
Leo datang menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan
"Hallo guys"
"Eh bawa apaan banyak banget" ujar Karin melihat bawaan Leo yang lumayan banyak
"Nih gue tadi sekalian mampir beli makanan"
Leo menatap Netta yang sedari ia datang tidak melihat ke arah dirinya
"Mana nyokap lo Rin" ujar Leo ia ingin menyapa mama Karin
"Kayaknya tidur di kamar"
Leo pun ber oh ria
Ekor mata Netta melirik ke arah Leo yang duduk di samping Karin
"Ngapain coba duduk sebelah Karin kan di samping gue juga kosong" Netta ngedumel jengkel
"Nett jangan diem aja dong" ujar Karin karena dari tadi sahabatnya itu hanya diam memainkan ponselnya
"Iyaa iyaa bawel banget" balas Netta dengan sewot
Leo pun hanya bisa tertawa melihat tingkah judes Netta
"Eh makan dulu yuk nanti keburu dingin nggak enak" ajak Leo
Karin pun menarik tangan Netta agar ikut duduk di sampingnya
Akhirnya mereka bertiga pun menikmati makanan yang sudah Leo bawa
Setelah selesai makan mereka bertiga pun asik mengobrol sampai tak terasa waktu sudah sore
Mobil Arsen kini sudah sampai dan terparkir rapi di depan rumah mertuanya
Arsen sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya, dari tadi di kantor ia terus uring-uringan karena ingin segera pulang merindukan istrinya
Dahi Arsen mengkerut melihat ada dua mobil yang tampak asing baginya yang juga terparkir rapi di samping mobilnya
Tanpa pikir panjang Arsen pun masuk ke dalam rumah
Seketika hati Arsen terbakar cemburu melihat Leo yang sedang duduk berdempetan dengan istrinya
"EHEMM!" Arsen sengaja berdehem dengan keras agar istrinya sadar dengan kehadirannya
Mereka bertiga malah masih tetap asik melihat film yang mereka putar di tv tanpa memperdulikan Arsen yang sedang berdiri dengan kobaran api cemburu
"Anjir Rin ada laki lu di depan pintu" bisik Netta takut melihat wajah Arsen yang mengerikan
Karin pun langsung menoleh ke arah Arsen yang kini sedang menatapnya tajam
"Loh kapan kamu pulang" cicit Karin sambil meremas jari-jari tangannya melihat ekspresi wajah suaminya yang seperti ingin menelannya
Netta yang takut akan terjadinya perang dunia langsung menyeret Leo untuk pamit pulang
"Rin gue sama Leo balik duluan, kayaknya laki lu marah tuh gue takut, bye!" Netta pun menyeret Leo pergi
Arsen pun meninggalkan Karin begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun
"Haduh alamat ngambek nih"
__ADS_1
Dengan setengah berlari Karin mengejar Arsen yang kini sudah masuk ke dalam kamar
"Yang" panggil Karin karena tidak melihat Arsen di dalam
"Oh doi mandi" gumam Karin mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi
Karin pun turun ke dapur membuatkan secangkir teh hangat untuk suaminya
Saat Karin kembali ke kamar ia melihat Arsen sudah mengenakan baju rumahan dan rambutnya yang masih basah dibiarkan berantakan
"Ya ampun ganteng banget laki gue"
Perlahan Karin mendekati suaminya yang sedang marah
"Yang kamu marah?"
"-" tidak ada jawaban dari Arsen ia masih jengkel dengan istrinya yang duduk berdekatan dengan laki-laki lain apalagi laki-laki itu Leo orang terang-terangan pernah mendekati Karin
"Ayo pulang" ujar Arsen dengan nada dinginnya
Karin pun menurut ia tanpa protes mengikuti perintah suaminya
Karin dan Arsen pun pamit ke pada mama Agnes untuk pulang ke rumah
Di sepanjang perjalanan Arsen hanya diam ia tidak berbicara sedikit pun membuat Karin menjadi kesal
Mobil Arsen kini tiba di pekarangan rumahnya ia turun terlebih dahulu meninggalkan istrinya yang masih berada di dalam mobil
"Ih nyebelin banget sih, pakek ngambek segala kayak anak kecil"
Karin memikirkan bagaimana cara membujuk suaminya agar tidak marah lagi dengannya
"Okey kita lihat seberapa lama suaminya itu bisa berpegang teguh pada pendiriannya"
Karin masuk ke dalam kamar melihat suaminya yang kini sedang duduk menyender di atas tempat tidur sambil sibuk memainkan ponselnya
Suaminya itu hanya melirik sekilas dirinya lalu kembali melihat ke layar ponselnya
Karin membuka lemari pakaiannya ia mengambil satu set lingerie berwarna hitam, lalu dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi
"Lihat saja sampai mana kamu kuat mengacuhkan aku"
Pintu kamar mandi terbuka, Arsen melihat istrinya yang keluar menggunakan pakaian dinas malam yang langsung membuatnya panas dingin
"Oh ****" Arsen merasakan benda pusakanya mulai berdiri
Sepertinya istrinya itu sengaja menguji dirinya
Karin merangkak naik ke atas tempat tidur berbaring memunggungi suaminya
Arsen susah payah menelan saliva nya, tubuh molek istrinya benar-benar sangat menggoda apalagi dengan pakaian yang kurang bahan seperti itu membuat Arsen hilang akal
Tubuh Karin benar-benar membuat sesuatu milik Arsen yang gagah itu bangun
Karin berpura-pura memejamkan matanya, ia tau suaminya kini pasti mati-matian menahan diri untuk tidak menerkamnya
Arsen mematikan lampu kamarnya, Karin pun merasa sedikit takut karena ia tidak biasa tidur dengan lampu yang padam namun ia tetap mencoba untuk tenang
Mulut Karin hampir menjerit saat tangan Arsen tiba-tiba meremas gunung kembar miliknya
"Ih nyebelin banget sih" omel Karin
__ADS_1
"Kamu yang mancing aku sayang" bisik Arsen dengan suara serak di telinga Karin
Badan Karin meremang saat tangan Arsen menjamah seluruh tubuhnya
Bibir Arsen mencium leher jenjang Karin yang sangat menggoda
Karin merasakan sensasi yang luar biasa saat tangan kekar Arsen *******-***** gunung nya
"AKHHHHH sayang" Karin sengaja melepaskan desahannya membuat Arsen semakin menggila
Kini bibir Arsen pindah menghisap gundukan kenyal istrinya sehingga meninggalkan banyak bekas di sana
Arsen menuntun tangan Karin untuk memegang senjata miliknya
Karin pun tanpa ragu meremas benda milik suaminya itu hingga membuatnya mengerang nikmat
"Nakal kamu sekarang hmmm?"
Arsen mencium bibir Karin dengan menggebu lidahnya menjelajah ke dalam rongga mulut istrinya
Karin gelonjotan merasakan kenikmatan yang di berikan oleh suaminya
Bibir Arsen turun menciumi setiap lekuk tubuh istrinya yang kini berada di bawah kungkungannya
"Yang Ahhhhh"
Arsen menggenggam tangan Karin dan mengikatnya dengan dasi, ia ingin memberikan hukuman untuk istrinya yang nakal
"Eh tangan aku kenapa di iket gini"
"Ini hukuman buat kamu sayang, nikmati permainannya"
"Ja-" belum sempat menyelesaikan ucapannya mulut Karin sudah di bungkam oleh Arsen dengan bibirnya
Tanpa aba-aba Arsen memasukkan senjatanya yang sudah sangat keras ke sarang istrinya
Karin hanya bisa mengerang karena Arsen terus mencium bibirnya, belum lagi tangannya yang di ikat membuatnya hanya bisa pasrah
Arsen bermain begitu cepat di tubuh istrinya, ia menghentakkan pinggulnya dengan keras sampai membuat istrinya melayang tidak karuan
Sampai akhirnya mereka berdua sampai di puncak kenikmatan bersama
Arsen merebahkan dirinya di atas tubuh istrinya
"Yang lepasin tangan aku" ujar Karin dengan nafas yang masih tersengal-sengal
Arsen pun menuruti permintaan istrinya ia melepas ikatan dasi yang ia ikat di atas tempat tidurnya
Karin bersiap untuk tidur badannya sangat lelah seperti remuk karena Arsen menghajarnya tanpa ampun
"Sayang satu ronde lagi"
"Udah ah capek"
Arsen tidak menggubris ia malah kembali meremas gundukan kenyal yang sudah menjadi favoritnya
Yah bagaimana lagi Karin pun hanya bisa pasrah
...****************...
...like komen dan vote cerita ini ya biar author lebih semangat up nya ...
__ADS_1