Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
BAB 81 Pengganggu


__ADS_3

Arsen melangkahkan kakinya di lobi perusahaan dengan malas, hari ini ia tidak mood untuk pergi bekerja tapi Daren sekretaris pribadinya itu menghubunginya dan mengatakan jika ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa di tinggalkan


"Selamat pagi pak" sapa Daren ketika matanya melihat Arsen yang berjalan lewat di depan meja kerjanya


"Hmm" gumam Arsen lalu masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa memperdulikan Daren


brakk


Daren terlonjak saat mendengar suara pintu ruang kerja bosnya yang ditutup dengan lumayan keras


"Pak bos kenapa ya?" ujar Daren sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Tangan Daren memegang sebuah map berwarna hitam yang sudah siap untuk diantar ke dalam ruang kerja bosnya


Baru saja Daren berdiri dari tempat duduknya ia melihat seorang wanita yang datang menghampirinya


"Arsen ada?" Tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Laura


"Ada" jawab Daren singkat


Daren ingin mencegah Laura masuk ke dalam ruang kerja bosnya, mengingat ia melihat wajah tampan bosnya yang tadi terlihat kurang ramah, Daren yakin ia bisa di pecat jika membiarkan Laura menganggu bosnya


"Tung-" ucap Daren menggantung karena Laura sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan Arsen


Arsen menatap datar Laura yang dengan seenaknya masuk ke dalam ruangannya tanpa izin terlebih dahulu


Sedangkan Laura yang di tatap seperti itu malah dengan sengaja menyunggingkan senyuman tanpa dosa yang membuat Arsen semakin merasa muak


Laura berjalan mendekati Arsen yang kini sedang duduk di balik meja kerjanya, Arsen merasa risih saat tangan Laura mulai merangkul lengannya


"Sayang kayaknya baby yang ada di perut aku kangen deh sama kamu" ucap Laura dengan nada manja membuat Arsen memejamkan mata menahan emosi yang muncul di dalam hatinya


Arsen berusaha menepis tangan Laura yang kini mulai melingkar di lehernya


"Laura stop!" Bentak Arsen


"Ihh kamu jahat banget sih, aku kan lagi hamil anak kamu, wajar dong kalo aku mau deket sama kamu terus" ucap Laura sembari mengelus perutnya, ia berusaha untuk mencari simpati Arsen


Arsen hanya diam melihat tingkah laku Laura, ia tidak bodoh kejadian malam itu terjadi masih belum lama bahkan belum ada satu bulan, tapi Arsen melihat perut Laura kini sudah terlihat lumayan besar, Arsen yakin anak yang ada di dalam kandungan Laura itu bukan anaknya


Arsen merasa waktunya terbuang sia-sia untuk meladeni Laura yang sangat tidak penting baginya, tangan Arsen terulur memegang gagang telepon yang ada di meja kerjanya


Selang beberapa detik kemudian muncul Daren dari balik pintu dan langsung menarik tangan Laura lalu membawanya pergi dari hadapan Arsen

__ADS_1


"Ihh lepasin! Arsen tolong dong masak sekretaris kamu berani narik tangan aku kayak gini" Teriak Laura yang tentunya tidak di hiraukan oleh Arsen


"Pergi! dan jangan pernah ganggu aku lagi" Usir Arsen


Laura berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Daren yang membawanya keluar dari perusahaan


Semua Karyawan yang ada di perusahaan melihat Laura dengan tatapan aneh bahkan ada yang terkesan merendahkan


Daren sedikit mendorong tubuh Laura agar keluar dari pintu masuk perusahaan


"Ehhh kamu!! berani ya sama saya, asal kamu tau saya sedang mengandung anak dari bos kamu, tunggu aja sebentar lagi kamu pasti akan di pecat!"


Daren tidak perduli, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Laura yang sedang memaki-maki dirinya


"Sialan! Arsen berani-beraninya ngusir aku kayak gini"


"Okey, lihat aja apa yang bakal aku lakuin untuk membuat rumah tangga kamu hancur sayang" ucap Laura penuh dendam, dadanya naik turun menahan amarah


~


Sedangkan di rumah kini Karin sedang berbaring terlentang di atas tempat tidurnya, ia merasakan punggungnya akhir-akhir ini sering terasa sakit, bahkan ia juga sering merasa kelelahan padahal ia tidak melakukan apapun


Karin pun besok berencana untuk pergi ke dokter untuk memeriksa keadaannya


Drtttt....


"Apaan?" Cetus Karin sangat tidak ramah


"Ehhh monyet ngapain lo sekarang?"


"Nggak ada sih, cuman rebahan doang, ngapain lo nanya-nanya"


"Gue mau ke rumah lo nih, ada yang mau gue ceritain penting"


"Jangan bilang lo abis nyolong, terus ketahuan warga" tuduh Karin seenaknya


"Gila! sembarangan aja lo upil dugong" sahut Netta tidak terima


"Hahaha yaudah buruan sini" ujar Karin kemudian mengakhiri panggilannya


Karin melempar ponselnya sembarangan kemudian ia beranjak dari tempat tidur ketika mendengar suara bel rumahnya yang berbunyi


*Ting Tong

__ADS_1


"Sebentar" sahut Karin sembari melangkah menuruni anak tangga


*Ceklek


Karin sedikit terkejut tidak menduga jika mama mertuanya datang berkunjung ke rumahnya


"Halo mantu kesayangan mama" sapa Felicia saat melihat menantunya yang muncul dari balik pintu


"Loh mama kok nggak bilang dulu sama Karin kalo mau kesini"


"Mama emang mendadak mampir ke sini, mama kangen sama menantu kesayangan mama" kemudian Felicia meraih dan memeluk tubuh menantunya yang kini terlihat sedikit lebih berisi


"Kamu jadi lebih berisi ya sekarang sayang, mama seneng liatnya jadi makin seger"


"Iya ma, Karin sekarang suka ngemil terus nggak kayak biasanya" jelas Karin


Felicia tersenyum mendengar penuturan Karin, dalam hati ia berharap menantunya segera bisa hamil dan memberinya cucu


"Sayang ini mama ada hadiah buat kamu" Felicia menyodorkan sebuah paper bag berwarna Oren bergambar sebuah kereta duc dengan seekor kuda


Karin merasa tidak enak karena ia tau hadiah yang di berikan oleh mertuanya berasal dari brand yang harganya sangat mahal, harusnya ia yang memberi hadiah pada mertuanya namun ini malah sebaliknya


Dengan paksaan dari mertuanya Karin pun dengan ragu dan merasa tidak enak menerima paper bag tersebut


"Ya ampun mama ayo masuk dulu" Ujar Karin sembari menepuk dahinya ia merutuki kebodohannya karena lupa mempersilahkan mertuanya untuk masuk ke dalam rumah


Felicia pun terkekeh melihat tingkah lucu menantu kesayangannya


"Mama mau minum apa? biar Karin bikinin" tawar Karin saat mertuanya baru saja duduk di sofa ruang tamu


"Udah nggak usah repot-repot sayang, sini aja duduk samping mama" Felicia menarik tangan menantunya untuk duduk di sebelahnya


"Sayang mama mau ngobrol sama kamu" ujar Felicia


Karin pun merasa aneh saat tatapan mata mertuanya yang kini seperti menyiratkan adanya sesuatu yang sepertinya sangat serius


"Mama mau ngomong tentang apa ma, kok kayaknya serius banget" ucap Karin


Felicia tersenyum setelah melihat wajah menantunya yang terlihat khawatir


"Mama cuma mau bilang, jangan pernah tinggalin Arsen ya, mama cuma mau selamanya yang jadi menantu mama cuma kamu"


"Ada apa ma, mama kok bilang kayak gitu?" ujar Karin merasa heran dengan mertuanya

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa sayang, mama cuma nggak mau kehilangan kamu, karena kamu udah mama anggap seperti anak perempuan mama sendiri, mama sayang banget sama kamu"


"Mama tenang aja, Karin nggak bakal tinggalin Arsen kok ma, selamanya Karin bakal jadi menantu mama" tegas Karin membuat Felicia tersenyum bahagia


__ADS_2