
Satu bulan berlalu dan Noah benar-benar membebaskan Evelyn bersama teman-teman nya. Ia memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan skripsinya.
Evelyn hanya bisa menghabiskan waktu bersamanya sesekali. Ia terlihat lebih bahagia saat bersama teman-temannya dibandingkan dirinya. dan Noah mulai bisa menerima itu.
"Sayang, Jadwal kakak buat sidang skripsi 3 hari lagi. Bisa temenin kakak kan?"
"Bisa kak, tenang aja. Nanti Eve pasti datang kok buat kakak"
Hari ini ia sedang bersama Evelyn. Gadis itu minta ditemani membeli buku karena Aira dan teman nya yang lain sedang ada urusan masing-masing. Jika tidak mungkin Eve tidak akan mengajak dirinya.
Noah semakin meragukan perasaan Evelyn terhadap dirinya. Namun meski Eve berubah seperti apapun, Noah tidak pernah mengurangi semua perhatiannya pada Evelyn.
Ia tetap menunjukkan perasaan cinta yang begitu besar pada kekasihnya.
"Abis ini kita makan dulu ya, atau mau nonton?"
"Pulang aja dech kak, nggak apa-apa ya? aku uda mau langsung ngerjain tugas"
Noah mengangguk sambil tersenyum. Seperti biasa Evelyn menolaknya lagi.
Evelyn menatap Noah sekilas. Ia sangat tau Noah kecewa, namun ia tak bisa menyangkal perasaan jenuhnya. Ia tak mengerti perasaan nya pada Noah saat ini seperti apa.
Meski Noah telah banyak membebaskan dirinya namun Ia masih merasa terkekang dengan semua pesan ataupun telfon dari pria itu saat ia sedang bersama teman-temannya. Ia lelah saat harus laporan setiap saat.
Belum lagi keresahan hatinya, ia takut saat tiba-tiba Noah akan melamarnya dan memutus kembali kebebasannya.
Evelyn mengangkat ponselnya saat ada panggilan masuk.
"Hai Mon, ada apa?"
Evelyn tersenyum pada Noah yang menatap dirinya.
"Kamu lagi di mana?"
Tanya Mona di seberang telfon
"Lagi di toko buku sama kak Noah"
"Abis itu mau ke mana?"
"Mau pulang, langsung ngerjain tugas"
"Ke markas aja, sekalian ngerjain tugas bareng"
Evelyn nampak berfikir sejenak. Markas yang Mona maksud adalah apartemen milik Darrel. Tapi Evelyn tidak pernah memberitahu Noah akan hal itu
__ADS_1
"Oke dech Mon"
Putus Evelyn akhirnya.
Evelyn memasukkan ponselnya setelah panggilan dengan Mona berakhir.
"Kenapa Mona yang?"
"Mereka ngajakin aku buat ngerjain tugasnya bareng kak. Jadi nanti aku naik taxi aja"
Ucap Evelyn santai membuat Noah mengerutkan keningnya.
"Kenapa naik taxi? Kakak kan bisa antar kamu sayang"
Evelyn tidak ingin Noah tau kalau dirinya ke apartemen Darrel. Karena itu Eve memilih untuk naik taxi.
"Biar nggak ngerepotin kakak"
"Kakak makin nggak ngerti sama kamu Ve. Sejak kapan kakak ngerasa direpotin sama kamu? bahkan kakak selalu siap untuk anterin kamu ke mana pun. Atau justru kamu yang ngerasa repot kalo sama kakak?"
"Aku takut kakak marah. Karena mereka ngajakin ngerjain tugasnya di apartemen Darrel"
Hati Noah seperti tertusuk. Ia tak menyangka Evelyn bertindak seperti ini.
"Kalo emang kamu lebih nyaman naik taxi nggak apa-apa Ve" Terus terang Noah semakin kecewa, banyak hal yang Evelyn lakukan yang terasa menyakiti hatinya. Ia semakin kehilangan Evelyn yang dulu.
Noah hanya mengangguk, ia kehilangan minat untuk sekedar berkata 'Iya'.
Setelah mendapatkan buku yang Evelyn butuhkan keduanya berjalan ke luar, Noah memanggilkan taxi untuk Eve setelah nya ia menuju mobilnya untuk segera pulang.
****
Noah keluar dari ruangan sidang dengan wajah berbinar. Ia berhasil mempertahankan skripsinya dan mendapatkan nilai yang memuaskan.
Evelyn menyambut Noah dengan sebuket bunga di tangannya.
"Selamat ya kak, kakak keren banget tadi"
Ucap Evelyn sambil memberikan bunga pada Noah.
"Iya, makasih sayang kamu bisa nyempetin waktu buat nemenin kakak"
Noah mendaratkan kecupan di kening Evelyn.
"Iya kak, emang uda seharusnya aku ada untuk momen penting kakak" Noah tersenyum bahagia mendengar ucapan Evelyn. Rasanya telah begitu lama Noah tidak mendengar kata-kata manis dari bibir kekasih nya itu.
__ADS_1
"Sekarang kita makan siang yuk, sekalian merayakan keberhasilan kakak hari ini"
Noah menggenggam tangan Evelyn dan menariknya dengan semangat.
"Kak tunggu bentar"
Evelyn tersenyum salah tingkah. Ada raut tidak nyaman di wajah itu.
"Sebenarnya aku uda ada janji sama Aira abis ini kak. Sebenarnya ini juga uda telat dari waktu yang dijanjikan"
Wajah Noah jelas sekali menampakkan kekecewaan nya.
"Aku ditolak lagi Ve?" Ucap Noah lirih.
"Sebenar nya janjian nya emang uda dari 3 hari yang lalu kak. Tapi aku uda sempetin kan datang di sidang nya kakak"
Noah mengepalkan tangannya. Kali ini emosinya terasa begitu sulit untuk ia bendung.
"Kasih kakak waktu 15 menit untuk bicara setelah itu kamu boleh pergi"
Ucap Noah dengan suara bergetar. Evelyn mengangguk sambil menatap Noah dengan perasaan takut.
Noah berjalan untuk membawa Evelyn ke mobilnya. Ia tidak mungkin berbicara di sini atau ia dan Evelyn akan menjadi tontonan banyak orang.
"Kali ini kami uda kelewatan banget Ve, kakak mati-matian untuk menahan perasaan kakak saat kami lebih memilih teman-teman kamu. Kakak fikir kami bisa membagi waktu, tetap memprioritaskan kakak untuk saat-saat tertentu."
Noah menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
"Bahkan disaat momen penting untuk kakak kamu tetap memilih teman-teman kamu. Udah hampir 4 bulan Ve, kamu selalu nggak ada waktu buat kakak. Apa segitu nggak pentingnya kakak buat kamu Ve? oke dulu kamu protes kakak terlalu mengekang kamu, tapi di saat kakak berusaha mengerti kamu, kamu malah kayak gini. Posisi kakak sekarang antara ada tiada buat kamu"
Evelyn begitu takut melihat kemarahan di mata Noah, ini pertama kalinya Noah bersikap seperti ini padanya.
"Tapi aku uda datang buat nemenin kakak sidang. Kenapa masih kurang? 4 bulan kebebasan aku belum sebanding sama 4 tahun yang aku lewatin dalam kekangan kakak." Ucap Evelyn, ia berusaha tegas. Ia tidak ingin lagi berada dalam penguasaan Noah.
"Jadi kalo emang kakak nggak bisa nerima sikap aku yang sekarang ya udah. Kakak lepasin aku aja. Dari pada kita sama-sama tersiksa"
Noah tidak menyangka untuk 4 tahun yang telah mereka lewati begitu entengnya kata-kata itu terucap dari bibir kekasihnya.
"Kamu benar-benar nggak nyaman sama kakak? Jadi selama 4 tahun ini kamu merasa tersiksa Ve? Nggak ada kebahagiaan sama sekali"
"Bohong kalau aku bilang nggak bahagia kak. Tapi aku juga merasa tersiksa dengan keposesifan kakak selama ini. Jujur selama 4 bulan ini aku merasa mendapatkan kehidupanku kembali." Noah menatap kecewa pada Eve, Ia tak menyangka besarnya cinta yang dirinya punya tak mampu membuat gadis itu bahagia.
Pengakuan Evelyn menjadi pukulan berat bagi pria itu, disaat ia berjuang sekuat tenaga membahagiakan Evelyn dengan berbagai cara, sebuah fakta menyakitkan harus ia terima.
"Baiklah Eve, jika terbebas dariku kamu merasa seperti hidup kembali itu artinya saat bersama ku kamu merasa mati. Jika lepas dari aku adalah impian kamu aku aka membuatnya menjadi nyata. Aku akan melepaskanmu nikmatilah kebahagiaan mu tanpa aku Eve. Nikmatilah kebebasan mu tanpa gangguan ku. Maaf untuk waktu berharga mu yang telah aku rampas selama 4 tahun ini Eve"
__ADS_1
Jika caranya mencintai selama ini yang ia kira adalah sebuah pembuktian betapa besar cinta Noah pada gadis itu ternyata menyiksa Evelyn, maka kali ini Noah harus memberikan pembuktian cinta dalam bentuk yang lain. Melepaskannya demi kebahagiaan gadis yang dicintainya. Meski itu berarti ia tengah membunuh hatinya secara perlahan.
Evelyn tidak bisa seperti ini terus menerus, Noah harus menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang pria yang telah Evelyn injak-injak beberapa waktu lalu.