
Satu bulan kemudian.
Alea merasakan kepalanya pusing, perutnya tidak enak, rasa mual juga akhir-akhir ini di rasakan di pagi hari, tubuhnya juga sering merasa lemas dan setiap mencium bau apa-apa selalu muntah-muntah. Alea bertanya pada dirinya sendiri, aku ini kenapa? Ia bahkan tidak berani bercerita pada Sean karena takut.
"Hoek...hoek...!"
Setiap pagi Alea muntah-muntah tapi Alea selalu muntah-muntah di kamar mandi belakang, ia tidak berani muntah di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya Sean.
"Gadis kampung itu kenapa?" tanya Gina pada dirinya sendiri, saat Alea keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang cukup pucat, Gina sama sekali tidak kawatir.
"Hey, jorok sekali sih pagi-pagi sudah muntah-muntah, dasar gadis kampung," dengan ketus Gina malah memarahi Alea.
Salah satu Art yang mendengar Alea di marahin oleh Nyonya besarnya, rasanya miris sekali dan sangat kasian pada Alea.
"Aku hanya sedikit pusing Nyonya, mungkin darahku rendah," sahut Alea dengan suara lemas dan seperti biasanya ia memanggil Mama mertuanya itu dengan sebutan Nyonya.
"Oh, kenapa tidak mati saja sekalian? Merepotkan saja, Sean itu bisa mendapatkan perempuan lain yang jauh lebih baik dan lebih cantik dari kamu terutama perempuan yang sepadan dengan keluarganya, tidak seperti kamu yang hanya orang miskin," oceh Gina tanpa memikirkan perasaan Alea sedikitpun.
"Merepotkan! Maaf ya Nyonya, aku makan tidak memakai uang Nyonya. Aku pakai uang suamiku, merepotkan apanya? Dasar mertua tidak punya akhlak, memangnya ada yang mau perempuan lain yang mau menjadi istrinya Sean kalau tahu Mamanya saja tidak punya hati seperti ini," ujar Alea dengan berani. Aku tidak takut dengan siapa pun selama aku tidak berbuat salah.
Kedua sorot mata Gina langsung berubah menjadi tajam bag macam betina yang ingin menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Mulutmu itu kurang ajar, kenapa Sean bisa menikahi gadis tidak berpendidikan seperti kamu sih? Heran dengan Sean," kata Gina bersungut-sungut.
"Karena anak Nyonya mencintai saya, makanya dia menikahi saya," ujar Alea meledek. Padahal aku sendiri tahu kalau Sean tidak pernah cinta padaku.
"Gadis kampung...." saat Gina hendak melayangkan sebuah tamparan, Alea malah tersenyum dan langsung berlalu pergi begitu saja dari hadapan Gina.
Sungguh Alea itu bisa saja, Gina tampak geram ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Art yang dari tadi melihat hal ini, ia tersenyum bahagia. "Untung saja Nona Muda pintar melawan jika tidak, pasti akan terus di injak-injak," batin sang Art penuh dengan senyum bahagia.
Orang seperti Gina memang harus mendapatkan pelajaran, jika bisa ia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal akan kesombongannya itu.
"Anak sialan!"
"Berani sekali dia melawanku."
Gina tidak terima, pokoknya cepat atau lambat Alea dan Sean harus segera bercerai.
***
Saat Alea sampai di dalam kamar, ia duduk di tepi ranjang. Ternyata Sean sudah bangun, kini laki-laki tampan itu sedang menatap Alea dengan lekat dan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Kamu darimana?" tanya Sean pada Alea, tiba-tiba Sean memindahkan kepalanya ke pangkuan Alea.
Alea agak kaget, tidak biasanya Sean bersikap seperti ini. Tumben, manja sekali.
"Dari belakang," jawabnya singkat.
"Mau ngapain? Ketemu dengan tukang kebun di belakangku, kamu berani selingkuh di belakangku, awas saja!" Sean menajamkan tatapannya sambil menggenggam tangan Alea, sambil menciumnya.
Jujur Alea terlihat tidak nyaman, apalagi saat ini ia sedang memikirkan Velin yang tidak lain adalah kekasih dari sang suami.
"Apa sih? Ngapain juga aku selingkuh dengan tukang kebun," kata Alea kesal.
"Hoek....hoek...!"
Tiba-tiba Alea merasakan mual seperti tadi.
"Kamu, kenapa?" tanya Sean dengan tatapan penuh kawatir.
"Apa mungkin....?"
"Mungkin apa?" lanjut Alea menatap Sean.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia