Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Enam Puluh Dua


__ADS_3

"Jadi apa yang aku nggak tau? mau menceritakan sesuatu?" Pancing Evelyn saat ia dan Aira tinggal berdua. Darrel dan Noah memisahkan diri karena Eve ingin memanfaatkan pertemuan singkat mereka untuk menuntaskan rasa penasaran nya. Karena itu ia meminta izin pada Noah untuk mengajak Aira ke hotel mereka. Sementara Darrel dan Noah entah ke mana setelah mengantarkan Evelyn dan Aira.


"Nggak ada apa-apa Ve, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud" Aira masih berusaha mengelak.


"Ternyata kamu tidak menganggap aku sahabatmu seperti aku terhadap kamu ya Ra? Aku sering kali berkeluh kesah untuk setiap permasalahan aku sama kamu, tapi kamu tidak menaruh kepercayaan yang sama" Evelyn tampang murung.


"Bukan seperti itu Eve, aku hanya belum siap untuk cerita." Aira menghembuskan nafasnya perlahan. Ia merasa bersalah ketika Evelyn merasa seperti itu.


"Aku nggak berani cerita karena ini sama saja membuka aib Ve. Aku malu" Ucap Aira akhirnya. Evelyn nampak berfikir sejenak kemudian tersenyum pada Aira.


"Tidak apa-apa Ra, tidak usah diceritakan kalau begitu. Aku menghargai keputusanmu lupakan perkataan aku sebelumnya ya Ra" Jujur Eve merasa bersalah atas ucapan nya, tak seharusnya ia memaksa Aira untuk bercerita apalagi jika hal itu akan mengganggu kenyamanan sahabatnya.


"Sebenarnya aku butuh pendapat kamu juga Eve." Aira mulai ragu, ia tak mungkin meminta saran tanpa bercerita. Satu bulan ini ia merasa gelisah menyimpan permasalahan yang terjadi dengan tidak sengaja antara ia dan Darrel.


" Ve sebenarnya aku dan Darrel..."


Flashback on


Hari di mana Aira dan Darrel mengunjungi Evelyn dan berujung dengan menyaksikan momen bersatunya Evelyn dan Noah, Darrel dan Aira memutuskan untuk mencari penginapan.


Selama ini, persahabatan Aira dan Darrel masih terjalin dengan baik. Sejak Aira putus dari Marcell karena pria itu dijodohkan oleh orang tuanya dan Mona entah ke mana tak tau lagi rimba nya serta Evelyn yang pindah kota. Meski hanya tersisah mereka berdua namun komunikasi mereka tetap berjalan lancar. Mereka masih sering bertemu bahkan Aira beberapa kali jalan bersama dengan Tara kekasih Darrel.


Tanpa Aira sadari benih cinta mulai tumbuh di hatinya terhadap Darrel karena kepedulian, perhatian dan kebaikan hati pria itu terhadap dirinya. Tentu saja bukan hal yang aneh jika Darrel bersikap demikian mengingat mereka telah bersahabat cukup lama. Karena itu Aira terus menepis perasaan nya, ia menyimpan perasaan nya sebaik mungkin agar Darrel tidak mengetahui nya atau persahabatan mereka akan renggang. Bahkan ia tak menceritakan nya pada Evelyn agar rahasia hatinya tetap terjaga.


Malam itu selepas mereka memasuki kamar mereka masing-masing, Aira tidak tahu berapa lama ia tertidur. Sampai sebuah ketukan yang cukup kuat membuatnya terjaga. Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya Aira membuka pintu kamar penginapan nya, keningnya berkerut melihat Darrel yang terlihat kusut, matanya memancarkan luka yang mendalam.

__ADS_1


"Rel? Kamu baik-baik aja kan?"


Darrel tak menjawab. Ia menatap pada Aira


"Aku boleh masuk?" Tanya Darrel lirih


Aira menggeser tubuhnya, mempersilahkan sahabatnya untuk masuk.


Darrel melangkah dengan lesu menuju ranjang Aira.


"Aku tidak tau apa salahku Ra, aku sudah berusaha menjadi kekasih yang baik untuk Tara. Aku selalu menuruti keinginan nya. Tapi kenapa dia tega melakukan ini" Ada kepiluan yang Aira tangkap dari nada bicara Darrel, melihat kesakitan yang tampak pada diri Darrel membuat Aira ikut merasa sesak.


"Tara kenapa Rel?" Aira memberanikan diri untuk bertanya. Ia mendekati Darrel.


"Mungkin ini hanya editan Rel, jangan terpancing" Meski ia sendiri ragu namun tetap saja ia mencoba berprasangka baik.


"Aku sudah menyuruh asistenku mengecek keasliannya Ra. Sayangnya semua itu asli tanpa editan" Darrel tampak frustasi, rasa marah dan kecewa memenuhi jiwanya.


"Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya Ra, tapi kenapa dia bisa melakukan ini. Padahal bulan depan aku berencana untuk melamar nya" Tidak hanya Darrel yang merasa hancur nyatanya mendengar Darrel yang berniat melamar Tara mematahkan hati Aira. Ia tak pernah merasa kan patah hati sehebat ini bahkan disaat Marcell meninggalkan nya Aira bisa menata hatinya dengan baik.


"Sabar Rel, semua bisa dibicarakan baik-baik. Mungkin Tara khilaf" Ucap Aira berusaha membalut luka hati Darrel meski hatinya sendiri terluka parah.


"Meskipun aku mencintainya, aku tidak bisa menerima ini semua Ra, aku bisa memafkan nya tapi untuk tetap bersamanya aku tidak sudi. Bahkan meski sudah menjalin hubungan yang cukup lama, sekalipun aku tak pernah menyentuhnya melampaui batas yang seharusnya" Ucap Darrel dengan menahan amarah. Matanya memancarkan luka dan kekecewaan yang mendalam.


Aira diam, tak mencoba untuk berbicara lagi. Ia merasa tak berhak untuk ikut terlalu jauh dalam pusaran permasalahan Darrel dan kekasihnya.

__ADS_1


Darrel berjalan ke arah pintu setelah mendengar bel yang berbunyi. Aira menoleh dan melihat pelayan hotel membawakan 3 botol minuman dan meletakkan di meja ruangan itu.


"Rel kamu mau minum?" Tanya Aira saat pelayan hotel telah meninggalkan kamar nya.


"Iya, temani aku Ra. Aku kalut, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Sungguh ini begitu menyakitkan"


Aira tak bisa berkata apapun selain mengangguk. Ia tak pernah melihat Darrel sekacau ini sebelumnya, lagi-lagi Aira merasakan hujaman tajam di hatinya. Betapa Darrel sangat mencintai Tara.


Aira hanya menatap tanpa suara saat Darrel mulai menenggak minuman beralkohol itu. Hingga 30 menit berlalu Aira melihat Darrel mulai kehilangan kesadaran nya. Karena itu Aira segera menarik botol minum yang dipegang Darrel saat pria itu akan kembali menuangkannya ke dalam gelas.


"Apa harus seperti ini Rel? Apa Tara lebih berharga dari pada dirimu sendiri hingga kamu harus menyiksa tubuhmu sampai begini?" Air mata menyusuri pipi Aira, ia merasa sedih sekaligus kecewa dan cemburu yang diam-diam ikut mengusik.


"Rasa sakit ini begitu sulit aku kendalikan Ra, aku tidak menyangka Tara sebejat itu, aku tertipu wajah polosnya" Darrel memegangi wajah Aira dengan tangannya yang bergetar. Ia menghapus perlahan air mata di pipi sahabatnya.


"Apa aku seburuk itu hingga dia melakukan nya dengan orang lain Ra? ah Tara brengs*k" Darrel mulai meracau.


"Aku tidak pernah melakukan hal sejauh itu pada Tara, aku hanya melakukan sebatas ini" Darrel tiba-tiba meraih tengkuk Aira dan membenamkan ciuman di bibir gadis itu. Mata Aira membeliak tak menyangka Darrel akan melakukan hal ini, seluruh tubuhnya bergetar sarafnya seakan melemah hingga tak mampu melepaskan diri dari kungkungan Darrel. Perasaan nya yang mati-matian ia simpan nyatanya muncul kepermukaan.


Wajahnya terasa panas saat Darrel melepaskan bibirnya dan menatap dalam padanya. Tatapan sayu Darrel berubah penuh damba padanya. Hingga sebuah bisikan tiba-tiba melumpuhkan nalar gadis itu.


"Aira bolehkah?" Tatapan penuh harap dari mata Darrel membuat Aira tak berdaya, ia hanya diam bahkan ia pasrah saat Darrel mulai menyentuh nya lebih jauh. Nalarnya luluh lantak akan gulungan perasaan yang menuntut balas. Hingga terjadilah apa yang tidak seharusnya terjadi antara dua orang yang terhubung dalam ikatan yang bernama persahabatan.


****


Diselipin Cerita Aira dan Darrel dikit ya, biar agak panjang ini novelnya.😂😂😂 Kan Noah dan Eve udah bahagia, sebagai selingan kita kasih cerita Darrel dan Aira. Tapi janji nggak panjang-panjang kok guys 😍🥰

__ADS_1


__ADS_2