Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Tujuh Belas


__ADS_3

Evelyn berjalan sambil menoleh kanan kiri, tampak sekali gadis itu kehilangan fokusnya. Ia seperti tengah mencari seseorang. Tentu saja ia mencari keberadaan Noah. Sudah satu bulan berlalu ia tak pernah lagi melihat pria itu. Bahkan Eve sengaja datang ke gedung kampus tempat di mana Noah biasanya berada namun ia tak melihat keberadaan pria itu.


Sebuah tepukan di pundaknya mengalihkan perhatian gadis itu, Darrel dan Aira menyeringai mendapati wajah kaget Evelyn.


"Nyapa baik-baik bisa kali nggak usah pake ngagetin segala" Gerutu Evelyn dengan wajah masam.


"Lagian dari tadi celingak celinguk kayak nyari receh. Kamu nyariin siapa?" Aira menatap Eve dengan penuh selidik.


"Nyariin kalian lah siapa lagi" Ucap Evelyn gugup. Ia tidak ingin sahabatnya tau bahwa ia sedang mencari Noah. Tidak dipungkiri sejak tak lagi melihat Noah gadis itu merasa ada yang hilang dari hatinya.


Hampir setiap malam Eve terbangun dan mengecek ponselnya, siapa tau Noah menghubunginya, namun 30 hari berlalu Noah seperti hilang di telan bumi.


Tak jarang juga Evelyn tanpa sadar mengetikkan pesan yang menjadi kebiasaanya saat baru pulang atau akan pergi bersama teman-temannya. Namun saat akan menekan tombol kirim gadis itu akan tersenyum getir menyadari bahwa hubungan mereka sudah berakhir dan ia tak perlu lagi membuat laporan apapun tentang kegiatan nya pada Noah.


Evelyn tidak mengerti kenapa semakin hari bukan nya semakin lupa pada Noah malah kilasan kenangannya bersama pria itu seperti berlomba mengerubungi fikirannya. Otaknya seakan tak menbiarkan dirinya menghilangkan bayangan Noah meski hubungan mereka telah berakhir.


Terlebih saat ia kehilangan jejak Noah hatinya kian gusar, ia bahkan telah membanting harga dirinya dengan mencoba menelfon pria itu, namun ia harus menelan kekecewaan saat mendengar jawaban operator yang menandakan nomor Noah tidak aktif. Namun Evelyn mencoba mengingkari hatinya saat ia sampai pada pertanyaan apakah ia menyesal telah menyia-nyiakan Noah? Evelyn meyakinkan hatinya bahwa ia hanya merasa kehilangan karena tak lagi melakukan kebiasaan saat bersama Noah, tidak lebih.


"Malah ngelamun heii" Darrel mengibaskan tangan nya di wajah Eve untuk menyadarkan gadis itu.


"Siapa yang ngelamun?" Ucap Eve pura-pura sewot. Aira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Rel bisa tinggalin aku sama Eve nggak? aku mau ngobrol bentar sama dia. Biasa masalah cewek" Eve menatap heran pada Aira. Ia nampak menebak-nebak apa yang akan sahabatnya itu bahas.


"Oke kalau gitu aku duluan ya. Kebetulan pacar aku uda minta di jemput"


"Cie yang uda punya pacar" Goda Evelyn dan Aira, Darrel hanya tersenyum cuek kemudian melangkah meninggalkan dua sahabatnya. Darrel baru saja jadian 2 minggu yang lalu dengan gadis dari fakultas kedokteran. Sementara Mona juga satu bulan yang lalu baru jadian dengan cowok dari fakultas teknik. Karena itu mereka jarang berkumpul sekarang.

__ADS_1


Evelyn tersenyum miris, para sahabatnya malah memiliki pasangan di saat dirinya sedang sendiri. Bahkan mereka jarang berkumpul sekarang karena mereka sibuk dengan pasangan masing-masing. Hal itu menyadarkan Evelyn bahwa ia terlalu naif selama ini. Nyatanya tidak ada yang seperti dirinya mengorbankan cintanya untuk sahabat, sementara para sahabatnya kini lebih memprioritaskan pasangan masing-masing. Jika Evelyn membatalkan janji dengan pacarnya karena ajakan teman-temannya, Mereka justeru membatalkan janji karena harus menemani pacar mereka.


"Ampun ngelamun lagi" Aira yang berkali-kali didiamkan Evelyn menggerutu sebal. Evelyn terkekeh dan mencubit pipi Aira. Setidaknya ia masih memiliki Aira dan Marcell yang masih selalu menemani dirinya.


"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Evelyn saat Aira mengajaknya duduk di bangku taman kampus.


"Kamun nyariin Noah?"


Evelyn salah tingkah mendengar pertanyaan Aira. Sebenarnya dibanding yang lain Evelyn paling tidak ingin Aira tau perasaan yang mulai mendera nya akhir-akhir ini. Karena Evelyn sering mengabaikan nasehat-nasehat Aira tentang Noah selama ini, ia malu harus mengakui pada Aira bahwa ia mulai merasa kehilangan.


"Ngaku aja nggak usah bohong, Kalo kamu jujur aku kasih tau sesuatu tentang Noah" Evelyn yang sebelumnya menunduk menatap cepat ke arah Aira.


"Kamu tau Noah di mana?"


Gadis itu terlihat bersemangat, matanya berbinar cerah. Ia tak bisa menutupi rasa penasarannya tentang Noah.


Sebenarnya Aira sengaja belum memberikan titipan Noah. Awalnya Aira ingin langsung memberikan itu pada Eve satu hari setelah Noah menemuinya. Namun Aira kembali berfikir dan memutuskan untuk memberikan sedikit pelajaran pada Evelyn yang begitu keras kepala.


"Kira-kira sebulan yang lalu, saat terakhir kali kita lihat Noah di kampus ini. Sorenya Noah datang ke rumah aku" Aira kembali melihat ke arah Eve untuk melihat respon Evelyn.


"Terus?" Tampak sekali Evelyn tidak sabar ingin segera mendengar cerita tentang Noah.


"Dia nitip ini" Aira mengeluarkan kotak biru dari dalam tasnya. Setiap hari Aira memang selalu membawa kotak biru itu, agar saat nya tepat ia bisa langsung menyerahkan nya pada Evelyn.


"Apa ini Ra?"


Eve menerima kotak itu dengan kening berkerut, menandakan kebingungan nya.

__ADS_1


"Aku nggak tau, jawaban tentang Noah ada di kotak ini. Tapi sebaiknya kamu bukanya di rumah aja. Aku nggak mau kamu nangis atau berteriak histeris di sini"


Ucap Aira menggoda Evelyn.


"Ya udah aku pulang sekarang" Tanpa banyak bicara Evelyn langsung bergegas pergi, tak peduli suara Aira yang terus memanggilnya. Ia ingin segera tiba di rumah dan membuka kotak biru pemberian Noah.


****


Evelyn mengunci pintu kamarnya, entah kenapa jantungnya berdetak cepat saat melihat kotak biru di tangannya.


Evelyn duduk di ranjang dan meletakkan kotak biru di hadapannya. Dengan tangan bergetar Evelyn membuka kotak biru itu, Matanya menangkap sebuah jam tangan cantik dengan rantai berwarna silver.


Evelyn meraih jam tangan itu dan tersenyum, Noah sangat mengerti seleranya. Ia meletakkan jam itu kembali dan meraih kertas yang berada di dalam kotak. Evelyn menghembuskan nafasnya, ia berusaha menenangkan hatinya atas pesan yang akan ia terima.


Dear Evelyn


Saat surat ini telah berada di genggaman kamu artinya aku sudah berada jauh dari kota ini.


Baru awal membaca hati Evelyn terasa diremas. "Noah pergi?"


Bulir air mata luruh begitu saja tanpa bisa Evelyn tahan. Tangannya bergetar memegang surat Noah. Meski berat ia memutuskan kembali membaca surat dari Noah.


Eve aku sungguh menyesal telah mengambil waktu berharga milik kamu, aku tak tau harus melakukan apa untuk menebus kesalahan ku mengikat kebebasan kamu. Aku telah merampas kebahagiaan kamu selama 4 tahun. Dan bodohnya aku meng atas namakan cinta untuk semua perbuatan ku yang mengakibatkan penderitaan untuk mu. Maaf Eve. Semoga setelah kepergian ku kamu bisa hidup dengan bahagia. Kamu bisa mengepakkan sayap mu dengan bebas. Maaf kan aku Eve.


Jaga diri, aku pergi.


By Noah

__ADS_1


__ADS_2