Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
Bab 22. Aku Alea Bukan Velin


__ADS_3

Malam yang begitu sepi Alea duduk sendirian di ruang tengah sambil menonton televisi, Kakek Hutama sudah tidur, Papa mertuanya sedang ada bisnis entah dimana? Sedangkan Mama mertua yang menyebalkan belum pulang dari acara arisan padahal sudah jam 7 malam, Sean juga belum pulang dari kantor.


Sepi rasanya biasanya ada teman berdebat ini hanya bisa mendengarkan televisi bicara saja.


"Kruyukkk...."


Saat perutnya berbunyi karena lapar, Alea bergegas pergi ke dapur namun saat hendak beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba Mama mertuanya pulang.


"Enak ya, di rumah cuma ongkang-ongkang kaki saja," cetus tiba-tiba dengan tatapan tidak suka pada Alea.


"Kerjaannya nonton televisi, ngabisin uang Sean, ya enaklah jadi istrinya Sean," lanjutnya dengan sengaja.


Beginilah, tidak ada angin tidak ada hujan selalu saja mencari masalah. Padahal dunia baru saja merasa tenang, tapi wanita menyebalkan ini datang dan mengusik ketenangan ini.


Seandainya aku tidak butuh uang untuk operasi Ibuku dulu aku tidak akan mau menikah dengan Sean.


"Bingung soalnya Tan, semua sudah di kerjakan para Art. Lalu duit Mas Sean terlalu banyak, jadi aku bantu saja untuk menghabiskan duit Mas Sean dengan baik," sahut Alea dengan berani.


"Berapa uang yang kamu inginkan? Tinggalkan Sean, biarkan Sean menikah dengan wanita yang hidupnya sepadan!" tanya Gina dengan tatapan penuh Hina.


"Aku tidak mau uang, aku hanya mau Mas Sean saja. Lagian aku cukup punya Mas Sean, uang dia jauh lebih banyak," jawab Alea yang lagi-lagi begitu berani.


"Jika aku menerima uang dari Tante, ya sekali di kasih saja. Tapi kalau Mas Sean kapan pun aku minta pasti langsung di kasih," cibir Alea penuh rasa bangga.


Mertua seperti Gina itu harus di lawan, jangan mentang-mentang dia orang kaya terus bisa seenaknya pada Alea.


Benar kata Alea, uang Sean juga banyak jadi menerima uang dari Mama mertuanya yang begitu reseh ya tentunya itu bukan pilihan dan yang ada semuanya akan kacau balau.


"Benar kataku, kamu menikah dengan Sean itu hanya karena uang. Jika Sean orang miskin aku yakin kamu tidak akan mau," ujar Gina tanpa memikirkan perasaan Alea sedikitpun.

__ADS_1


"Pantas orang miskin seperti kamu, menikah dengan orang kaya ya ujung-ujungnya uang" lanjut Gina sambil berlalu pergi meninggalkan Alea.


Dalam hati Alea, beri aku kesabaran ya Tuhan! Padahal pernikahan kontrak yang terjadi ini kan Sean dan aku sama-sama membutuhkan, dia butuh aku untuk segera menikah demi harta warisannya juga, lalu aku juga mau melakukan pernikahan kontrak ya demi kesembuhan Ibuku. Orang kaya selalu berpikiran kalau orang miskin itu hanya ingin hartanya saja, padahal aku tidak seperti itu sudah di bayarkan biaya operasi Ibuku saja aku sudah sangat bersyukur sekali dan tidak pernah sedikitpun aku memikirkan untuk menguasai atau mendapatkan harta dari Sean. Lagian cepat atau lambat aku dan Sean juga akan segera bercerai.


Alea melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, perasaan seperti di cabik-cabik oleh mulut pedas sang Mama mertua yang tidak punya hati sama sekali.


Sesampainya di kamar, Alea merebahkan tubuhnya di atas sofa. Padahal Sean belum pulang dan ia bisa saja tidur di atas ranjang milik Sean yang empuk itu, tapi Alea tidak melakukan itu karena Alea tahu batasannya dan Sean juga memerintahkan dirinya tidur di sofa jadi sedikitpun Alea tidak berani menyentuh ranjang mewah milik Sean.


***


Jam menunjukkan pukul 10 malam dan Sean belum kunjung pulang ke rumah, entah laki-laki tampan itu kemana? Alea juga tidak tahu dan tidak berniat mencari tahunya, bukan apa-apa tapi itu bukan urusannya juga, lagian masalah pribadi tidak boleh di ikut campurkan dalam kontrak pernikahan yang sedang berjalan.


"Ceklek...!!"


Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat Alea langsung beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang membuka pintu kamarnya?


"Apa sih? Lepaskan aku! Aku bukan Velin," kata Alea sambil meronta-tonta, tapi Sean malah memperat pelukannya dan berulang kali mencium wajah cantik Alea.


"Sean! Lepaskan kamu sedang mabuk," kata Alea dan Sean tidak perduli, ia mengunci pintu kamar lalu membawa Alea ke kasur.


"Velin sayang, aku tidak mabuk," katanya dengan suara lunglai, Sean tadi minum biarpun sedikit Sean itu tidak kuat minum jadi langsung lunglai seperti itu.


Sean menjatuhkan tubuh Alea di atas ranjang tempat tidur, saat ada kesempatan untuk lepas dari Sean, buru-buru Alea mau menghindar namun belum sempat Alea melakukan itu, Sean dengan cepat menahannya dan kini Alea kembali di jatuhkan di atas ranjang dan sekarang sudah berada di bawah kungkungan tubuh kekar Sean.


"Sean lepaskan aku! Aku Alea bukan Velin," dengan kuat Alea meronta tapi kalinya sudah di kunci oleh kedua kaki Sean dan kedua tangannya di kunci dengan kedua tangan Sean juga.


Entah apa yang Sean minum tadi di club malam saat bersama para teman-temannya itu, entah saat sampai di rumah tubuhnya tiba-tiba merasa panas dingin dan ingin sekali meluapkan sesuatu.


***

__ADS_1


"Kok Rin biasa saja, tidak ada reaksi dia," ujan Reno kecewa, padahal ia sudah memasukkan obat perangsang di minuman Rin tapi Rin masih baik-baik saja.


Viki menatap Reno, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ren, aku rasa minuman Rin tertukar dengan minuman Sean, aduh gawat. Pasti anak itu panas dingin, mana masih lajang lagi dan Velin kan sedang di luar negeri," kata Viki dengan suara pelan pada Reno.


"Bodoh kamu Vik, ini akan menjadi malah petaka bagi kita semua. Besok Sean pasti akan mengamuk, kok bisa salah minum sih?" Reno sangat kesal, aturan Rin yang panas dingin ini malah Sean yang kena.


Kini Viki dan Reno hanya bisa sama-sama menghela nafas dan melihat besok apa yang akan terjadi?


***


Tanpa sadar akhirnya pergulatan panas di atas ranjang terjadi begitu saja, Alea sudah tidak kuat menahan Sean yang begitu ganas malam ini.


Kesuciannya yang selama ini ia jaga kini terang-terangan di renggut oleh Sean Pranata Hutama. Hal yang seharusnya tidak terjadi kini sudah terjadi, Sean telah melakukan hal yang di larang di surat perjanjian kontrak.


Pakaian Sean dan Alea sudah berserakan entah kemana?


Setelah melakukan hal yang tak seharusnya, kini Sean malah tidur nyenyak sambil memeluk Alea dengan erat. Alea menangis, marah sungguh marah tapi kekuatan Sean begitu kuat, aku tidak bisa apa-apa saat dia menguasai tubuhku.


Pagi hari kemudian, Sean cukup kaget melihat Alea berada di pelukannya.


"Apa yang terjadi? Alea, kenapa kamu ada di atas ranjangku?" Sean tampak bingung sembari mengingat kejadian semalam.


Alea malah menangis, membuat Sean semakin bingung.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2