
"Huek.... Huek....Huek...."
Laura memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya ke dalam toilet, selama beberapa hari nafsu makannya terus menurun Laura merasa benar-benar lemas sekarang
"Jangan nakal dong sayang, mama capek muntah terus" ucap Laura sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata
"Hueekkkk...." Laura Kembali memuntahkan semua makanan yang dengan susah payah ia makan
Dengan perlahan Laura berjalan kembali ke tempat tidurnya, tangannya bertumpu pada tembok yang ada di sekitarnya
Laura tidak menyangka jika mengandung bisa membuatnya merasa sengsara seperti ini
"Mama di sana pasti kecewa liat Laura kayak gini kan?" gumam Laura sembari menatap ke arah langit yang ada di luar jendela kamarnya
"Maaf ma, Laura emang bodoh" ucap Laura menyesal karena dengan gampangnya ia bisa di manfaatkan oleh Rey
"Tapi Laura janji akan ngerawat anak ini dengan baik, Laura nggak akan ngebiarin anak ini kekurangan apapun" Laura mengusap air mata yang jatuh di pipinya
Laura tersenyum kecut meratapi nasib buruk yang kini sedang menimpa dirinya, dadanya masih terasa sesak saat mengingat perlakuan Rey satu-satunya lelaki yang paling ia cintai yang dengan tega membuangnya seperti sampah
Tangan Laura buru-buru menyeka air matanya suatu hari nanti ia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya pada Rey si laki-laki sialan yang sudah merusak hidupnya
~
__ADS_1
Arsen meraba tempat tidur di sampingnya yang kini sudah kosong
"Karin" panggil Arsen saat tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar
*Tak... Tak... Tak...
Suara langkah kaki Arsen menuruni anak tangga terdengar menggema
"Karin... Karin..." panggil Arsen mencari Karin ke seluruh lantai bawah
Tak lama Karin terlihat muncul dari balik pintu kamar mamanya
"Udah bangun" ucap Karin melihat tampilan berantakan Arsen yang baru saja bangun
Arsen menghembuskan nafas panjang, ia merasa lega karena pikiran-pikiran buruk yang terlintas di otaknya tidak terjadi
"Ngeliat mama" jawab Karin singkat namun membuat Arsen merasa senang karena keadaan Karin sudah membaik dari pada kemarin
*Tok... Tok.... Tok....
Terdengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang dari luar, Arsen dengan segera berjalan membuka pintu tersebut
Saat pintu terbuka terlihat Netta yang kini berdiri di depan dengan mata yang berkaca-kaca
__ADS_1
Tanpa mengucapkan apapun Netta langsung berlari dan memeluk tubuh Karin dengan sangat erat
"Rinn maaf gue baru dateng kesini sekarang" ucap Netta di sela suara tangisannya
"Gapapa"
Air mata Karin kini kembali menetes mengingat kejadian kemarin saat papanya pergi meninggalkan dirinya
Arsen diam ia hanya bisa memandang dua sahabat yang kini sedang menangis sambil berpelukan bersama
~
Arsen datang membawa dua cangkir teh yang sudah ia buatkan untuk Karin dan Netta yang sedang duduk di atas sofa ruang tamu
Tangan Netta tampak setia merangkul pundak Karin yang sedang duduk di sampingnya
"Gue tau Lo pasti kuat menerima semua takdir dari Tuhan" ucap Netta bijak
"Tumben ngomong bener"
Reflek Netta hampir saja memukul kepala Karin di depan suaminya
"Bisa-bisanya nih anak keadaan kayak gini masih bisa ngomong begitu" gumam Netta sambil menahan emosinya
__ADS_1
Namun setelah hampir saja bertengkar, Netta kini kembali memeluk tubuh Karin dengan erat agar sahabatnya itu tidak di bawa pergi oleh suaminya yang dari tadi terus melihat ke arah mereka
"Rin bilangin dong ke suami lo, jangan terus lihat ke arah kita berdua nanti gue bisa khilaf" kini gantian Karin yang ingin menjambak rambut Netta sekarang