Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
BAB 72 Pura-pura tidak suka


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Karin pamit kembali ke kamar karena ia harus membantu suaminya bersiap pergi ke kantor


Arsen terus menciumi wajah Karin yang kini sedang membantunya memasangkan kancing kemejanya


"Yang udah dong geli tau" gumam Karin kesal karena dari tadi Arsen tidak mau berhenti menciumnya


"Terserah aku dong, kamu kan punyaku" ujar Arsen membuat Karin sebal


"Yang hari ini aku di rumah mama aja ya, aku masih kangen sama mama" ucap Karin sambil memeluk tubuh suaminya


"Iya nanti pulang dari kantor baru aku jemput" jawab Arsen membuat Karin girang


Karin berjinjit mencium bibir suaminya "Makasih sayang"


"Jangan mancing sayang aku mau ke kantor" gumam Arsen menatap wajah istrinya dalam


"Ihh kamu nih terlalu piktor" ledek Karin sambil tertawa


Hari ini Arsen sangat malas pergi ke kantor jika bukan karena ada rapat sialan yang harus di hadiri ia pasti akan terus menggarap istrinya sampai tidak bisa berjalan


Arsen melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi ia harus segera pergi ke kantor


"Sayang aku pergi dulu, jangan nakal ya awas aja kalo berani macem-macem nanti malam aku bikin gak bisa jalan" ujar Arsen membuat Karin ngeri mengingat senjata milik Arsen yang begitu ahh sudahlah


Arsen mengecup kening dan bibir Karin sebelum ia pergi


"Hati-hati jangan ngebut" ujar Karin mencium tangan suaminya


Selepas Arsen pergi Karin menghampiri Agnes yang sedang menyiram tanaman di kebun belakang rumahnya


"Mama sini Karin bantuin" Karin mengambil alih selang air yang ada di tangan Agnes


"Rin" panggil Agnes


Karin langsung menoleh ke arah mamanya


"Kenapa ma?" tanya Karin melihat mata mamanya yang berubah menjadi sendu


"Mama kangen sama papa kamu" ujar Agnes dengan suaranya yang bergetar menahan tangis


Agnes kira keberadaan Karin akan membuatnya sedikit mengurangi rasa rindunya terhadap suaminya


Ternyata Agnes malah semakin teringat kala melihat mata indah putrinya yang sama persis seperti papanya


"Mama jangan sedih ada Karin disini yang temenin mama" Karin memeluk mamanya dengan erat ini pertama kalinya ia melihat mamanya menangis di depannya


"Mama mau nggak pergi ke makam papa" tanya Karin dengan hati-hati


"Saking cintanya mama sama papa kamu, mama sampai nggak berani sana"


"Mama masih berharap papa kamu masih ada dan kembali ke rumah ini"


Karin tak sanggup lagi menahan air matanya ia ikut menangis bersama mamanya


Kehilangan orang yang sangat kita cintai itu memang sangat menyakitkan

__ADS_1


Karin mengajak Agnes untuk masuk ke dalam kamar agar bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan nyaman


"Ma Karin tau pasti berat banget buat mama menerima kepergian papa, tapi hidup kita harus terus berjalan mau tidak mau kita harus bisa menerima dan berlapang dada atas semua yang sudah terjadi, Karin yakin papa di atas pasti sedih lihat mama kayak gini" Karin memeluk tubuh rapuh mamanya


"Besok antar mama ke makam papa kamu ya sayang" ucap Agnes


Karin pun mengangguk ia paham betul kondisi mental mamanya kini masih sangat terguncang oleh kepergian papanya


Setelah selesai menenangkan hati mamanya Karin pun kembali ke kamar ia menghubungi Netta agar main ke rumah mamanya


"Nett lo dimana?" tanya Karin saat sahabatnya itu baru saja mengangkat telfonnya


"Gue di rumah, kenapa?"


"Main ke sini dong, ke rumah mama"


"Okeyy otw"


Yess Karin senang karena jika ada Netta ia tidak merasa kesepian


Tak lama sekitar dua puluh lima menit menunggu akhirnya mobil Netta sampai di rumah Agnes


"Anjir lama banget lo baru sampai" omel Karin menyambut kedatangan sahabatnya


"Dasar bego, lo pikir rumah gue deket apa"


"Iya juga sih, rumah lo kan di ujung kulon"


"Eh temuin mama yuk" sambung Karin mengajak Netta menemui mamanya yang ada di dalam kamar


"Mah ini ada Netta"


"Ya ampun Netta, udah makan belum" tanya Agnes sambil memeluk tubuh sahabat anaknya itu


"Udah Tante, oh iya Tante gimana kabarnya?"


"Tante sehat, oh iya kamu kemana aja kok nggak pernah main ke sini"


"Sibuk dia ma pacaran sama Leo" sahut Karin membuat Netta melotot


"Enggak Tante jangan dengerin kaleng rombeng"


"Enak aja lo ngatain gue rombengan"


Agnes geleng-geleng kepala melihat tingkah Karin dan Netta yang tidak pernah berubah dari dulu sering ribut


"Udah udah kepala mama pusing nih denger suara kalian berdua"


"Ehehe maaf Tante "


"Yaudah ma Karin sama Netta mau ke kamar dulu ya" pamit Karin yang di balas anggukan oleh mamanya


Karin dan Netta masuk ke dalam Kamar


"Eh emang boleh gue masuk sini, lo kan udah nggak bujang lagi"

__ADS_1


"Ya boleh lah kan laki gue lagi gak ada"


"Eh Rin" panggil Netta dengan nada serius


"Apaan"


"Nikah enak nggak sih"


"Enak, enak banget malah tidur ada yang nemenin kalo kenapa-napa ada yang bantuin enak lah pokoknya"


"Anjir gue jadi pengen nikah juga, cariin gue dong cowok temennya laki lo kek juga gapapa"


"Kenapa nggak sama Leo aja" seloroh Karin


"Idihhh ogah banget gue nikah sama dia" balas Netta dengan sewot


"Kenapa dulu kan lo demen banget sama Leo" Karin mengingat kenangan masa kecilnya dulu saat awal mula mereka bertiga bersahabat


"Ye dulu mah cinta monyet namanya juga anak kecil"


"Iya juga sih elo dulu emang mirip boneka monyet gue"


"Eh sialan mulut lo ya, gue cantik kayak artis gini dibilang kayak monyet" ujar Netta tidak terima


Tiba-tiba ponsel Netta bergetar mata Karin tidak sengaja melihat nama Leo yang tertera di sana


"Ehem angkat dong" ujar Karin meledek sahabatnya


Karin tau Netta kini masih mencintai Leo, ia dapat melihat pancaran dari mata Sahabatnya itu setiap kali bercerita tentang lelaki tersebut


"Udah angkat aja siapa tau penting"


"Yaudah iya" ucap Netta dengan nada malas


"Apaan" ujar Netta membuat lelaki yang ada di ujung telfon sana tertawa


"Lo dimana?"


"Rumah nyokap Karin, kenapa?"


"Ngapain?"


"Main lah, kenapa sih lo cerewet banget"


"Gue susul kesana ya"


"Ngapain gak usah"


"Oke gue kesana bye"


Baru saja Netta ingin mengomel tapi Leo sudah lebih dulu mematikan telfonnya


"Leo mau kesini Rin"


"Yaudah gapapa bagus dong, jadi makin rame"

__ADS_1


Dalam hati Netta sebenarnya merasa senang karena ia akan bertemu dengan Leo, tapi Netta tetap harus memasang wajah sok malesnya agar Karin tidak curiga


"Yuk turun ke bawah kita tunggu Leo di ruang tamu aja"


__ADS_2