
Karin tertidur pulas di dalam mobil, Arsen tidak tega untuk membangunkannya kini mereka berdua sudah sampai di rumah
Perlahan Arsen mengangkat tubuh Karin mengeluarkannya dengan hati-hati dari dalam mobil kemudian membawanya masuk ke dalam kamar, Arsen menggendong tubuh Karin seperti tanpa beban
Arsen meletakkan tubuh Karin di atas tempat tidur kemudian ia melepas sendal yang Karin gunakan agar tidurnya lebih nyaman
Wajah Karin terlihat begitu pucat pasti ia sangat kelelahan berada di rumah sakit, Arsen mencium kening Karin setelah itu ia turun ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam
~
Sedangkan di parkiran rumah sakit kini Leo sedang cek-cok karena memaksa Netta untuk pulang bersamanya
"Ihhh enggak gue naik taksi aja, rumah gue jauh" Netta terus menolak karena merasa tidak enak merepotkan Leo
"Mau rumah elo di ujung dunia juga bakalan gue anter Nett"
"Ihhh enggak deh, nanti bisa-bisa gue lo jual lagi"
Leo tertawa mendengar ucapan Netta yang menuduhnya sembarangan
"Lo di jual juga gak ada yang mau beli" balas Leo dengan nada meledek
Tangan Netta mencubit lengan Leo hingga membuat Leo meringis kesakitan
"Aduhh... aduhh..."
"Gila ya! nggak elo, nggak Karin kalian berdua sama-sama psikopat"
Leo merinding melihat bekas cubitan kuku Netta di lengannya
"Mau lagi?" goda Netta dengan mengangkat kedua alisnya
"Nggak! jauhkan tangan lu yang penuh dosa itu dari gue"
"Heh! enak aja lo, sembarangan kalo ngomong, Leo! tungguin gue awas lo ya!" Netta melepas sepatu di kakinya, kemudian ia mengejar Leo yang tiba-tiba berlari setelah mengejeknya
Banyak orang yang menatap aneh mereka berdua yang kini sedang kejar-kejaran seperti anak TK
"Leo! awas lo ya kalo kenak, dasar upil b*bi sialan"
Netta duduk di sebuah kursi taman yang ada di sebelah rumah sakit, ia sudah tidak sanggup mengejar Leo yang berlari begitu cepat, entah Netta tidak tau Leo kini berada di mana
Sahabat yang sudah lama tidak bertemu sekali ketemu malah langsung saling ejek seperti ini benar-benar seperti bocah
"Duh sakit!"
Netta melihat tumit kakinya yang terasa sakit, pasti saat berlari kaki Netta tidak sengaja menginjak batu sehingga kakinya terluka
"Ketemu Leo benar-benar musibah bagi Netta"
Sebotol minuman dingin tiba-tiba muncul di depan wajah Netta yang sedang menunduk memeriksa kakinya
"Nih"
Netta mengangkat wajahnya melihat Leo yang datang membawa minuman untuknya
__ADS_1
"Nihhhh astaga" ucap Leo kesal karena Netta tidak mau mengambil minuman dari tangannya
"Lo dari mana sih gila, gue ngejar lo jauh banget tau" omel Netta
Leo tidak menjawab ia malah menggeser tubuh Netta agar bisa duduk di sampingnya
"Minum dulu jangan ngomel terus, dasar bawel"
Tutup botol minuman itu Leo buka terlebih dahulu sebelum ia berikan kepada Netta
*glek glek glek
Netta dengan cepat menengguk minuman yang Leo berikan kepadanya karena tenggorokannya sudah terasa sangat kering
"Haus Bu?" ejek Leo membuat Netta ingin menyemburkan minuman yang ada di mulutnya
"Ahhhh...." desah Netta lega setelah minuman itu membasahi tenggorokannya
"Jelek banget" ucap Leo sambil memasang wajah jijik
*Tukk
sebuah botol minuman melayang tepat mengenai kepala Leo
"Mamam tu, bye gue mau balik"
Netta meninggalkan Leo dengan langkah kaki yang sedikit pincang
"Nett kaki lo kenapa?" Leo berlari menghampiri Netta yang kini sedang berdiri di samping jalan untuk mencari taxi
Timbul sedikit rasa bersalah di hati Leo melihat kaki Netta yang pincang karena mengejarnya
"Yaudah sini gue gendong, buruan naik" Leo sudah siap berjongkok di kaki Netta
"Taxi!"
Sebuah taxi berhenti tepat di depan Netta, ia pun segera masuk ke dalam taxi tersebut sebelum orang gila yang sedang berjongkok di bawahnya tau
"Pak buruan ayo jalan!" ucap Netta dengan cepat pada supir taxi
"Loh Nett sialan gue ditinggal" Leo mengumpat saat melihat mobil taxi yang di tumpangi Netta sudah pergi jauh
"Huuuuh gila akhirnya gue bisa kabur juga" gumam Netta merasa lega
~
Arsen menyusun ayam goreng yang sudah matang dengan rapi di atas piring, kemudian ia meletakkan semua makanan yang sudah ia masak di atas meja makan
Setelah semua selesai Arsen kembali ke kamar untuk membangunkan Karin yang masih tertidur
Karin tidur meringkuk seperti anak bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya
"Karin"
"Ayo bangun"
__ADS_1
Karin mengerjapkan matanya yang masih mengantuk, dengan sabar Arsen terus berdiri menunggu Karin benar-benar membuka matanya
"Dah yuk nanti tidur lagi"
Dengan kondisi tubuh yang lemah dan tanpa semangat Karin berusaha bangun dari tempat tidur
"Jangan di gendong terus, nanti kamu capek" ucap Karin saat tubuhnya tiba-tiba di angkat oleh Arsen
"Gapapa badanku kan gede" ucap Arsen lalu mencium pipi Karin dengan cepat
Karin menatap mata Arsen dengan begitu dalam ia mengalungkan tangannya di leher Arsen
"Jangan buat aku berharap lebih dari pernikahan kontrak ini Arsen" lirih Karin yang membuat jantung Arsen seperti tertusuk duri
Mata Karin terlihat begitu sayu ia seperti sudah lelah dengan kesedihan yang sudah ia rasakan, Karin tidak mau lagi jika nanti harus merasakan kesedihan akibat harapan yang ia buat sendiri
Arsen tidak bisa membalas ucapan Karin, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan yang jelas Arsen tidak mau menyakiti hati siapapun
Arsen menggendong Karin menuju meja makan yang berada di lantai bawah, ucapan Karin membuat mereka berdua makan tanpa suara, Arsen dan Karin sibuk dengan pikirannya masing-masing
*Drttt Drttt Drttt
Ponsel Arsen bergetar menandakan adanya sebuah panggilan yang masuk, dari jauh Karin bisa melihat nama Laura yang kini muncul di layar ponsel Arsen
Sebelum Arsen mengangkat telfonnya ia melihat ke arah Karin terlebih dahulu yang kini sedang makan
"Hallo" ucap Arsen mengangkat telfonnya
Karin tersenyum kecut saat melihat punggung Arsen yang pergi menjauh darinya
"Ada apa, kamu kenapa?" tanya Arsen karena suara Laura seperti sedang menangis
Tidak ada jawaban dari Laura yang terdengar hanya sebuah isak tangis yang membuat Arsen menjadi bingung sekaligus khawatir
"Laura! kamu kenapa ha? ayo ngomong sama aku"
"Aku... Akuu..." Laura tidak sanggup melanjutkan ucapannya
"Shutttt ayo tenang dulu, kamu jangan nangis aku jadi makin panik takut kamu kenapa-napa"
Arsen menunggu sejenak sampai tangisan Laura sedikit mereda
"Kamu di mana?" dengan sabar Arsen mencoba bertanya kembali pada Laura
"kepala ku sakit, kamu kesini beliin aku obat" ucap Laura
"Iya tunggu bentar, aku kesana"
Arsen mematikan sambungan telfonnya ia bergegas mengambil jaket miliknya yang ada di atas sofa ruang tamu
Sebelum pergi Arsen pamit terlebih dahulu ia menghampiri Karin yang masih duduk di meja makan
"Rin aku-"
"Pergi aja" ucap Karin dingin memotong ucapan Arsen yang belum selesai
__ADS_1