Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
BAB 32 Rencana Jahat


__ADS_3

Dari jauh Laura menatap Karin dengan tatapan penuh kebencian, senyuman miring terlukis jelas di bibir tipisnya


Mata Laura menjadi penuh amarah melihat Arsen yang sedang mengecup tangan Karin


Laura tidak akan diam saja melihat hubungan Karin dan Arsen yang mulai dekat, Laura akan melakukan apapun untuk menjauhkan Karin dari hidup Arsen jika perlu ia akan melenyapkan Karin agar Arsen tetap menjadi miliknya


"Aku nggak akan ngebiarin Arsen jadi milik orang lain" gumam Laura dalam hati ia mengepalkan tangannya dengan rasa amarah yang menguasai dirinya


Karin sedang menikmati pesta bersama para tamu undangan kini ia mencoba berbincang di pinggir kolam bersama para klien, sedangkan Arsen berada jauh dari Karin ia sedang berbicara dengan Anthony dan beberapa orang penting perusahaan lainnya


Karin mulai merasa bosan berada di tengah pesta, ia berjalan ke meja minuman untuk mengambil segelas wine


Saat sedang berjalan Karin tidak sengaja di senggol oleh seseorang hingga ia kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke dalam kolam


"Byurrrr"


Semua orang pun melihat ke arah kolam renang, Karin dengan susah payah bernafas dari kecil Karin memang tidak bisa berenang


"Sialan gue masih belum mau mati" umpat Karin yang berusaha menggapai pinggiran kolam


Dada Karin sudah mulai sesak, dalam hati Karin sudah mengira ia akan segera mati karena kehabisan nafas


Semua orang terlihat panik melihat Karin yang hampir tenggelam


"Aaaaaaa!!! mantu mama tenggelam, Arsen! tolongin Karin di kolam" Felicia teriak menghampiri Arsen


Tanpa ba-bi-bu Arsen berlari sambil membuka setelan jas mahalnya, ia melemparkan jas miliknya sembarangan


Dengan berani Arsen lompat masuk ke dalam kolam menolong Karin yang sudah hampir tenggelam


Arsen membawa tubuh Karin yang sudah lemas ke pinggir kolam


Semua orang bisa melihat wajah Arsen yang terlihat begitu cemas, tangan Arsen mencoba menekan-nekan dada Karin agar air yang masuk ke dalam tubuh Karin bisa keluar


"Hey Rin!, bangun!


Ucap Arsen sembari tangannya berulang kali memukul pelan pipi Karin


"****!!!" umpat Arsen karena Karin tak kunjung sadar


Arsen mengangkat badan Karin dan membawanya pergi ke rumah sakit

__ADS_1


Arsen meminta supir untuk membawa mobilnya sedangkan dirinya duduk di belakang sembari memangku Karin yang tak sadarkan diri


"Sial!!, ayo percepat mobilnya!! perintah Arsen dengan keras


"Ba-baik pak" jawab pak Agus supir pribadi keluarga Davidson dengan terbata-bata, ia begitu takut melihat wajah Arsen yang begitu panik


Sedangkan di balik tembok Laura sedang tersenyum penuh kemenangan setelah selesai mendorong Karin ke dalam kolam


"ini baru permulaan wanita ******" lirih Laura


Sampai di rumah sakit Arsen langsung menggendong Karin masuk ke dalam IGD, Arsen memijat pangkal hidungnya sembari menunggu Karin yang sedang ditangani oleh para dokter


"Jangan mati, saya nggak mau jadi duda muda" lirih Arsen ia memejamkan matanya sambil duduk di kursi tunggu rumah sakit


Setelah beberapa menit akhirnya Arsen melihat dokter yang memeriksa Karin keluar dari ruangan


"Bagaimana Istri saya dokter?" Ucap Arsen


"Istri bapak baik-baik saja dan sudah sadar, untung saja istri bapak segera di bawa ke sini sehingga tidak terlambat mendapat pertolongan"


Arsen lega mendengar perkataan dokter jika Karin tidak apa-apa


"Baik pak sama-sama, kalau begitu silahkan masuk saya pergi dulu"


Arsen bergegas masuk ke dalam ruangan


"Gimana?? kamu nggak papa kan" tanya Arsen ketika melihat Karin yang sudah sadar


"Gapapa kok" jawab Karin pelan karena badannya masih terasa lemas


"Lain kali hati-hati biar nggak kepleset lagi"


Karin tampak berfikir ia mencoba mengingat kejadian tadi


"Kayaknya aku nggak kepleset deh"


Arsen bingung dengan ucapan Karin


"Kayak ada seseorang yang emang sengaja dorong aku" ucap Karin


Karin sadar ini semua pasti perbuatan seseorang yang tidak menyukai dirinya, orang itu pasti berusaha untuk membunuhnya

__ADS_1


"kayaknya gue harus hati-hati mulai sekarang" gumam Karin dalam hatinya


Kini Karin sudah berada di dalam kamarnya, untung saja dokter tadi mengizinkan dirinya untuk pulang sehingga Karin bisa kembali tidur nyenyak di rumah


Arsen datang membawakan makan malam untuk Karin


"Nih makan" Arsen menyodorkan nampan yang ia bawa ke pangkuan Karin


"Nggak gue nggak laper" tolak karin


"Nggak usah ngeyel, dari tadi siang kamu belum makan apa-apa"


"Gue nggak laper" kekeuh Karin


Arsen menarik nafas panjang karena menghadapi Karin bisa membuatnya sakit kepala


Karena malas ribut akhirnya Arsen langsung mengambil makanan di pangkuan Karin dan membawanya pergi


"huss huss huss pergi sana" ucap Karin lirih agar tidak bisa di dengar oleh Arsen


Akhirnya Karin bisa dengan tenang berisitirahat tanpa gangguan dari Arsen


Karin mulai merebahkan dirinya dan bersiap untuk tidur


Baru sepuluh detik memejamkan mata Karin terlonjak kaget saat Arsen berdiri di sebelah kasurnya membawa nampan sialan yang ingin Karin buang


"Kenapaa!" tanya Karin dengan nada tinggi karena ia merasa lelah ingin istirahat


"Ayo makan, mama nyuruh aku nyuapin kamu kalo kamu nggak mau makan" ucap Arsen


"Di bilanggg gue gak laperrr, susah banget sih nggak ngerti ngerti-ngerti" kesabaran Karin mulai menipis


"Nanti mama marah kalo kamu belum makan"


"Bilang aja sama mama kalo gue udah makan" Karin sudah sangat gemas


"Berarti bohong dong" ucap Arsen lempeng


"Gimana kalo elo aja yang gue makan Ha!!"


"Hehe galak amat"

__ADS_1


__ADS_2