Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
BAB 60 PERGI


__ADS_3

Matahari kini mulai menampakkan sinarnya, Karin bangun dengan badan yang terasa begitu segar, tadi malam ia tidur dengan sangat nyenyak, tidak ada mimpi buruk yang ia alami seperti biasanya


Karin membuka selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, saat bangun dari tempat tidur Karin baru menyadari jika tadi malam ia tidak tidur sendirian melainkan ada Arsen yang ikut tidur bersamanya


Perasaan Karin tadi malam ia sudah mengunci pintu kamarnya tapi kenapa Arsen masih bisa masuk dan tidur bersamanya


Oh iya Karin lupa jika Arsen pasti punya kunci duplikat setiap pintu yang ada di dalam rumah ini


Karin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap pergi ke rumah sakit


*Drttt Drttt Drttt


Arsen terbangun akibat mendengar suara dering ponsel Karin yang di letakkan di bawah bantal


Dengan mata yang masih mengantuk Arsen berusaha melihat siapa orang yang pagi-pagi sudah menghubungi Karin


"Mama? ada apa ini?"


Rasa kantuk Arsen seketika langsung hilang saat ia melihat nama mama mertuanya yang muncul di layar ponsel Karin, tanpa pikir panjang Arsen pun langsung mengangkat panggilan dari mama mertuanya itu


" Iya hallo ma, kenapa ma?" tanya Arsen


"Arsen, tolong cepat kesini papa kamu-" Agnes tidak bisa melanjutkan ucapannya ia tidak sanggup menahan tangisannya


"Mah, papa kenapa??" Arsen semakin panik saat mendengar suara tangisan mertuanya


Tiba-tiba perasaan Arsen terasa tidak enak, saat ini pasti sedang terjadi sesuatu yang buruk dengan papa mertuanya


Karena pikiran Arsen sudah kemana-mana ia pun dengan cepat mengakhiri panggilan dari mertuanya


*Dok dok dok


Arsen mengetuk pintu kamar mandi dengan sangat bar-bar hingga membuat Karin yang ada di dalam kamar mandi sampai terlonjak kaget


"Rinn, ayo kita ke rumah sakit cepetan!"


"Rinn, papa kamu gawat ayo cepet!"


Dengan cepat Karin langsung membuka pintu kamar mandi setelah mendengar ucapan Arsen tentang kondisi papanya


"PAPA KENAPA!!" Tanya Karin hatinya sudah merasa tidak karuan ia keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya


"Ayo buruan ke rumah sakit sekarang" tegas Arsen ia membantu Karin untuk mengambil baju gantinya

__ADS_1


Karin dengan cepat mengambil baju yang ada di tangan Arsen ia dengan cepat memakai baju tersebut dengan sembarangan, kini sudah tidak ada rasa malu lagi baginya bahkan untuk berganti pakaian di depan Arsen di dalam otak Karin ia hanya ingin cepat pergi ke rumah sakit


Sampai di rumah sakit Arsen berlari di koridor mengikuti Karin yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya


Sampai di depan ruangan Arsen merasa iba melihat mertua dan istrinya yang kini sedang saling berpelukan dan menangis melihat dokter yang sedang berusaha menyelamatkan papa mertuanya yang kondisinya kini semakin memburuk


Penampilan Karin kini sangat acak-acakan rambutnya yang masih basah dan belum di sisir membuat tampilannya terlihat sangat menyedihkan


Arsen bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya untuk mengabari kedua orang tuanya mengenai kondisi mertuanya sekarang


Tak lama dokter keluar dari dalam ruangan Anthony dengan wajah yang seperti memberi isyarat akan keadaan yang buruk


"Dokter gimana kondisi papa saya?" tanya Karin dengan tatapan mata yang penuh harap akan keadaan papanya agar baik-baik saja


Dokter terlihat menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Karin


"Kita harus segera melakukan operasi secepatnya karena pendarahan di otak pasien semakin parah"


Jawaban sang dokter terasa seperti benda keras yang menghantam dada Karin, mata Karin berkaca-kaca ia tau operasi kepala memiliki resiko yang besar


"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan suami saya dokter" ucap Agnes penuh keyakinan mempercayakan semuanya kepada sang dokter


"Baik, kami akan segera mempersiapkan ruangan operasi"


Agnes berharap suaminya benar-benar bisa kembali sehat seperti semula agar bisa hidup menua bersamanya ia benar-benar tidak akan sanggup jika harus kehilangan separuh jiwanya yang ada di suaminya


"Papa pasti nanti bakal bangunkan, tidurnya jangan lama-lama ya pa"


"Kata dokter papa harus segera dioperasi, papa jangan takut ya, tenang aja Karin selalu temenin papa disini"


Karin terus berbicara seakan-akan papanya bisa mendengar suaranya


Agnes mengelus lembut kepala suaminya sembari terus berdoa kepada Tuhan agar memberikan kesempatan untuk bersama kembali dengan suami tercintanya


"Papa! ma papa bangun" ucap Karin saat melihat mata Anthony yang perlahan terbuka


Karin ingin segera memanggil dokter namun tangannya di genggam erat oleh papanya


"Papa aku mau panggil dokter sebentar ya" ucap Karin sambil terus menangis bahagia namun Anthony tetap kekeh menggenggam tangan anak tercintanya


Mata Anthony terus melihat ke arah Arsen yang baru saja masuk ke dalam kamar, melihat itu pun Arsen datang mendekat ke bangsal


"Papa akhirnya sadar"

__ADS_1


Mulut Anthony bergerak seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Arsen


"Ti-ti-p K-a-r-i-n" ucap Anthony dengan terbata-bata pada menantunya


Agnes pun kembali menangis karena merasakan firasat buruk yang sepertinya akan terjadi


"Iya pa Arsen pasti bakal selalu jagain Karin selamanya" jawab Arsen meyakinkan papa mertuanya


Anthony terus menatap ke arah anak dan istrinya yang kini berada di sampingnya


Nafas Anthony mulai terdengar sesak, Arsen berlari memanggil dokter untuk memeriksa keadaan mertuanya


Perlahan mata Anthony tertutup beriringan dengan suara monitor Ekg yang berdenging menandakan detak jantung yang sudah berhenti


"Enggak PAPAAAA! Karin mohon jangan pergi" teriak Karin histeris


Sementara itu Agnes tertunduk menangis sembari mencium kening suami tercintanya


Dokter datang di susul beberapa perawat yang membantu menyelamatkan nyawa Anthony


Arsen datang membawa Karin ke dalam dekapannya, Karin terus menangis histeris sambil memukul dada Arsen


"PAPAAAA! JANGAN PERGI"


"ARSEN PAPA KU PERGI"


"PAPAAA"


Dengan sekuat tenaga Arsen menahan tubuh Karin agar terus berada di pelukannya


"DOKTER SELAMATKAN PAPA SAYA DOK!"


"SAYA MOHONN!"


Karin semakin histeris saat melihat para perawat melepaskan semua alat medis yang menempel di tubuh papanya


"TOLONG JANGAN DI LEPAS, PAPA SAYA MASIH HIDUP"


"PAPAAAA!"


Hati Arsen ikut merasakan sakit saat mendengar tangisan seorang anak perempuan yang kini kehilangan laki-laki yang paling ia cintai


Karin berlari memeluk dengan erat tubuh papanya yang kini sudah benar-benar tidak berdaya di atas bangsal rumah sakit

__ADS_1


Agnes terus menangis di samping tubuh suaminya yang kini sudah pergi meninggalkan dirinya


"Pergilah dengan tenang aku ikhlas"


__ADS_2