
Aira termangu saat bangun di pagi hari, ia dan Darrel berada di bawah selimut yang sama tanpa sehelai pakaian pun. Bahkan Darrel memeluknya dengan begitu erat. Aira dilanda kebingungan mengenai sikapnya saat Darrel terbangun nanti, untuk membohonginya seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam rasanya juga mustahil mengingat Darrel menyebut namanya saat pria itu mendapatkan pelepasannya. Wajah Aira memerah saat mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Ada rasa sedih, takut, dan menyesal memenuhi hatinya namun ia juga tak bisa menepis ada perasaan bahagia saat ia telah memberikan kesucian nya pada Darrel pria yang ia cintai meskipun dalam waktu yang belum tepat.
"Aira" Suara berat Darrel menyadarkan Aira dari lamunannya, pria itu menatap kepada Aira tanpa melepaskan dekapan erat pada tubuh gadis itu.
Aira menundukkan pandangannya, tak berani menantang mata Darrel.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahan hingga kamu harus mengorbankan dirimu seperti ini" Suara Darrel masih terdengar berat, dan entah mengapa Aira tidak suka mendengar nada penyesalan dalam suara Darrel.
Aira berusaha membebaskan diri dari pelukan erat Darrel, ia tak bisa bernafas normal dengan posisi sedekat ini. Tapi sia-sia, Darrel sedikitpun tak melonggarkan pelukannya
"Tidak perlu meminta maaf, harusnya aku bisa lebih kuat untuk menolak." Ucap Aira berusaha meredakan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan.
"Aku akan bertanggung jawab Aira. Aku benar-benar minta maaf"
Aira refleks menatap pada Darrel.
"Maksud kamu?"
"Aku akan bertanggung jawab Aira, aku akan menikahi mu" Sejenak Aira merasa bahagia, namun wajah Tara tiba-tiba melintas dalam benaknya.
"Tapi Tara?"
Tanya Aira lirih.
"Setelah pengkhianatan nya apa kamu berfikir aku akan tetap bersamanya?" Tanya Darrel, kilatan luka kembali terpancar di matanya.
"Tapi kamu mencintainya Rel"
Ucap Aira sendu.
__ADS_1
"Aku memang masih mencintainya Aira. Tapi cinta ku tidak buta. Aku tidak akan pernah bisa mempertahankan seorang pengkhianat." Aira tidak mengerti kenapa hatinya harus sesakit ini mendengar Darrel masih mencintai Tara. Meski pada dasarnya pria itu tidak bersalah, hubungan nya dengan Tara sudah terjalin hampir 4 tahun lamanya, tidak akan semudah itu rasa cinta di hatinya terhapus dengan cepat hanya dalam hitungan jam.
"Aku tidak bisa menikah dengan mu Darrel" putus Aira akhirnya, Ia bisa menangkap keterkejutan di mata pria itu.
"Tapi kenapa Ra?"
"Kamu tidak mencintaiku Rel, aku tidak mau pernikahan yang tidak dilandasi cinta. Pernikahan kita tidak akan berhasil." Tegas Aira.
"Tapi aku sudah mengambil sesuatu pada dirimu Aira. Aku harus bertanggung jawab. Aku tidak mau lepas dari tanggung jawab itu"
Yah, Darrel ingin menikahinya karena pria itu ingin bertanggung jawab sementara cintanya masih ada pada wanita lain. Pernikahan yang dibangun tanpa landasan cinta hanya akan melahirkan kesakitan. Aira tidak mau itu terjadi.
"Kita sama-sama khilaf Rel, kita melakukan nya atas dasar suka sama suka. Tidak ada paksaan sama sekali, jadi kita bisa melupakan nya. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Tenanglah aku tidak menuntut apapun dari kamu" Aira memaksakan untuk tersenyum, ia ingin terlihat sesantai mungkin di depan Darrel.
"Tidak Ra, nyatanya sudah terjadi sesuatu antara kita berdua. Kita tidak bisa melupakannya begitu saja"
Flashback off
Evelyn menatap Aira dengan wajah tegang, ia tak menyangka telah terjadi hal yang begitu rumit antara dua sahabatnya.
"Darrel terus mendesak ku untuk menikah. Aku harus bagaimana Ve?" Aira menghela nafas berat.
"Menikahlah dengan Darrel Ra, kita sangat tau dia pria yang baik." Ucap Evelyn akhirnya.
"Aku tidak pernah menyangsikan kebaikan Darrel Ve, tapi Darrel tidak mencintaiku. Aku tidak mau menikah dengan pria yang sedang patah hati. Aku yakin selain karena ingin bertanggung jawab keinginan Darrel juga dipicu oleh rasa sakitnya akibat dikhianati Tara. Aku tidak mau menjadi pelampiasan" Dada Aira terasa sesak, ingin menangis tapi ia merasa malu.
"Ra, kamu cinta sama Darrel?" Tanya Eve dengan tatapan tajam. Aira menatap takut pada Evelyn ia memang sudah menceritakan apa yang terjadi, namun masalah perasaan sengaja ia lewatkan. Ia masih ingin tetap menjaga rahasia hatinya.
"Ra?" Eve memanggil Aira yang terlihat melamun. Aira kembali menghela nafas berat, menyembunyikan perasaan rasanya sudah tidak ada gunanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku sudah menyimpan perasaanku pada Darrel sejak 2 tahun yang lalu Ve" Aira akhirnya memutuskan untuk jujur. Evelyn ternganga tak percaya.
"Bahkan saat aku masih bersama Marcell. Tapi aku tidak mau merusak persahabatan yang sudah lama terjalin terlebih Darrel begitu mencintai Tara. Aku memutuskan untuk menyimpan perasaanku sambil terus berusaha membunuh perasaan yang tak semestinya ini. Dan malam itu perasaan yang tersimpan rapat muncul ke permukaan hingga melumpuhkan akal sehat ku Ve, yang ada dalam fikiran ku saat itu hanya ingin menyerahkan diri untuk meluapkan perasaan cintaku yang begitu besar pada Darrel. Entahlah kenapa aku bisa sebodoh itu"
Aira merasa lega setelah membagi kegundahan nya pada Evelyn, seolah beban berat yang menimpanya telah terangkat habis.
"Terima saja lamaran Darrel Ra, cinta bisa tumbuh seiring waktu" Ucap Evelyn setelah berhasil menguasai diri dari rasa terkejutnya.
"Baiklah tapi aku akan menunggu sampai Darrel mencintaiku" Aira masih kukuh dengan pendiriannya.
"Terus kalau kamu hamil bagaimana?" Aira tersentak mendengar kemungkinan yang Evelyn ucapkan. Wajahnya tiba-tiba memucat, selama ini ia tidak berfikir sejauh ini.
Tubuh Aira bergetar saat ia mengingat sesuatu. Ia dan Darrel melakukan hubungan terlarang itu lebih dari satu bulan yang lalu, dan Aira melupakan sesuatu. Yah sampai saat ini ia belum mendapatkan siklus bulanan nya.
"Eve" Aira menatap sahabatnya sambil menahan tangis.
"Kamu belum dapet?" Tebak Evelyn melihat ketakutan di wajah Aira.
"Aku tidak berfikir sejauh itu Ve, aku melupakan nya" Aira merutuki dirinya sendiri, apa ia sepolos itu hingga tak berfikir bahwa hubungan badan mungkin saja menghasilkan seorang bayi.
"Kamu harus segera periksa Aira. Jika benar-benar sudah ada Darrel junior di sini maka lupakan ego kamu demi dirinya" Ucap Evelyn sambil mengusap perut Aira. Gadis itu mendelik pada Eve yang masih memasang wajah menggoda dalam kondisi sekalut ini, tapi Aira merasa hatinya menghangat saat membayangkan ada manusia mungil yang menghuni bagian tubuhnya. Tanpa sadar ia mengusap perutnya sambil tersenyum. Meski ia tak bisa memiliki hati Darrel setidaknya ia memiliki bagian dari diri pria yang ia cintai itu.
"Benarkah aku harus melupakan impianku untuk menikah dengan pria yang mencintaiku Eve?"
"Pelan-pelan Darrel akan mencintai kamu Aira, apalagi jika bayi kalian benar-benar ada di sini" Evelyn kembali mengusap perut Aira, kemudian ia mengusap perutnya sendiri.
"Semoga kehamilan kamu menular ke aku ya Ra, lucu sekali membayangkan wajah Noah yang tergambar pada bayi kecil kami nantinya" Tatapan Evelyn menerawang dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
****
__ADS_1