh mamanya. Air mata tak lagi mampu ia tahan.
"Eve please jangan seperti ini. Sadarlah bahwa mama kamu sudah tenang. Dia akan sedih kalo kamu seperti ini" Noah berucap dengan lembut, ia akan menyentuh pundak Eve namun ia urungkan saat mengingat ada Syahira yang menunggu nya di luar.
"Mama nggak mungkin ninggalin aku sendirian di sini. Papa kenapa harus jemput mama secepat ini" Noah tercengang mendengar keluh kesah Evelyn, terlalu banyak tentang Evelyn yang terlewat selama 2 tahun ini karena Noah menutup rapat semua hal tentang gadis itu, ia tak menyangka bahwa Papa Eve sudah tiada.
Masih lekat di ingatan Noah senyum ramah milik pria itu. Dan kini pria baik itu telah tutup usia, ia bisa membayangkan betapa kelam hidup Eve saat ini. Ada begitu banyak tanya yang ingin Noah lontarkan namun pria itu memilih memendamnya sendiri.
"Ayo Eve, kasihan mama kamu. Kita harus mengurus jenazah nya" Eve tersentak mendengar ucapan Noah, ia tak rela sang mama disebut jenazah.
"Mama hanya tidur kak, tolong jangan asal bicara" bibir Eve terus berusaha mengingkari meski otaknya telah membenarkan semua ini.
"Eve, jangan egois. Jangan hambat jalan mama kamu, Ikhlaskan kalo kamu menyayanginya" Tegas Noah, meski tak tega tapi Eve tak bisa terus seperti ini.
"Mama kenapa harus pergi, kenapa ninggalin Eve. Mama tau cuma mama yang Eve punya. Kenapa mama malah ikutan ninggalin Eve juga." Akhirnya jeritan itu keluar dari bibir gadis itu. Ia ingin marah pada jalan hidup yang digariskan untuknya. Ia tak kuat memikul beban ini sendirian. Jika saat kehilangan papanya Eve masih memiliki mama sebagai penguat, kali ini sandaran Eve pun pergi. Ia merasa benar-benar kehilangan arah.
Noah terpaksa memegangi Eve yang terus menggoyangkan tubuh mamanya, jeritan pilu Evelyn membuat Noah tak bisa menahan diri lagi. Ia merengkuh tubuh gadis itu dengan kuat.
__ADS_1
"Please Eve, tegar dan kuat lah. Doakan mama kamu agar ia tenang. Kamu tidak bisa menghalangi sang pencipta yang ingin mengambil milik Nya kembali" Noah terus berbisik berharap Evelyn bisa mengendalikan dirinya. Ia tau itu tak mudah untuk gadis seusia Evelyn.
"Aku nggak bisa, mama nggak boleh ninggalin Eve juga. Mama satu-satunya yang Eve punya" Eve terus meronta, hatinya terasa begitu sakit. Ia merasa sudah tak ada alasan untuk hidup.
"Lepasin aku kak, aku akan susul mama. Aku harus ikut mama dan papa. Aku nggak mau ditinggal sendirian di sini. Eve takut ma, Eve mohon mama ajak Eve bersama mama. Kita temui papa sama-sama ma jangan tinggalin Eve sendirian" Suara Eve melemah seiring tubuh gadis itu yang kehilangan tenaga. Matanya terpejam, Evelyn tak kuat menanggung kesedihan hingga akhirnya gadis itu kehilangan kesadaran nya.
****
Eve masih bersimpuh memeluk tanah merah tempat di mana sang mama telah berbaring menemui cinta sejatinya. Air mata di wajah Evelyn terus mengalir bersama rintihan pilu atas kehilangan yang ia alami.
Noah dan Syahira menatap sedih pada Eve yang begitu terpuruk. Tapi keduanya tak ingin mengganggu Eve, mereka hanya mengawasi agar Eve tak melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri.
'Eve harus bagaimana ma' Hati Eve terus bertanya kenapa ia ditinggal sendirian di dunia ini.
Tadi pagi ia begitu terkejut saat bangun jam sudah menunjuk angka 7. Ia buru-buru bangun dan mandi. Saat menyisir rambut sang mama dengan senyum manisnya masuk ke kamar Eve dengan sarapan di piringnya.
"Mama kenapa nggak bangunin Eve?" Ia masih fokus menyisir rambutnya. Ia menatap heran pada mamanya yang mendekatkan sendok berisi makanan ke mulutnya.
"Makan dulu sayang, sambil bersiap mama suapin." Meski bingung Eve menurut, ia membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari mamanya.
"Maafin mama nggak bangunin kamu, mama sengaja biar kamu nggak berangkat kerja. Mama pengen hari ini bersama kamu." Ucap mamanya dengan wajah bersalah.
"Nanti ya ma, kalau Eve udah dapat kerjaan yang baru Eve akan meluangkan waktu seharian bersama mama. Untuk sekarang Eve belum bisa izin nanti Eve nggak terima gaji padahal Eve mau bayar rumah." Ucap Eve lembut, ia kembali membuka mulutnya menerima makanan yang mamanya berikan.
__ADS_1
"Iya, maafin mama yang egois ya nak"
"Nggak kok, mama nggak egois. Mama itu mama terbaik di dunia" Mamanya tersenyum mendengar pujian Evelyn.
Eve tergugu mengingat kenangan terakhir bersama mamanya. Harusnya ia menuruti permintaan terakhir wanita itu, Harusnya Eve tak usah berangkat saat melihat mamanya begitu berat melepas kepergiannya. Harusnya ia tak peduli dipecat asal bisa memenuhi keinginan sederhana mamanya. Ciuman berkali-kali di wajah serta pelukan erat sang mama harusnya bisa menghentikan langkah Eve untuk meninggalkan wanita itu.
"Hati-hati ya sayang, jaga diri. Kamu harus bahagia ya" Pesan mama nya yang hanya ia jawab dengan anggukan karena ia sudah benar-benar terlambat.
Andai ia sedikit lebih peka, mungkin mama nya masih hidup hingga detik ini.
'Maafkan Evelyn ma' Gadis itu sangat terluka, dadanya terasa sesak. Kenapa hidupnya harus berkubang sesal. Kepergian mamanya menambah panjang deretan penyesalan dalam hidupnya. Andai ia lebih peka, mamanya tak akan pergi secepat ini.
Hari sudah beranjak senja, Eve masih betah memeluk nisan wanita yang telah melahirkannya.
"Bujuk Eve mas, sebentar lagi gelap" Bisik Syahira.
"Kamu aja Syahira" Noah sadar ia tak boleh melakukan itu. Ia tak ingin menyakiti Syahira meski wanita itu mengizinkan nya. Bagaimana pun Syahira adalah istrinya dan Evelyn adalah mantan kekasihnya. Ia yakin meski sedikit akan ada rasa sakit di hati Syahira andai ia membujuk Eve. Ia harus bisa menahan hatinya sendiri, statusnya kini telah berbeda. Meski ingin menarik Evelyn dalam dekapan nya untuk mengurangi beban dan luka Evelyn tapi ia adalah pria beristri yang tak bisa seenaknya memeluk wanita lain meski dalam keadaan berduka.
Syahira mengangguk, ia tahu Noah tak akan bisa dibantah. Ia sangat mengerti Noah begitu menghargai dan selalu ingin menjaga perasaan nya.
"Uda malam Eve, kita pulang ya. Besok ke sini lagi" Suara lembut Syahira membuat Evelyn tak tega untuk menolak.
"Eve pulang ya ma, besok Eve ke sini lagi" Eve mencium nisan mamanya. Meski tak rela ia tak boleh egois untuk tetap bertahan di sini. Ia tau Noah dan istrinya tak mungkin membiarkan nya sendirian.
__ADS_1