
Evelyn masih termenung di bangku taman kota, masih ada isakan-isakan kecil yang tersisah.
Hati Eve masih terus bertanya kenapa tak sekalipun ia dipertemukan dengan Noah padahal ia berada di kota yang sama dengan pria itu. Kenapa baru ada titik terang disaat ia sudah tak mungkin meraih Noah.
Mungkin ia terlalu buruk untuk Noah hingga takdir tak bersedia membuka sekecil apapun kesempatan bagi Eve untuk menebus kesalahannya.
Entah masih bisakah ia menjalani hidup setelah kehilangan harapan, Selama ini ia bertahan karena harapan bahwa suatu saat ia akan dipertemukan kembali.
Ponsel Evelyn berdering, ada nama Aira yang tertera. Sahabat nya itu seolah mengerti bahwa sedang terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Iya Aira"
Ucap Eve saat telfon nya sudah tersambung.
"Kenapa nangis?" Yah Aira sepeka itu, Ia sudah bisa langsung menebak bahwa Eve sedang tidak baik-baik saja.
"Aku ketemu bokap nyokap nya Noah"
Percuma untuk ditutupi, kenyataan nya ia juga butuh teman berbagi gundah.
"Di mana? kok bisa?" Aira terdengar antusias. Walaupun terpisah jarak komunikasinya dengan Aira masih terjalin baik, begitupun dengan Darrel. Hanya saja dengan Mona Eve jarang sekali bertukar kabar.
"Ternyata kak Noah pindah ke sini dua tahun yang lalu, tapi aku nggak pernah ketemu sama dia. Yah wajar sich dunia kita berbeda, tadi mereka makan di restoran tempat aku bekerja. Mereka cerita kak Noah uda menikah dan sedang honeymoon sekarang" Suara Eve bergetar, ia kembali menangis.
"Hah yang bener Noah uda nikah?"
__ADS_1
Aira ikut shock mendengar kabar itu, ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Eve saat ini. Ia sangat tahu betapa besar penyesalan Evelyn saat Noah memutuskan pergi.
"Iya Ra, dia uda lupain aku. Dia uda menemukan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Dia menikah seminggu yang lalu"
Aira terdiam, Ia kehilangan kata-kata untuk menenangkan Evelyn. Andai sekarang berada di dekat gadis itu, ia akan memberikan pundaknya untuk tempat bersandar bagi Eve yang tengah rapuh.
"Belajar lupain dia ya Ve, Jangan merasa bersalah lagi." kalimat yang terdengar kejam namun tak ada lagi yang bisa Eve lakukan selain melupakan, atau ia akan terus tersakiti akibat dalam nya penyesalan yang mendiami hati nya.
"Yah, uda nggak ada alasan lagi buat aku mengharapkan dia Ra. Sekarang aku harus belajar untuk membunuh perasaan cinta aku ke dia, berharap semesta masih mau berbaik hati menghapus sesal di hati aku. Setidaknya Noah sudah sembuh dari patah hatinya, mungkin terus mendoakan kebahagiaan nya cukup untuk penebusan atas semua salah aku"
Tak terasa air mata itu kembali banyak menyusuri pipi Evelyn, hati nya semakin perih. Samar-samar Evelyn mendengar isakan kecil di seberang sana.
"Ra kamu nangis?"
"Aku nggak tega denger kamu ngomong itu, meski awalnya kamu salah tapu dua tahun ini kamu uda banyak menderita. Aku berharap Noah bisa kembali untuk menghapus sedih kamu. Tapi malah kabar ini yang kita dapat. Maafin aku yang nggak ada di samping kamu sekarang Ve" Tangis Aira akhirnya pecah, tak lagi menutupi seperti sebelumnya.
"Kalo libur nanti aku ajak Marcell buat ngunjungin kamu Ve." Aira masih sedikit terisak.
"Iya Ra, aku tunggu ya aku kangen banget sama kamu" Eve menyunggingkan senyum di bibirnya. Meski belum sepenuhnya namun hatinya sudah lebih tenang sekarang.
***
Nyatanya menjalani tak semudah mengucapkan,meski Eve terus menyatakan dirinya kuat namun semua terasa berat, saat sendiri Eve masih sering menangis jika mengingat Noah yang sudah tak mungkin lagi ia miliki. Lima bulan sudah berlalu namun rasa sakit masih terus menyiksa hatinya. Ia masih ditemani luka melewati hari-harinya.
Hanya senyum mamanya yang memberikan sedikit semangat untuknya, ia harus terus terlihat bahagia demi mamanya.
__ADS_1
"Ve layani tamu di ruang VIP no 3 ya. Dia bukan orang sembarangan jadi harus kamu layani dengan baik"
Ucap manajer restoran pada Eve yang baru selesai mengantar pesanan pelanggan.
"Iya pak" Meski letih Eve terus bersemangat menuju ruang yang manajer nya sebutkan. Hanya saat bekerja ia bisa melupakan sejenak tentang Noah yang masih bertahta dengan kokoh di hatinya. Katakan lah ia tak tau diri namun ia tak berdaya untuk menghilangkan perasaan itu. Evelyn pun lelah hingga ia pasrah tak lagi memaksa hatinya untuk melupakan.
Evelyn bersama satu pelayan pria terus melangkah bersama menuju ruangan. Namun entah kenapa Eve merasa ada yang tidak beres dengan hatinya, jantung nya berdetak dengan cepat. Melayani tamu VIP bukan hal yang baru baginya jadi tidak mungkin karena itu ia merasa gugup saat ini.
"Kenapa Ve?" Temannya seperti menyadari kegelisahan rekan nya. Eve menoleh dan melemparkan senyumnya sambil menggeleng.
"Nggak apa-apa ded, cuma gugup takut salah melayani, kan tamu VIP jadi gugup"
Pelayan pria yang bernama Dedi itu tersenyum memberikan semangat pada Eve
"Tenang aja, mereka manusia biasa seperti kita kok. Jadi nggak usah takut. Semangat Eve" Dedi mengangkat tangan nya ke atas, Eve sedikit terkekeh dan mengikuti Dedi mengangkat tangan sambil berucap "Semangat!" Keduanya tertawa bersama, lumayan berhasil sedikit menenangkan Evelyn.
Mereka tiba di ruangan yang dituju, Dedi membukakan pintu dan Eve yang masuk duluan.
Tubuh Eve terasa lemas, Ia kini mengerti apa yang membuat hatinya tak menentu. Matanya menangkap sosok yang terus menghantui hari-harinya selama ini, sosok yang menjadi alasan Evelyn menangis setiap malam dalam sepi, sosok yang telah meninggalkan nya dengan segunung penyesalan di hati Eve.
Pria itu kini juga tengah menatap ke arah Eve, ada raut terkejut di wajah itu namun secepat kilat ia terlihat biasa kembali.
Meski sudah ingin menangis namun Eve harus profesional kali ini. Cukup 5 bulan yang lalu ia di potong gaji karena seenaknya pulang tanpa pamit saat ia bertemu orang tua Noah.
Ia harus menunjukkan pada Noah bahwa ia bahagia untuk kebahagiaan pria itu.
__ADS_1
Perlahan ia melangkah mendekat meski tubuhnya bergetar. Entah seperti apa wajahnya sekarang, namun ia terus memerintahkan hatinya untuk tabah dan kuat. Terlebih saat melihat wanita yang begitu cantik duduk berhadapan dengan tangan yang bertaut dengan Noah. Terpancar cinta yang tulus dari wanita berparas anggun itu untuk pria nya. Eve yakin wanita itu tidak akan pernah menyakiti Noah seperti apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Semoga ia tidak salah menilai.