
Noah tersenyum getir saat berpapasan dengan Eve setelah 3 hari yang lalu ia mengakhiri hubungan mereka. Tak nampak kesedihan di wajah gadis itu membuat Noah semakin perih.
Wajah gadis itu tetap berbinar dan tersenyum manis padanya. Tidakkah Eve seperti dirinya kesulitan tidur karena selalu terbayang kenangan nya bersama Eve? Tidakkah Evelyn merasa kehilangan atas kebiasaan-kebiasaan yang tak lagi mereka lakukan?
Noah melangkah cepat, menelan kembali kata-kata sapaan yang akan ia lontarkan pada Eve. Ia tak ingin tampak menyedihkan di hadapan Eve yang telah mencampakkan nya.
Tanpa Noah ketahui Evelyn menatap punggung nya dengan senyum getir. Ia tidak berdaya untuk sekedar memanggil Noah.
"Gimana Ve?" Aira menyadarkan Evelyn dari lamunannya.
"Apanya?"
"Mau kejar Noah dan minta balikan atau..." Evelyn menggeleng cepat sebelum Aira menyelesaikan ucapan nya.
"Aku baik-baik aja. Rasa kehilangan itu memang ada Ra, tapi aku juga nyaman kayak gini. Aku bebas ngelakuin yang aku mau tanpa terbebani apapun" Tegas Eve sambil tersenyum penuh keyakinan.
"Kamu yakin?" Aira menatap ragu pada Eve.
"Yakin banget. Kamu nggak tau rasanya jadi aku Ra, hampir 4 tahun kehidupan aku dirampas oleh Noah. Hidup di bawah aturan Noah yang menyesakkan. Meminta kembali pada Noah sama saja meminta untuk kembali terpenjara."
"Tapi kamu masih cinta kan?"
"Rasa ingin bebas lebih besar dari pada cinta itu sendiri Ra. Jadi aku nggak mau menggadaikan kebebasan aku demi cinta yang pelan-pelan bisa aku hilangkan" Evelyn berucap dengan kepercayaan diri penuh.
"Semoga keputusan kamu ini memang tepat dan nggak akan ada penyesalan nantinya Ve. Aku takut kamu menyesal sementara kesempatan itu telah hilang"
"Laki-laki di dunia ini bukan cuma Noah Ra. Mungkin juga cinta aku ke Noah itu cuma cinta monyet. Aku masih bisa menyukai dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain" Aira mengedikkan bahunya. Ia menyerah, Evelyn terlalu keras kepala untuk ia pengaruhi.
Dibalik tembok nyatanya masih ada Noah yang menahan kesakitan di hatinya akibat semua ucapan yang meluncur dari bibir Eve. Rasa ingin perginya kalah besar dengan rasa penasaran akan perasaan Eve saat ini karena itu ia memilih bertahan dibalik tembok untuk mendengarkan percakapan antara Evelyn dan Aira. Noah tidak menyangka rasa sakit itu begitu dahsyat.
__ADS_1
Ucapan Evelyn telah menghancurkan hati Noah hingga berkeping-keping. Perasaannya luluh lantak atas pengakuan Evelyn tentang pandangan nya mengenai hubungan yang terjalin selama ini.
Dengan tatapan kuyu Noah melangkahkan kakinya meninggalkan kampus di mana ada gadis yang sangat dicintai sekaligus menyakitinya berada. Ia semakin meyakinkan hatinya, membulatkan tekad atas keputusan yang telah ia buat.
****
"Kamu yakin Noah?" Sang mama menatap iba pada Noah yang sedang mengepak pakaiannya ke dalam koper.
"Yakin ma, ini yang terbaik untuk hati Noah saat ini" Ucap Noah lirih.
"Kamu yakin nggak mau nunggu sampai selesai wisuda?"
"Noah uda nggak bisa di sini lagi ma, semakin lama akan semakin menyakiti Noah. Wisuda nggak terlalu penting lagi buat Noah, yang penting ijazah nya"
Sang mama berusaha memahami kondisi hatinya yang patah.
"Apapun keputusan kamu papa dan mama akan selalu dukung kamu nak. Jangan jadi pria lemah, jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Hidup masih terus berjalan"
"Mama jangan benci Eve ya?" Noah menatap penuh harap pada Mamanya setelah papa nya keluar dari kamar Noah.
"Nggak Noah tenang aja. Mama bisa mengerti kalian masih terlalu muda, putus cinta itu wajar nak. Mama nggak mungkin bersikap kekanakan dengan membenci Eve. Kecewa sudah pasti tapi mama nggak mau maksain anak orang sayang."
Noah menghela nafas lega. Meski Evelyn menorehkan luka yang dalam di hatinya tapi Ia tak ingin mamanya membenci Evelyn karena gadis itu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, Evelyn pernah memberikan kebahagiaan untuknya.
Noah akan pergi meninggalkan kota di mana ada banyak sekali kenangan yang telah ia rangkai bersama Evelyn. Tetap berada di sini terasa menyesakkan, Noah memilih menerima tawaran papanya untuk memegang cabang perusahaan milik mereka di sebuah kota kecil. Noah berharap ia bisa mengubur semua impiannya bersama Evelyn dan memulai hidup baru, merangkai kenangan baru bersama orang yang berbeda.
Noah hanya bisa berdoa dan berharap hatinya tidak beku dan mampu kembali mencintai. Ia meyakinkan dirinya bahwa masih ada wanita di luar sana yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya.
Nanti malam adalah keberangkatan nya, masih ada waktu beberapa jam. Noah memutuskan untuk menemui seseorang, dan di sinilah ia kini berada di teras sebuah rumah menunggu pemiliknya keluar.
__ADS_1
"Noah?" Gadis yang tak lain adalah Aira sahabat Eve itu tampak terkejut dengan kehadiran pria itu.
"Hai Ra, maaf ya kalo ganggu istirahat kamu"
Noah berusaha tersenyum sebaik mungkin.
"Enggak kok, ada apa Noah? Oh ya mau minum apa?"
"Nggak usah Ra. Aku cuma sebentar" Noah menahan Aira yang akan kembali masuk untuk mengambilkan minum untuknya.
"Ada yang bisa aku bantu?" Aira tampak menatap penuh tanya pada mantan kekasih sahabatnya itu.
"Aku titip Eve ya Ra. Jagain dia jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Karena aku uda nggak bisa ngelakuin itu" Aira mengernyit bingung mendengar penuturan Noah.
"Kamu tau sendiri Evelyn baru saja menemukan kebahagiaan nya bersama kalian, aku harap kalian bisa selalu ada buat dia."
"Hubungan percintaan kalian putus bukan berarti kalian nggak bisa temenan kan?"
"Untuk saat ini aku nggak bisa ada di sekitar dia Ra. Aku yakin kamu tau sedalam apa perasaanku pada Eve. Dalam kondisi seperti ini hati aku belum terbiasa untuk menerima semuanya. Karena itu aku akan pergi jauh Ra. Tolong jaga dia dan aku titip ini" Noah menyerahkan sebuah kotak berwarna biru pada Aira yang tampak ternganga tak menyangka atas keputusan Noah.
"Kamu nggak mau nemuin dia dulu sebelum pergi?"
Noah menggeleng
"Aku nggak bisa Ra. Tolong berikan ini setelah aku pergi dari kota ini. Meskipun bagi Evelyn kepergian aku nggak akan berefek apa-apa padanya tapi aku mohon jangan kasih tau dia sebelum aku benar-benar pergi. Aku harus menata hati aku kembali tanpa Evelyn Ra"
"Tapi kamu mau pergi ke mana?"
"Ke suatu tempat Ra. Aku pamit ya, maaf kalau aku ada salah sama kalian" Tanpa menunggu jawaban Noah bergegas meninggalkan Aira yang masih terpaku. Aira bimbang antara menuruti kata Noah atau tidak. Hatinya tergelitik untuk memberi tahu Eve saat ini juga.
__ADS_1
Namun ucapan Evelyn tadi siang membuat gadis itu ragu, ditambah tatap permohonan Noah membuat Aira mengurungkan niat nya. Jika Evelyn sudah tidak bisa kembali pada Noah maka pria itu berhak mencari kebahagiaan nya pada orang lain.