
Eve menatap iba pada Noah setelah pria itu selesai menceritakan apa yang terjadi pada Syahira setahun yang lalu. Di sisi lain ada rasa kagum yang tak bisa Evelyn tahan atas ketabahan Noah yang tergambar jelas di wajah nya. Ternyata rasa sakit menempa Noah menjadi pria yang lebih matang dengan pembawaan tenang.
"Apa kakak terluka?" Tanya Eve lirih dengan mata tak lepas menatap pada pria itu. Senyum tipis tersungging di bibir Noah, pria itu membalas tatapan Eve.
"Apa pertanyaan itu perlu di lontarkan Eve? Setiap kehilangan pasti akan menyisah kan luka bagi siapapun. Tapi apakah dengan terpuruk akan mengembalikan nya kembali? aku tidak ingin memperdalam luka Cilla dengan menghancurkan diri ku atas kehilangan Syahira. Cilla telah kehilangan mamanya, aku tidak mungkin tega membiarkan nya kehilangan aku juga. Aku harus menjadi kuat untuk Cilla. Syahira tidak membutuhkan tangis kepedihan dia butuh doa dan keikhlasan dari ku untuk menuju tempat yang lebih baik baginya" Wajah itu begitu tenang dan jernih, mungkin waktu telah berhasil membasuh lukanya. Atau Noah terlalu pintar menyimpan perasaan nya dan tak membiarkan siapapun melihat kesedihannya?.
"Iya, Cilla beruntung memiliki papa seperti kamu. Terimakasih telah menjadi kuat untuk dirinya. Aku kehilangan kedua orang tua ku di usia dewasa, aku kehilangan arah dan sempat merasa tidak ingin hidup lagi. Untungnya aku bertemu kamu dan kak Syahira yang membuat aku merasa kembali memiliki keluarga. Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Cilla jika ia tak sempat mengenal kedua orang tuanya" Evelyn mencoba untuk tersenyum, meski ia tak tau seperti apa wujud senyum di tengah rasa pedih yang mendera hatinya.
Noah menganggukkan kepalanya. Pria itu melirik jam tangan nya, hampir dua jam mereka menghabiskan waktu untuk bercerita.
"Eve, terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita ku" Noah merasa tak enak hati mungkin saja sebenarnya Evelyn memiliki janji dengan Satria tapi malah menghabiskan waktu dengan nya, tadi saat selesai di pemakaman mereka memutuskan untuk mencari tempat mengobrol dan bercerita tentang kisah yang terjadi setelah pertemuan mereka tiga tahun yang lalu
"Tidak perlu berterima kasih kak, aku senang kakak mau berbagi cerita sama aku" Jawab Evelyn sambil tersenyum. Sekilas Evelyn mendapati sorot mata Noah menatapnya seperti lima tahun yang lalu saat mereka masih bersama. Namun sorot itu dengan cepat menghilang sebelum Eve sempat meyakinkan bahwa tatapan itu nyata adanya, bukan sekedar halusinasinya belaka.
"Sehabis ini kamu mau ke mana? aku antar kalau kamu tidak keberatan Eve." Tawar Noah akhirnya, tawaran yang teramat menggiurkan bagi Evelyn.
"Apa kakak tidak buru-buru?" Evelyn sedikit berbasa basi, tidak ingin langsung mengiyakan meski tak ada sedikitpun niat untuk menolak tawaran pria itu. Ah apakah kali ini ia kembali tak tahu diri?
"Tidak Eve, kebetulan tidak ada pekerjaan yang mendesak di kantor. Jadi aku bisa sedikit bersantai" Noah kembali menyunggingkan senyum hangat yang membuat Eve merasa begitu tenang.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kak, kalau tidak merepotkan aku ingin menumpang mobil kakak untuk kembali ke penginapan." Ucap Eve dengan sedikit malu.
"Tentu saja tidak merepotkan Eve. Jangan terlalu canggung, kita ini sudah berteman lama" Jawab Noah. Evelyn tersenyum getir mendengar Noah menyebutkan nya hanya sebagai teman lama. 'Hei Eve lantas sebutan apa yang kamu inginkan?' Makinya pada diri sendiri.
Keduanya berjalan menuju mobil tanpa bersuara. Mereka tampak bercengkrama pada fikiran mereka masing-masing, begitupun sepanjang perjalanan tak ada yang berinisiatif membuka obrolan.
"Makasih kak" Ucap Eve saat mereka telah tiba di penginapan.
"Iya Eve, makasih juga sudah menemaniku hari ini. Sampaikan maaf ku pada Satria, mungkin aku mengganggu jadwal kencan kalian" Ucap Noah dengan nada bersalah.
"Aku dan Satria tidak ada hubungan apapun kak. Tidak perlu merasa bersalah" Entah adakah gunanya namun Eve memutuskan untuk jujur. Ada kilat terkejut di mata Noah yang Evelyn tangkap.
***
Evelyn menatap sendu pada Cilla yang tengah terlelap dalam dekapan nya. Ia iba melihat gadis kecil itu harus kehilangan Syahira disaat ia sedang memerlukan limpahan kasih sayang utuh dari seorang ibu.
Hati kecil Evelyn tak bisa menolak kala mama Noah menelfon nya, meminta agar datang ke rumah karena Cilla terus menangis menanyakan dirinya. Bibirnya tak bisa berkata tidak, hatinya menuntun Eve untuk langsung mengiyakan permintaan mama Noah.
"Siapa aku sebenarnya di mata mu gadis kecil? kamu bahkan memanggilku mama di pertemuan pertama kita. Apa keberadaan ku cukup spesial hingga kau tangisi ketiadaan ku?" Jujur saja Evelyn semakin takut pada perasaannya. Ia takut perasaan nya pada Noah semakin tak terkendali dan tak bisa berpaling dari pria itu. Apakah pantas jika ia kembali berharap pada Noah?
__ADS_1
Evelyn khawatir jika ia masuk semakin dalam pada kehidupan Cilla akan membuatnya semakin sulit lepas dari bayang-bayang Noah, karena Cilla dan Noah adalah satu kesatuan. Tapi bersikap cuek dan masa bodoh pada tangisan Cilla sama sekali tak bisa ia lakukan. Hatinya dan hati Cilla seolah telah terikat sebuah tali tak kasat mata.
Mungkinkah karena permintaan Syahira dulu? Evelyn tersentak kala kembali mengingat bagaimana Syahira mengiba memintanya untuk tinggal dan merawat anak dalam kandungannya. Mungkinkah Syahira sudah bisa merasakan bahwa kebersamaan nya dengan Cilla tak akan lama?
"Kenapa kak Syahira harus pergi ? kenapa takdir seolah sengaja membawaku kembali pada keadaan ini? apa hukuman atas kesalahanku dulu belum usai hingga aku harus kembali pada keadaan yang membuat perasaanku kembali rumit?"
Tangan Evelyn refleks mengusap lembut punggung Cilla saat ia sedikit menggeliat. Sudut bibir Evelyn terangkat menatap gadis mungil yang kembali terlelap itu, pipi montok berwarna kemerahan milik Cilla begitu menggemaskan.
"Kamu cantik, seperti mama kamu. Semoga kamu tumbuh menjadi anak baik dan menyenangkan seperti mama Syahira" Bisik Evelyn sambil mendaratkan kecupan di kening Cilla.
Ada kebahagiaan yang tak Evelyn mengerti saat memeluk Cilla. Ada kehangatan yang menyusupi hatinya ketika memandangi sosok mungil itu. Naluri keibuannya seolah tumbuh saat berada di dekat Cilla terlebih melihat reaksi Cilla yang seakan begitu membutuhkannya. Salah kah perasaan ini?
****
Sorry update nya lama, sedang ada kesibukan di dunia nyata ditambah mood menulis lagi terjun bebas. Lagi nggak semangat juga buat ngehalu akhirnya part ini terkesan agak maksa n nggak ada feel nya. 😀😀
Jadi harap maklum untuk beberapa waktu ke depan akan hiatus sejenak untuk menyelesaikan urusan di real life serta membangun kembali imajinasi yang sedang berserakan.
Terimakasih untuk yang mau bersabar dan tetap setia menunggu 🥰🥰😘😘 yang memilih untuk kabur dan menghapus dari favorit atau rak buku dengan sedih hati aku persilahkan...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
See U