Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Dua Belas


__ADS_3

"Kak aku nggak bisa, Aira minta ditemenin nyari baju buat ke pesta keluarga pacarnya"


Ucap Evelyn saat Noah berniat mengajaknya berkencan hari minggu besok. sudah dua minggu ini Evelyn selalu menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ia bertemu Noah hanya saat pria itu menjemputnya untuk berangkat ke kampus dan sesekali mengantar nya pulang.


"Ya ampun yang, uda 2 minggu loh kita nggak pernah jalan. Pulang dari kampus aja kamu banyak nolak ajakan kakak. Sekarang lebih penting teman kamu dari pada kakak?"


Evelyn menghela nafas, berusaha menahan rasa kesal yang menyelimuti hatinya.


"Kak baru 2 minggu, sementara kita uda hampir 4 tahun sama-sama terus" Evelyn masih berusaha untuk berkata lembut. tak ingin semakin mengecewakan Noah.


"Kamu nggak kangen kakak yang?" Noah masih berusaha membujuk Evelyn


"Kita masih ketemu tiap hari, walaupun gak jalan bareng Video call hampir tiap saat. Udah dong kak, kakak uda janji nggak akan larang-larang aku"


Hati Noah berdenyut, Evelyn semakin berubah. Keduanya semakin jauh, Evelyn yang lembut dan penurut telah berubah. Noah sadar ia belum sepenuhnya berhak mengatur Evelyn.


"Ya udah kalau gitu yang. Kamu pergi aja sama Aira" Noah berusaha menekan rasa kecewanya. Ia tak ingin Evelyn malah kembali berfikir untuk bebas darinya jika ia terus melarang Eve.


"Makasih kakak mau ngertiin aku"


"Sekarang aja jalan nya ya?"


Usul Noah akhirnya. Evelyn tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab.


"Aku capek banget kak, rencana mau langsung tidur. Boleh ya?"


Lagi-lagi Evelyn menolak dan Noah mau tidak mau hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ya uda kalau gitu"


Ucap Noah sambil menghela nafas kecewa. lebih kecewa lagi saat Eve tampak tak peduli.


Setibanya mengantar Evelyn, Noah langsung melajukan mobilnya menuju rumah.

__ADS_1


Noah memilih fokus mengerjakan skripsinya. Dengan begitu ia bisa cepat wisuda dan menikahi Evelyn. Agar ia bisa memilik Eve untuk dirinya sendiri secara utuh.


Membayangkan hari-hari bersama Evelyn nantinya menyulut semangat dalam dada Noah. Ia harus bisa menahan perasaan nya untuk saat ini.


"Antar mama bentar yuk?" Sang mama yang entah sejak kapan masuk ke kamarnya merengek manja pada Noah. Yah memang terkadang sang mama bersikap begitu manja pada Noah, dan itu terasa menyenangkan karena Noah merasa begitu dibutuhkan dan mampu melindungi sang mama.


"Mama mau ke mana?"


Noah menyimpan file yang sedang ia kerjakan kemudian menutup laptopnya untuk berbicara pada mamanya.


"Ambil pesanan di butik. Malam ini mama mau ke pesta nya teman mama"


Noah bisa saja menolak karena ada sopir yang bisa setiap saat mengantar mamanya, bahkan sang mama terbiasa membawa mobil sendiri. Namun itu tak kan pernah terjadi, menolak permintaan mamanya tak sekalipun terjadi, karena bagi Noah selagi sang mama masih ada ia akan berbakti secara penuh. Ia akan berusaha sebisa mungkin untuk selalu memenuhi keinginan mamanya.


"Noah mandi dulu boleh ma? atau mama buru-buru harus sekarang?" Noah merasa tubuhnya begitu lengket.


"Boleh mandi aja dulu. Mama tunggu di bawah ya"


Sebuah kecupan mendarat di pipi Noah sebelum akhirnya wanita berumur setengah abad namun masih terlihat muda dan cantik itu berlalu meninggalkan kamar Noah.


Sepasang ibu dan anak itu berjalan menyusuri pusat perbelanjaan. Tujuan mereka adalah butik langganan sang mama.


Samar-samar mata Noah seakan menangkap sosok kekasihnya, namun terhalang pengunjung yang cukup ramai.


"Ma, Noah ke toilet bentar ya? nanti Noah nyusul ke butik nya. Kalo kelamaan mama telfon Noah aja nanti"


dengan sangat menyesal Noah harus membohongi mamanya. Ini demi kesehatan hatinya. Ia tidak ingin dilanda gundah yang membuatnya malah tidak fokus.


Ia juga tidak ingin berfikiran buruk pada Eve, ia harus membuktikan bahwa matanya salah melihat.


"Iya sayang, sana buruan"


Mama Noah mulai berjalan meninggalkan Noah, butik yang ia tuju tinggal beberapa langkah lagi.

__ADS_1


Noah mengedarkan pandangannya, ia berlari ke arah di mana ia terakhir kali melihat Evelyn.


Setelah tak menemukan kekasihnya Noah memutuskan untuk menelfon Evelyn, namun hingga dering terakhir Evelyn tak mengangkat panggilan darinya.


Dada Noah terasa sesak, Evelyn sudah benar-benar tidak memprioritaskan dirinya lagi.


Noah meremas rambutnya dan mendongak ke atas. Ia berusaha menekan emosi yang memenuhi hatinya.


Matanya kembali menangkap sosok Evelyn di tengah tangga eskalator. kali ini ia yakin tidak salah melihat karena ia juga dapat melihat dengan jelas ada Aira, Mona dan kemarahan Noah semakin memuncak saat mendapati Darrel juga berada di sana.


Dengan cepat Noah berlari menapaki tangga eskalator yang sedang berjalan. Ia tidak ingin kehilangan jejak Evelyn lagi.


Setelah mencapai tangga teratas Ia mengikuti arah langkah Evelyn dan teman-temannya. jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, Noah bisa mendengar tawa bahagia Evelyn. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Noah yang begitu sakit mendapati kebohongan Eve.


"Jadi tempat istirahat sekarang uda pindah ke sini ya" Ucap Noah berusaha santai, Tampak Evelyn dan yang lainnya menoleh cepat ke arah Eve.


"Kakak di sini?"


Wajah Evelyn tampak pucat. Ia menyadari dirinya telah membohongi Noah.


"Iya, tadi mama minta antar ke butik langganannya. Kakak nggak sengaja lihat kamu. Kakak cuma mau mastiin kalo mata kakak nggak salah lihat. Ternyata emang beneran kamu" Noah mati-matian menahan emosinya. Ia tetap berucap lembut dan penuh senyum. Ia tidak ingin mempermalukan diri sendiri juga Evelyn dengan marah-marah di depan umum


Evelyn tampak salah tingkah, bagaimana pun ia bersalah saat ini. Ia menolak ajakan Noah dengan alasan capek dan ingin istirahat sementara dirinya malah jalan bareng teman-temannya.


"Kalau gitu kamu lanjut aja ya, maaf ganggu waktu kalian. Kakak balik ke mama dulu"


Noah mengusap rambut Eve dengan sayang, ia juga melempar senyum pada teman-teman Evelyn. Ada tatapan bersalah dari Aira namun Noah menangkap tatapan sinis dari Darrel dan Mona. dan ada satu laki-laki yang tak Noah kenali hanya menatap cuek padanya.


"Kak nggak gitu"


Belum selesai bicara, ucapan Evelyn di potong Mona.


"Filmnya uda mau mulai Ve. Ayok buruan" terlihat sekali mimik wajah kesal dari Mona.

__ADS_1


Noah mengangguk pada Eve kemudian berlalu meninggalkan kekasihnya. Noah tidak menyangka Evelyn sama sekali tidak mengejarnya. Ia tersenyum miris, sebelumnya ia berharap Evelyn akan mengejar dan memilih untuk pulang bersamanya. Pria itu semakin menyadari dunia Eve saat ini tengah dipenuhi teman-temannya. Eve bukan lagi milik Noah sepenuhnya.


Noah menggelengkan kepalanya saat fikiran negatif mulai menghampiri otaknya. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Selagi masih bisa ia akan terus memperjuangkan Evelyn. Membawa gadis itu kembali seperti sebelumnya.


__ADS_2