
Aira terpana menatap pantulan dirinya di cermin, ia merasa begitu cantik hari ini.
"Kamu memang cantik Ra, ditambah kehamilan mu membuat kecantikan mu semakin bertambah" Ucap Evelyn yang seperti mengetahui isi hati sahabatnya. Yah setelah 5 hari dari Aira memberi tahu Darrel perihal kehamilan nya hari ini adalah hari di mana ia dan Darrel akan memulai kisah mereka.
"Makasih Eve, apa Darrel akan menyukainya?"
"Tentu saja, kalau Darrel tidak suka kita harus mengajaknya nya ke dokter mata untuk memeriksa matanya" Jawab Eve, senyum lebar terbit dari bibir gadis yang berada dalam balutan kebaya putih itu.
"Eve, aku tidak menyangka akan menikah dengan Darrel. Menikahi pria yang masih menyimpan wanita lain di hatinya" Mengingat itu membuat Aira kembali lesu.
"Selama ini kamu terlalu banyak berfikir berdasarkan opinimu sendiri. Apa pernah kamu bertanya pada Darrel bagaimana perasaan nya?" Kali ini Evelyn menatap serius pada Aira.
"Aku tidak berani Eve, tapi bayangkan saja ia dan Tara menjalin hubungan begitu lama. Mereka baru putus, bahkan belum sampai dua bulan. Apa menurutmu Darrel sudah melupakan nya? sementara kamu sendiri bertahun-tahun tak bisa melupakan Noah begitupun sebaliknya aku takut Darrel juga akan seperti itu" Eve tersenyum lembut, ia memegang kedua bahu Aira.
"Jangan berkaca dari kisah ku dan Noah Aira, Jalan ceritanya berbeda. Hubungan ku dengan Noah berakhir bukan karena pengkhianatan. Aku masih menyimpan cinta pada Noah karena ia layak untuk dicintai. Pengorbanan nya untukku begitu besar, ia rela ikut mematahkan hatinya hanya agar aku bahagia. Sementara Tara? apa dia seistimewa itu untuk dicintai oleh Darrel dengan begitu dalam?" Aira tampak berfikir berusaha menerima setiap ucapan Evelyn.
"Sudah jangan terlalu difikirkan, yakinlah Darrel pasti mencintaimu. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai wanita yang mengandung anak nya" Evelyn mengusap pundak Aira untuk menenangkan gadis itu.
Tidak berapa lama, ibu Aira dan ibu Darrel memanggil gadis itu untuk segera keluar kamar. Aira berjalan menuju tempat pengucapan janji pernikahan dengan Evelyn yang berada di sisinya, dua wanita cantik itu berjalan mengundang decak kagum.
Aira menatap pada Darrel yang tampak tersenyum menatap padanya, jantung Aira berdegup semakin tak menentu.
Di belakang Darrel seorang pria yang tak lain adalah Noah juga ikut terpana mengagumi keindahan seorang wanita. Tentu saja matanya bukan tertuju pada Aira melainkan pada wanita disebelahnya yang tak kalah cantik dari sang pengantin.
Diam-diam Evelyn merasa bangga, karena sejak dulu dalam setiap kondisi mata Noah selalu hanya tertuju padanya.
Evelyn tak bisa menahan senyum saat diam-diam Noah menggodanya dengan melempar kecupan jarak jauh.
Aira tiba di depan penghulu, setelah mengantarkan Aira Evelyn berjalan menuju kursi untuknya yang berada di sebelah Noah.
__ADS_1
"Kenapa pengantin ku ini selalu saja bercahaya, aku tidak suka melihat banyak mata yang menatap kagum pada istriku" Bisik Noah yang membuat Evelyn kembali tersenyum geli
"Mereka menatap Aira mas, bukan aku" balas Evelyn.
"Aku yakin sekali mereka menatapmu sayang, aku sudah tidak sabar ingin membawamu pulang, mengurung mu di kamar hanya untuk diriku sendiri" Bisik Noah lagi.
"Datang bulan mu sudah selesai kan? meskipun saat kamu menpraktek kan pelajaran mu sangat memuaskan tetap saja aku sangat merindukan menu utamanya" Wajah Evelyn memerah, bisa-bisanya Noah membahas hal itu dalam momen sakral sahabatnya yang sebentar lagi akan dimulai.
Mereka berdua diam saat acara sudah di mulai, suara tegas Darrel mengucap sumpah janjinya atas Aira membelah keheningan.
Sepasang mata berbulu mata lentik mengeluarkan buliran bening, rasa haru memenuhi hatinya. Ia telah dinikahi oleh pria yang ia cintai, di dalam hati ia berharap cinta pria itu perlahan akan tumbuh untuknya, menjadi penguat bangunan kisah yang baru saja mereka mulai.
Aira mencium tangan Darrel dengan khidmat, jantungnya kembali berdetak dengan kuat saat merasakan kecupan hangat di keningnya. Sahabatnya kini telah resmi menjadi suaminya.
Acara berlangsung sakral meski sederhana, hanya keluarga serta sahabat terdekat yang mereka undang.
****
Aira tersentak dari lamunan nya saat Darrel mendekatinya di meja rias.
"Susah ya?" Dengan hati-hati Darrel membantu Aira melepaskan hiasan di kepala wanita yang sudah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.
"Makasih Rel" Ucap Aira saat semua hiasan di kepalanya sudah ia lepas, begitupun kalung dan antingnya.
Darrel memutar kursi Aira untuk menghadap padanya, Aira dapat melihat Darrel kini hanya memakai celana dan kaos pendek. Pria itu menunduk mensejajarkan tubuhnya pada Aira.
"Kamu capek? kamu duluan mandi ya setelah itu istirahat" Ucap Darrel sembari mengusap perut Aira. Ucapan Darrel begitu lembut, namun begitu tajam menyayat hati Aira. Jelas sudah kini Darrel menikahinya hanya untuk bayi mereka. Pria itu tidak menginginkan nya, ah apa yang ia harapkan sebenarnya? Apakah ia berharap Darrel akan membawanya melewati malam pertama seperti pengantin lainnya? Aira tersenyum getir. Ia hanya mengangguk dan beranjak menuju kamar mandi, membersihkan dirinya berharap juga mampu membersihkan hatinya.
Cukup 15 menit bagi Aira membersihkan dirinya, ia segera menaiki ranjang untuk beristirahat sementara Darrel bergantian masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Aira menatap sendu kamar pengantin yang didekorasi dengan begitu indah, sayang sekali ia tak bisa merasakan keindahan malam yang dinantikan oleh banyak pasangan. Terlalu larut dalam lamunan nya membuat Aira tak menyadari Darrel yang sudah selesai membersihkan dirinya, pria itu menaiki ranjang nya mengusap rambut Aira.
"Kenapa belum tidur?" Suara berat Darrel memecah lamunan gadis itu, ia tersenyum tipis.
"Ra? kamu kenapa terlihat sedih? kamu tidak bahagia menjadi istriku?" Tanya Darrel dengan masih mengusap rambut Aira.
"Tidak Rel, aku tidak sedih." Aira tersenyum manis pada Darrel, berusaha menyamarkan kegundahan hatinya.
"Kamu capek tidak Ra?" Tanya Darrel dengan mata menatap dalam pada Aira.
"Tidak terlalu, biasa saja"
"Kalau begitu bolehkah?" Suara Darrel memberat dengan pandangan berkabut. Aira mengerutkan keningnya.
"Maksud kamu Rel?"
"Malam ini malam pengantin kita Ra, meski bukan yang pertama tapi bolehkah kita melewati malam ini dengan seharusnya? aku berusaha untuk menahan diri karena takut kamu capek, tapi kalau boleh" wajah Aira memerah, kesedihan yang menyelimuti hatinya hilang begitu saja. Bolehkah ia berharap bahwa ini awal yang baik bagi hubungan mereka ke depan? bukan kah ini artinya Darrel ingin menjalani pernikahan yang sebenarnya?
"Boleh tidak Ra?" Suara Darrel terdengar khawatir. Aira mengangkat wajahnya dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Mata Darrel berbinar bahagia.
"Terimakasih Ra" Bisik Darrel, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Aira hingga sesaat kemudian bibirnya menyatu pada bibir istrinya. Ia sudah pernah merasakan tubuh Aira, bagaimana bisa ia melewatkan malam ini begitu saja terlebih gadis itu sudah sah menjadi istrinya.
*****
Cover nya diubah sama pihak NT.
Menurut kalian bagus yg sebelumnya atau bagusan yang ini covernya?
Btw terima kasih utk readers yang masih setia mengikuti kisah ini sampai sekarang.
__ADS_1
😍🥰