Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Delapan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya Evelyn segera berjalan ke luar untuk berangkat kuliah. Seperti biasa Noah dengan setia telah menunggunya


"Selamat pagi sayang" Noah meraih tangan Eve dan mengecup keningnya. Di balas senyuman oleh Evelyn.


'Kapan aku bisa berangkat sendiri' Keluh Evelyn. Ia mulai jenuh dengan keadaan ini, menyesali ketidak berdayaan nya menolak Noah yang mendominasi dirinya.


Hal-hal remeh seperti berangkat dan pulang kuliah sendiri, menginap di rumah teman atau sekedar jalan bareng begitu ia impikan. Ia ingin mengecap dunia luar, namun sayang selama hampir 4 tahun ini dunianya hanya seputar Noah.


"Sayang, dari tadi ngelamun"


Tegur Noah yang beberapa kali bertanya tak mendapat jawaban dari Evelyn.


"Eng.. enggak, ada apa yang? nanya apa tadi?"


"Papa minta kakak buat ikut ke luar kota besok buat ketemu klien. Papa pengen kakak mulai belajar tentang perusahaan"


"Berapa lama?" Evelyn seperti mendapat durian runtuh mendengar berita ini.


"Mungkin seminggu yang, berat banget rasanya harus jauh dari kamu" Ucap Noah sedih.


"Iya ya lama banget" Evelyn berpura-pura murung. Ia tidak ingin Noah menyadari bahwa ia sangat bahagia akan ditinggalkan selama seminggu. Eve bisa membayangkan bisa bebas dari Noah meski hanya sebentar. setidaknya Ia bisa merasakan menjalani hidup dengan normal.


"Apa kakak tolak aja ya"


Evelyn panik, namun berusaha menahan diri.


"Kalo kakak nggak mau, nanti papa tersinggung. Nggak apa-apalah yang kita berkorban kali ini. Walaupun lama tapi ini kan demi masa depan kita"


Bujuk Eve sambil menatap kekasihnya.


"Kamu bakalan kangen aku nggak?"


"Kakak kok gitu nanyanya. Nggak perlu di kasih tau juga kamu pasti tau jawabannya."


"Kakak juga pasti kangen banget sama kamu"

__ADS_1


Noah mengusap rambut Eve dengan sayang.


****


"Janji ya jangan macam-macam selama kakak pergi. Abis kuliah langsung pulang jangan keluyuran apalagi jalan sama Darrel. Nanti kalau kakak uda nggak sibuk kakak pasti telfon" Sejak tadi Noah terus berpesan padanya. Evelyn hanya mengangguk patuh.


Noah memeluk Evelyn posesif. Mengecup puncak kepala Evelyn beberapa kali. Kecupan Noah turun ke kening, ke kedua pipi Eve terakhir memberikan kecupan lembut di bibir gadis itu.


"Jaga diri sayang, kakak pasti kangen banget sama kamu"


Terlihat sekali Noah begitu berat berpisah dengan Evelyn.


"Kakak juga jaga diri, jaga kesehatan. Semoga kerjaan nya cepat selesai biar cepat pulang"


"Iya sayang" Noah kemudian melepaskan dekapannya saat sang papa sudah mengajaknya berangkat. Eve tidak mengantar ke bandara, Noah khawatir jika kekasihnya itu harus pulang sendiri. Jadi Noah yang dengan sengaja mampir ke rumah Eve untuk pamit.


Setelah mobil Noah sudah tidak terlihat Eve menghela nafas lega.


"akhirnya...." Ucap Evelyn dengan senyum mengembang.


Sesuai waktu yang ditentukan Evelyn telah bersiap untuk bertemu dengan Aira dan Mona. Mereka janjian di sebuah mall. Rencananya mereka akan menonton film di bioskop.


Sebuah panggilan Video masuk menghentikan langkah riang Eve, Ia terhenyak saat melihat nama Noah di sana. Ia sempat kebingungan, Noah pasti akan memberondongnya dengan pertanyaan jika menyadari dandanan nya yang terlihat akan pergi.


Dengan lesu Eve menghapus riasan di wajahnya. Ia mengubah ekspresi kesalnya dengan senyuman saat Mengangkat panggilan itu.


"Sayang kakak uda nyampe nich" Noah tersenyum bahagia saat melihat wajah Eve hal itu cukup mengobati rasa rindunya yang harus berjauhan selama beberapa hari.


"Syukurlah kalo uda nyampe, Kakak istirahat dulu. pasti capek banget di perjalanan" Eve berharap Noah segera mengakhiri telfonnya agar ia bisa segera pergi.


"Nggak, kakak nggak capek. Apalagi uda lihat wajah kamu. Badan kakak jadi seger lagi"


Evelyn menjadi gusar karenanya. Ia sudah terlambat. Jika panggilan ini tidak segera diakhiri maka rencananya terancam batal.


"Kakak nggak usah gombal, aku nggak suka kalo kakak maksain diri gitu. kalo sakit gimana? Kakak istirahat aja dulu ya. Nanti telfon lagi" Ucap Eve, Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera pergi.

__ADS_1


'Ku mohon kali ini saja Tuhan' Evelyn melantunkan doa di dalam hati.


"Iya kakak istirahat. Tapi nggak usah di matiin teflon nya" Eve kembali menghela nafas lesu, hal ini memang biasa mereka lakukan, tidur dalam posisi telfon yang masih tersambung.


"Iya ma bentar" Evelyn berteriak seolah sang mama memanggilnya. Ide itu tiba-tiba muncul saat posisinya sedang sulit.


"Sayang, mama manggil. Kakak istirahat ya aku ke mama dulu boleh?"


"Tumben jam segini mama kamu uda pulang."


Evelyn mengedikkan bahu nya.


"Ya udah kakak istirahat dulu kalo gitu. Jangan nakal yah, bye sayang" Ucap Noah yang membuat Evelyn merasa begitu lega.


"Iya sayang, bye."


****


"Ampun Ve lama banget, uda mau mulai juga film nya"


Gerutu Mona yang telah menunggu dirinya cukup lama.


"Sorry dech. Tadi tiba-tiba kak Noah telfon, tau sendiri lah aku ga dibolehin pergi sama dia. Makanya cari alasan dulu" Saking huru-burunya Evelyn memperbaiki dandanan nya saat berada di dalam mobil online pesanannya.


"Nggak capek Ve punya cowok posesif gitu?" Mona menatap prihatin sahabatnya.


"Kalo cowoknya kayak Noah mau dikurung terus di kamar dia aku mah hayuk aja. Malah aku yang akan posesifin dia. Eve beruntung banget bisa dapetin hati cowok kayak Noah" Ucap Aira


Mona mengerutkan keningnya, tersenyum sinis pada Aira. Sementara Evelyn tersenyum getir.


"Tetap aja kita juga butuh bergaul sama dunia luar Aira! nyesek juga lama-lama kalo dikekang kayak Eve. Baru juga pacaran gimana kalo udah nikah. Bisa-bisa beneran dikurung selamanya di dalam kamar sama si Noah. Serem banget ih" Mona bergidik ngeri.


"Noah kayak gitu karena dia cinta banget sama Eve Mon. Nggak apa-apa lah di posesif toh dia juga setia banget. Zaman sekarang ke mana coba nyari cowok kayak Noah, Uda tampan, baik, pintar, dan yang paling penting setia. Kalo Eve nggak mau buat aku aja" Ucao Aira lagi sambil menyeringai membuat Mona dan Evelyn mencebik kesal.


"Uda dong berisik. Ayo buruan masuk ketinggalan nanti film nya." Evelyn segera menengahi saat melihat Mona akan menjawab kembali ucapan Aira. Ia tidak ingin membahas tentang hubungannya dulu. Ia ingin menikmati kebebasannya selama seminggu tanpa kekangan dari Noah. Ia ingin menjadi remaja pada umumnya yang bisa bersenang-senang, rasanya sudah terlalu lama dirinya terkurung dalam jeratan cinta Noah.

__ADS_1


__ADS_2