
Felicia datang dan disambut dengan ramah oleh semua karyawan perusahaan,
"Pak Arsen ada?" tanya felicia pada resepsionis yang ada di lobby perusahaan
"Ada Bu"
"Okey kalo gitu saya langsung ke atas aja"
"Baik Bu"
Felicia pun berjalan dan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai paling atas perusahaan tempat ruangan Arsen berada
"Eh bukannya Pak Arsen tadi datang sama kekasihnya ya" tanya sang resepsionis pada salah satu rekannya
"Ya ampun gimana ini bisa gawat"
"Hubungi Pak Daren aja sekarang, buruan!"
"Aduh nggak bisa, kayaknya Pak Daren nggak ada di mejanya"
Dua resepsionis yang sedang bekerja itu pun seketika menjadi panik mereka takut jika akan ada keributan saat Felicia mengetahui Arsen membawa kekasihnya sehingga mereka berdua pasti akan di pecat
*Ting
Pintu lift terbuka Felicia keluar dan dengan sumringah ia menghampiri Daren yang baru saja duduk di mejanya
"Pagi" sapa Felicia dengan ramah pada sekretaris pribadi anaknya tersebut
"Pa-pagi Bu"
"Arsen ada kan"
"A-ada Bu"
"Oke"
"Tapi Pak Arsen masih ada rapat Bu" Daren berusaha untuk mencegah Felicia agar tidak masuk ke dalam ruangan Arsen
"Gapapa biar saya tunggu di ruangan Arsen saja"
"Bu! kebetulan AC di ruangan Pak Arsen sedang di perbaiki"
"Bukannya AC kantor baru aja di ganti semua ya"
Felicia melihat dahi Daren bercucuran keringat padahal AC di dalam kantor sudah dingin
"Kamu sakit?" tanya Felicia karena khawatir dengan keadaan Daren yang tiba-tiba pucat
"Em..."ucapan Daren terputus saat Arsen dan Laura keluar dari dalam ruangan
"Aduhh mampus Pak Arsen pakek segala keluar lagi" gumam Daren
__ADS_1
"Mama" Arsen sangat terkejut melihat kehadiran mamanya yang tiba-tiba sudah ada di depannya
Arsen pun langsung melepas tangan Laura begitu saja
"Nggak mama jangan salah paham dulu, tadi Laura kesini cuma mampir bentar ma, Arsen sama Laura udah nggak ada hubungan apa-apa" jelas Arsen
"Kamu pikir mama bodoh Arsen, jelas-jelas mama liat kalian berdua keluar gandengan tangan"
"Tan..." Laura belum selesai bicara namun sudah di potong oleh Felicia
"Nggak! saya nggak mau ngomong sama kamu, dari dulu kamu selalu jadi ular di kehidupan anak saya" ucap Felicia sangat geram sambil menunjuk wajah Laura
"Mah..." Arsen merasa tidak enak dengan Laura akibat ucapan mamanya
"Apa!!! ingat ya Arsen selama kamu masih tetap berhubungan dengan wanita licik ini, mama nggak akan segan-segan mencoret nama kamu dari pewaris harta kekayaan keluarga Davidson" ancam Felicia
"Kamu jangan bikin keluarga kita malu Arsen, mama nggak akan rela kalo kamu pisah sama Karin, selamanya menantu mama cuma Karin nggak akan ada yang lain" sambung Felicia matanya menatap Laura dengan tidak suka, kemudian ia langsung pergi begitu saja
Arsen masuk ke dalam ruangannya ia langsung membuang semua barang yang ada di atas mejanya untuk menyalurkan emosinya
"Honeyyy" Laura datang ia berlari menghampiri Arsen
"Tenang dulu sayang, ayo duduk"
Laura mengarahkan Arsen untuk duduk di sofa, tangan Laura terus mengelus lengan Arsen agar lebih tenang.
Arsen memijat pelipisnya, ia tidak percaya dengan ucapan mamanya barusan yang tidak segan mencoret namanya dari pewaris kekayaan keluarga jika ia berpisah dengan Karin, jika begini berarti pernikahan kontraknya dengan Karin tidak ada gunanya.
"Iya aku tau kok honeyy"
Arsen membawa Laura ke dalam pelukannya ia dengan tulus mengusap kepala Laura, setelah pulang nanti Arsen berencana untuk membicarakan masalah ini dengan Karin di rumah
"Dasar wanita sialan untung aja dia mama Arsen, berani-beraninya ngehina gue sembarangan, awas aja nanti pasti bakal gue kasih perhitungan"
______
Karin baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah itu ia merapikan semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang, ia ada di butik sendirian karena semua karyawan sudah pulang lebih dulu
Hari ini Karin pergi tidak membawa mobil tadi pagi ia berangkat menggunakan taxi, Karin sangat senang karena hari ini butiknya ramai banyak pelanggan yang menyukai desain pakaiannya. Karin berharap butiknya nanti bisa berkembang menjadi lebih besar
Saat Karin baru saja keluar ia melihat Leo yang ternyata sudah ada di depan butiknya
"Leo ngapain lo ke sini"
"Gapapa emang gak boleh"
"Hahaha ya boleh aja sih, tapi tumbenan kesini ada apaan?"
"Wkwk gue juga gak tau tiba-tiba udah ada di sini"
Karin tertawa mendengar ucapan Leo yang seperti diluar nalar
__ADS_1
"Eh lo udah mau balik" tanya Leo
"Iya nih udah malem juga, gue mau istirahat"
"Mobil lo mana?" tanya Leo karena tidak melihat adanya mobil Karin
"Gue hari ini gak bawa mobil"
Seketika wajah Leo menjadi sumringah karena ia punya kesempatan untuk mengantar Karin pulang
"Oh yaudah kebetulan sama gue aja" tawar Leo dengan senang hati
"Nggak usah deh, rumah lo kan jauh beda arah lagi" tolak Karin karena ia tidak mau merepotkan Leo
Prinsip hidup Karin ialah sesuatu jika bisa ia kerjakan sendiri ia tidak akan mau merepotkan orang lain, sama seperti sekarang ia masih bisa pulang menggunakan taxi tidak perlu sampai merepotkan Leo untuk mengantarnya pulang
"Gue sekalian mau ke rumah temen gue Rin, satu arah kok sama rumah lo" Leo terpaksa berbohong agar Karin mau menerima tawarannya
Karin diam sebentar ia masih menimbang tawaran dari Leo
"Yaudah yuk" jawab Karin
"Yesss!" sorak Leo dalam hati
"Sini gue bawain" Leo mengambil tas kantong bawaan Karin yang cukup besar
"Eh jangan, itu berat biar aku aja yang bawa" Karin memperingatkan Leo yang kini sedang membawa tas miliknya
"Tenang, otot gue aja lebih gede dari pada tangan lu" ucap Leo meledek
Leo berjalan lebih dulu meninggalkan Karin yang bejalan mengikutinya di belakang
Tas besar milik Karin Leo letakkan di Kursi penumpang belakang, tak lupa ia juga membukakan pintu mobil untuk Karin
"Silahkan masuk nyonya" ucap Leo mempersilahkan Karin untuk masuk ke dalam mobilnya
"Hahaha oke makasih babuku" balas Karin membuat Leo tertawa
Setelah Karin masuk ia menutup pintu mobilnya dengan hati-hati
"Awas tangan lo tuan putri" Leo memastikan tangan Karin aman sebelum ia menutup pintu mobil
Karin tersenyum melihat perlakuan Leo yang sangat baik padanya, ia seperti dejavu dengan perlakuan Leo saat mereka berdua masih kecil dulu
"Leo bener-bener nggak pernah berubah" ucap Karin dengan suara lembutnya
Dari kecil Leo memang sangat perhatian dan baik pada Karin, sehingga saat masih kecil Karin sangat menyukai Leo
"Dah siap??" tanya Leo ketika baru saja masuk ke dalam mobil
"Dah Let's go" balas Karin dengan penuh semangat
__ADS_1