Penyesalan Evelyn

Penyesalan Evelyn
Empat Puluh Delapan.


__ADS_3

Noah dan Evelyn sama-sama tak bersuara namun mata mereka saling menatap. Semua cinta dan rindu tercurah dari sana. Setelah mengharu biru dalam tangis Noah mengajak Evelyn ke taman belakang yang menjadi view favoritnya selama ini. Angin malam membelai tubuh mereka yang tengah berbahagia, menerbangkan rambut Evelyn hingga menutupi sebagian wajahnya. Dengan lembut Noah menyibak rambut Evelyn agar tak menutupi pandangan nya pada wajah yang selalu ia rindukan dalam diam.


"Semua terasa seperti mimpi Eve, aku tidak pernah berani mengharapkan ini sebelumnya. Tuhan begitu baik padaku dengan mengembalikan mu ke sisi ku sayang" Noah mengusap lembut wajah gadis itu.


"Kamu kembali menjadi kekasihku Eve" Eve kembali dapat melihat limpahan cinta di mata pria di hadapan nya. Ia merasa begitu beruntung dicintai oleh Noah sebesar ini.


"Terimakasih telah menerima ku kembali kak. Aku tidak tau apa lagi yang akan menimpaku andai kakak menolak ku" Ucap Eve lirih.


"Andai aku menolak mu untuk berada di sisiku bukan karena aku tidak mencintai mu Eve, semata-mata kulakukan untuk melindungi mu dari luka akibat caraku mencintai mu"


"Jangan pernah lagi berfikir bahwa cintamu melukaiku kak, aku membutuhkan mu. Tak peduli seperti apapun cara mu mencintaiku."


Tatapan sendu dan suara lirihnya menggetarkan hati Noah, perlahan pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Evelyn, jantung Eve berdetak dengan cepat, dadanya terasa membuncah saat membayangkan apa yang akan Noah lakukan padanya.


Saat hembusan nafas Noah mulai menerpa wajahnya Evelyn memejamkan mata menunggu beberapa detik hingga sebuah kecupan hangat menyapa bibirnya. Kecupan lembut itu perlahan berubah menjadi luma**n kecil yang memabukkan. Noah merapatkan tubuhnya dan memeluk gadis itu dengan begitu erat. Setelah dirasa udara semakin menipis Noah melepaskan pertautan bibir mereka, menyisah kan wajah Evelyn yang merona merah. Keduanya tetap saling pandang dengan nafas yang terengah.


Sejenak keduanya kembali terdiam dengan mata yang saling bertaut. Hingga suara perut Evelyn berbunyi, wajah Evelyn kembali merona menahan malu. Setelah seharian tak ada apapun makanan yang masuk ke perutnya baru sekarang ia merasakan lapar.


Noah terkekeh melihat kekasihnya yang tersipu. "Kamu lapar sayang, ayo kita cari makanan" Ucap Noah sambil tertawa geli. Pria itu menarik pinggang Evelyn agar lebih rapat pada tubuhnya, tak menghiraukan wajah Evelyn yang semakin merona.


"Aku baru sadar rumah ini tampak sepi, tidak ada siapapun selain kita. Apa sesuatu telah terjadi?" Ucap Noah saat keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Wajah Noah sedikit cemas, terlebih saat mengingat Cilla dan mamanya. Ia tak menyangka untuk sesaat ia lupa diri karena terlalu fokus mencurahkan perasaan nya.


Noah merogoh ponselnya untuk menghubungi sang mama, namun ia tak melepaskan rangkulannya pada pinggang Evelyn.

__ADS_1


"Hallo mama di mana? kenapa tidak ada siapapun di rumah ini?" Tanya Noah cemas saat panggilan nya tersambung.


"Mama dan penghuni yang lain sedang mengungsi sayang, tidak perlu khawatir. Nikmati waktu berdua kamu bersama Evelyn. Kalian butuh waktu berdua setelah berpisah sekian lama. Berbahagialah sayang, jangan khawatirkan apapun" Suara mamanya terdengar bahagia, tak menunggu jawaban Noah sambungan telfon telah diputus oleh sang mama.


Noah menoleh pada Evelyn dengan mengulum senyum yang membuat wajah Evelyn semakin dipenuhi tanda tanya.


"Mereka begitu pengertian Eve." Ucap Noah sambil tersenyum simpul.


"Mama dan yang lain sedang memberikan kita waktu untuk kembali merajut apa yang sempat terberai sayang" Lanjut Noah saat melihat tanya yang masih tercetak di wajah Eve


"Cilla gimana?" Eve terlihat khawatir. Perlahan Noah mendaratkan kecupan di pipi gadis itu hingga kembali membuat gurat merah di wajah Eve.


"Jangan fikir kan Cilla dulu, mama bilang tidak perlu khawatir. sepertinya Cilla mengerti mama dan papanya sedang butuh waktu berdua" Evelyn begitu bahagia dengan kalimat terakhir yang Noah ucapkan. Semua tak lagi sebatas mimpi, dia dan Noah telah benar-benar bersatu kembali, Evelyn tersipu membayangkan mereka akan menjadi mama dan papa dari Cilla serta adik-adiknya kelak. Apa khayalan ini terlalu jauh?


"Apa kekasihku ini sedang cemburu hem? Aku tersenyum karena memikirkan sesuatu dan kemudian aku sadar bahwa khayalan ku terlalu tinggi" Ucap Evelyn jujur.


"Aku membayangkan benar-benar menjadi mama dari Cilla dan anak-anak kita nanti. Maaf aku terlalu percaya diri" Lanjut Eve terkekeh malu. Namun mata Noah berbinar dengan sangat bahagia mendengar pengakuan Evelyn. Ia sangat terkejut akan pemikiran Evelyn yang tak berani ia khayal kan.


"Kata siapa itu khayalan yang terlalu tinggi? kita akan mewujudkan itu secepatnya. Kamu bersedia?" Evelyn tersentak dan menatap Noah


"Benarkah?" Gumam Evelyn lirih.


"Tentu sayang, asal kamu bersedia. Aku malah tak berani bermimpi karena aku takut kamu tidak mau melangkah sejauh itu bersama ku" Evelyn menghambur ke pelukan Noah.

__ADS_1


"Aku mau" Eve menyesapkan wajah nya ke dada Noah, menyembunyikan rona malu wajahnya. Evelyn bisa merasakan detak jantung Noah yang begitu cepat.


Noah melepaskan pelukan nya dan memandang wajah Evelyn saat kembali mengingat sesuatu.


"Jadi, kita mau cari makan keluar? sepertinya mbak tidak sempat memasak karena diboyong paksa oleh mama" Keduanya tertawa, membayangkan mereka semua pergi diam-diam.


"Aku saja yang masak kak"


"Kamu bisa masak?" Tanya Noah dengan pandangan ragu.


"Kakak lupa aku punya warung makan di dekat kantor Satria?" Ucap Evelyn sedikit menyombongkan diri.


"Ah iya aku lupa sayang. Jadi sudah sedekat apa kamu sama Satria? 3 tahun selalu bertemu tidak mungkin jika kamu tidak menaruh hati sama sekali padanya. Aku benar-benar kesal membayangkan nya"


Evelyn menatap Noah dengan gemas.


"Kakak tak pernah pergi dari hatiku, lantas Satria harus aku taruh di mana sementara kakak sudah memenuhi keseluruhan tempat di hatiku hingga tak ada sedikitpun lagi celah untuk orang lain memasukinya"


Evelyn lega Noah tampak merona karena rayuan nya.


"Kakak tidak memikirkan bagaiman hancurnya aku? bahkan kakak sudah menikah dengan orang lain" Evelyn hanya ingin menggoda Noah, tak ada sedikitpun rasa cemburu yang tersisah pada Syahira yang telah begitu baik padanya. Namun Noah terlihat begitu salah tingkah, wajahnya penuh rasa bersalah.


"Maaf sayang, aku tidak pernah menyangka bahwa kamu masih mencintaiku. Karena nya aku bersama Syahira. Jika saja aku tau perasaan mu yang sebenarnya. Tapi Eve bolehkah jika aku tidak menyesal atas apa yang terjadi? karena menyesali semua ini sama saja aku menyesali keberadaan Cilla. Maafkan aku Eve" Wajah itu berubah begitu mendung, membuat Evelyn dirundung sesal.

__ADS_1


"Nggak kak, aku hanya bercanda. Aku malah berterimakasih pada kak Syahira karena dia menemani saat kamu terluka karena aku. Jangan pernah di sesali kak. Apa yang sudah terjadi sama sekali tidak merubah perasaan cintaku padamu. Justeru karena Cilla kita bisa bersama sekarang" Noah menatap Evelyn dengan lega. Ia benar-benar beruntung bisa memiliki Evelyn dengan pemikiran yang sudah semakin dewasa.


__ADS_2