
Karin berdiri di samping pusaran makam papanya, ia datang sendirian karena Arsen tiba-tiba harus pergi menyelesaikan pekerjaannya
Rumput di atas makam Anthony kini sudah terlihat tumbuh subur dan terawat, Karin menaburkan bunga mawar merah dibatas pusaran papanya
"Halo pah, maaf ya Karin baru sempet ke sini lagi"
"Papa pasti kangen banget kan sama mama, maaf ya pa Karin belum bisa bawa mama kesini"
"Mama masih belum sanggup melihat rumah baru papa"
Air mata Karin luruh membasahi wajah cantiknya
Bohong jika Karin mengatakan ia sudah rela dengan kepergian papanya, ia berpura-pura kuat agar mamanya tidak semakin sedih
Selama ini Agnes terus menolak saat di ajak pergi ke makam suaminya, Karin tau jika mamanya belum bisa menerima kenyataan, setiap malam Karin sering mendengar mamanya menangis sendirian di dalam kamar
Karena kehilangan yang paling menyakitkan adalah kematian karena tidak perduli sekuat apa kita merindukannya dia tidak akan pernah bisa kembali
Karin duduk di samping makam papanya, seluruh tubuhnya tertutup payung yang ia genggam di tangannya
"Papa tapi Karin bersyukur karena Tuhan mau mempertemukan Karin dengan Arsen sebelum papa pergi"
"Arsen sekarang sudah menepati janjinya untuk menjaga Karin, dia mencintai Karin pa dan selalu memperlakukan Karin dengan baik"
"Papa maafin Karin karena belum bisa membahagiakan papa"
Karin menumpahkan segala isi hatinya di atas pusaran makam Anthony
Ponsel Karin bergetar saat di lihat ternyata Arsen yang sedang menelfonnya
Karin mengusap air matanya karena ia harus segera kembali ke rumah, Arsen kini pasti sedang khawatir padanya
"Papa Karin pulang dulu ya, Karin janji bakal sering ke sini"
Dengan berat hati Karin melangkah meninggalkan makam papanya
~
Sampai di rumah Karin melihat Arsen yang sudah berdiri menunggunya di depan teras
"Kamu dari mana sayang? hmmm" tanya Arsen menyambut Karin yang baru saja turun dari dalam mobil
"Aku habis dari makam papa"
"Kenapa nggak tunggu aku pulang dulu,baru kita pergi sama-sama" Arsen menarik tubuh Karin ke dalam pelukannya
"Aku takut ngerepotin kamu"
Arsen memandang wajah Karin yang sedikit berkeringat
__ADS_1
*Cupp
Mata Karin terpejam saat Arsen mengecup bibirnya
"Nanti kalo kamu mau pergi harus izin dulu sama aku okey, seenggaknya kamu kabarin aku biar aku nggak nyariin kamu sayang" Arsen mencium seluruh wajah Karin dengan penuh cinta
"Hahaha geli!" Karin berusaha melepaskan dirinya dari pelukan tubuh Arsen
Arsen menggendong tubuh Karin membawanya masuk ke dalam rumah
"Sayang aku lapar"
"Kamu mau makan apa, biar aku bikinin" Karin menatap wajah suaminya dengan serius
"Mau makan kamu" ucap Arsen dengan seringai liciknya dan langsung membawa Karin masuk ke dalam kamar
"Aaaaaa.... kan tadi udahhhhh" teriak Karin yang tentunya tidak di hiraukan oleh Arsen
Dan terjadilah kembali pertempuran panas di dalam kamar yang membuat Karin terus mendesah akibat ulah suaminya
Sedangkan tanpa Karin sadari Netta kini baru saja sampai di rumahnya untuk mengambil baju yang sudah Karin buatkan untuk nya
Sebelumnya Netta sudah mengabari jika sore nanti ia akan datang ke rumah Karin namun Arsen tiba-tiba menyerang sehingga membuat Karin lupa dengan janji yang sudah ia buat dengan sahabatnya
"Karinnnn"
"Rinnnn"
"Apa gue masuk aja ya" gumam Karin dalam hati karena pintu rumah Karin sedang terbuka cukup lebar
"Yaudah deh gue masuk aja" perlahan Netta masuk ke dalam rumah
"Sepi amat nih rumah" gumam Netta
Netta memeriksa seluruh lantai bawah namun ia tidak menemukan siapa pun
"Di kamar kali ya" akhirnya Netta memutuskan untuk naik ke lantai dua
Baru saja sampai di ujung tangga paling atas Netta seperti mendengar suara aneh dari dalam kamar sahabatnya
Ketika Netta mendekat suara itu pun terdengar semakin jelas
"Ahhhh.... Ahhhh... Ahhh...."
Mata Netta melotot mendengar suara ******* Karin yang terdengar sangat jelas di gendang telinganya
Takut nanti dikira mengganggu Netta pun buru-buru pergi dari rumah Karin
"Sialan pantesan dari tadi di telfon nggak di angkat taunya lagi bercocok tanam di kamar" gumam Netta saat masuk ke dalam mobilnya
__ADS_1
Netta segera menjalankan mobilnya pergi sebelum ketahuan oleh Karin dan Arsen
~
Karin kini mulai merasa kelaparan setelah selesai meladeni Arsen yang benar-benar membuat tenaganya habis sehingga tubuhnya menjadi lemas tak berdaya
Tubuh Karin sedikit menegang saat Arsen memeluk tubuhnya yang polos dari belakang
"Aku laper" ucap Karin lalu berbalik menghadap ke arah Arsen yang sedang berbaring di belakangnya
"Kamu mau makan apa hmmm?" ucap Arsen sambil terus menciumi pundak istrinya
Karin memegang wajah Arsen agar berhenti menciumi tubuhnya
"Aku mau makan ayam goreng" ucap Karin dengan mata berbinar
Arsen pun gemas dengan wajah istrinya yang kini terlihat seperti anak kecil
"Okey sayang" ucap Arsen lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Daren
"Kamu telfon siapa?" tanya Karin
"Daren"
"Ih jangan kita kan bisa beli sendiri" ucap Karin merasa tidak enak karena harus merepotkan sekretaris pribadi suaminya
"Gapapa sayang" Arsen mengecup bibir Karin
Reflek Karin mengusap bibirnya membuat Arsen memandangnya dengan tatapan tajam, ia ingin memarahi Karin namun Daren keburu mengangkat panggilannya
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu"
"Belikan ayam goreng lalu antar ke rumah" perintah Arsen dengan sedikit membentak karena kesal
"Baik pak"
Arsen menutup panggilan telfonnya, Karin ingin kabur saat melihat tatapan Arsen kini yang seperti menusuk matanya
Perlahan Karin berusaha bangun dari tempat tidur, namun tangan Arsen dengan cepat menahannya
"Mau Kemana?"
"Ke kamar mandi" bohong Karin
"Aarsenn" teriak Karin saat Arsen menarik tangannya sehingga kini tubuhnya berada di bawah kukuhan badan kekar Arsen
Tanpa aba-aba Arsen langsung mencium bibir Karin dengan brutal
Tidak ada yang bisa Karin lakukan selain pasrah
__ADS_1
...****************...
jangan lupa like komen dan vote cerita ini ya