
Evelyn segera menuju kamar mandi setelah berhasil lepas dari belitan tangan suaminya yang memeluk begitu erat. Ia sudah tidak bisa menahan untuk memenuhi panggilan alam.
Setiba di kamar mandi ia menurunkan celananya, seketika matanya terbelalak saat mendapati noda merah di ****** *****. Hasrat buang air kecilnya menghilang begitu saja. Tubuhnya terasa lemas dengan hantaman kecewa yang begitu dalam.
Ia terlalu berharap akan kehadiran sosok mungil di rahimnya, karena itu saat menyadari dirinya mendapatkan siklus bulanan membuat ia merasakan sakit yang menghujam di dalam hatinya.
Eve tak bisa menahan butiran air mata yang mengalir dengan deras menyusuri pipi. Ia meremas dadanya yang terasa sesak saat bayangan kekecewaan di mata suami dan mertuanya berlomba memenuhi benaknya.
Hampir satu jam menangisi kenyataan yang tak berpihak padanya akhirnya Evelyn keluar setelah membersihkan dirinya. Evelyn memalingkan wajahnya saat melihat senyum manis di bibir suaminya yang menunggunya sambil bersandar pada ranjang.
"Ngapain aja di dalam? kenapa lama?" Suara berat itu menyapa telinga Eve. Sungguh ia belum berani untuk bertemu Noah, ia tak sanggup melihat kekecewaan yang tergambar di mata pria itu nantinya. Hal itu malah membuat ia tak mampu menahan tangisnya.
Noah tampak kaget melihat Evelyn yang menundukkan kepalanya dengan bahu yang berguncang. Dengan panik ia segera menghampiri Eve yang masih memakai bathrobe.
"Sayang kenapa menangis? masih marah soal semalam?" Noah berusaha meraih wajah Eve, tangisnya malah semakin kencang.
"Sayang aku minta maaf, aku benar-benar tidak bermaksud menyinggung mu. Sedikitpun aku tidak pernah mencurigai mu dengan Satria" Noah menghujamkan tatapan dalam ke mata Eve. Berharap istrinya bisa merasakan penyesalan nya.
"A-aku yang minta maaf sama kamu mas. Aku mengecewakan kamu" Ucap Evelyn terbata di sela isak tangis nya yang belum mereda.
"Maksud kamu apa sayang? kamu tidak pernah mengecewakan aku" Noah menghapus air mata yang tak henti mengalir.
"Aku istri yang tidak berguna, sangat mengecewakan" Yah Evelyn merasa sangat bersalah. Sudah jelas ia yang bermasalah, mengingat Noah sudah membuktikan bahwa dirinya sehat dengan hadirnya Cilla pada pernikahan nya dengan Syahira.
"Apa maksudmu sayang, ada apa dengan mu. Jangan membuat aku bingung seperti ini" Noah begitu gusar. Rasa khawatir memenuhi hatinya.
__ADS_1
"Maaf, aku datang bulan" Ucap Evelyn lirih, ia kembali menangis. Noah yang sebelumnya dilanda kekhawatiran melihat kondisi istrinya yang begitu kacau menghela nafas lega setelah mengetahui sebab dari kesedihan wanita itu.
"Aku kira ada apa" Ucap Noah dengan senyum lebar. Ia merengkuh tubuh Evelyn dan mengusap punggung nya. tak henti ciuman ia hujamkan ke puncak kepala wanita itu.
"Memangnya kenapa kalau datang bulan? bukankah itu memang kodrat dari seorang wanita? kenapa bersedih hem?" Tanya Noah sambil meraih dagu Eve agar menatap padanya setelah ia melepaskan lingkaran tangan nya di tubuh Eve.
"Itu artinya aku belum hamil mas, aku membuat kamu, mama, papa dan Cilla kecewa karena belum bisa mengahdirkan anak, cucu serta adik untuk kalian" Ucap Eve dengan suara bergetar. Ia ingin menghentikan tangisnya namun terasa begitu sulit.
"Sayang lihat aku" Ucap Noah lembut, Eve memberanikan diri menatap pada suaminya.
"Apa aku terlihat kecewa? Kita menikah sudah berapa lama memang nya? baru satu bulan kan?" Evelyn menatap mata Noah yang masih menampakkan binar cinta yang begitu besar padanya.
"Tapi aku sangat mengecewakan, aku belum bisa memenuhi harapan banyak orang"
Air mata Eve sudah berhenti mengalir namun masih terdengar isakan kecil.
Suara tegas namun lembut suaminya membuat Evelyn sedikit tenang. Hati dan fikiran nya terbuka, benar kata Noah daripada terlalu meratapi satu keinginan yang belum terkabul lebih baik ia mensyukuri setiap kebahagiaan yang telah ia dapatkan.
"Makasih atas pengertian kamu mas, Aku benar-benar beruntung memiliki kamu"
"Iya sayang, jangan sedih ya. Masih banyak waktu dan kesempatan." Noah memeluk Eve erat.
"Tapi aku sedih" Ucap Noah dengan suara lesu. Eve dengan cepat menarik diri dari pelukan Noah, ia menatap pada mata pria itu dengan penuh sesal.
"Sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa padamu sementara jatah bulan madu kita masih 3 hari"
__ADS_1
Evelyn terkekeh melihat ekspresi memelas suaminya.
"Tenang saja, aku sudah belajar cara memuaskan mu saat seperti ini" Ucap Evelyn malu-malu, wajahnya semakin merona saat melihat tatapan kaget dari suaminya.
***
Jika Evelyn merasa kecewa hal berbeda justru tengah di alami Aira, mata nya membulat sempurna melihat dua garis merah pada benda pipih yang ada di tangannya. Air matanya berjatuhan. Bukan kecewa atau sedih, namun sebuah rasa yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata. Ia sangat tahu bahwa kehadiran nya belum tepat, namun membayangkan ada makhluk kecil di rahimnya membuat dadanya membuncah.
Aira mengusap perutnya, senyum tersungging diantara derai air mata. Sungguh ia menginginkan bayi ini. Untuknya ia akan mengorbankan segala nya. Ia tak pernah merasakan perasaan sehangat ini mengaliri hati nya.
"Mama akan lakukan semuanya untuk kebahagiaan mu nak, sehat-sehat di dalam sana sayang. Tak apa meskipun papa tidak mencintai mama, demi kamu mama akan berlapang dada" Aira membulatkan tekadnya, sebuah keputusan sudah ia ambil. Ia tak menyangka, meski belum bisa ia rasakan, belum bisa ia sentuh dan belum mampu ia pandang namun hadirnya langsung merebut semua perasaan nya. Ini sungguh luar biasa.
Setelah membersihkan dirinya, masih dengan mengusap perut dengan mata berbinar Aira meraih ponselnya, membuka kontak Darrel dan menekan panggilan.
"Ya Ra kenapa?" Suara serak Darrel terdengar sexy. Entah mengapa Aira tiba-tiba merindukan Darrel dengan sangat besar, padahal belum pernah sebelumnya ia merasa seperti ini. Sepertinya si bayi sudah mulai membuat ulah setelah kehadirannya diketahui.
"Aku ganggu tidur kamu ya Rel?" Tanya Aira lembut.
"Enggak kok, ada apa Ra?" Wajah Aira merona mendengar kelembutan suara Darrel. ah ada apa dengan dirinya?
"Nanti siang kalau ada waktu aku mau ketemu, aku mau bicara" Ucap Aira dengan jantung yang berdegup kencang.
"Boleh, nanti aku jemput ke rumah ya." Jawab Darrel tanpa berfikir.
"Makasih ya Rel"
__ADS_1
"Iya" Jawab Darrel singkat. Aira memutuskan sambungan telfon nya. Ia memeluk ponsel miliknya dengan senyum yang tak surut.
****