
"Jika Velin kembali bagaimana?" tanyanya pada Sean, seketika Sean terdiam.
Kini kedua manusia itu saling diam satu sama lain, pikiran Sean langsung menjadi bingung.
"Akan aku pikirkan, sudah kamu jangan berpikir yang macam-macam ya! Velin, biar menjadi urusanku nanti," ujar El sembari mengusap pucuk kepala Alea dengan lembut.
Alea mengangguk, ia pun menuruti apa kata El. Lagian jika menolak juga tidak ada gunanya dan El juga tidak akan mau kalah, pasti akan menjadi perdebatan panjang jika di teruskan.
***
Saat malam datang dan kini keluarga Hutama sedang makan malam bersama, Hutama jauh lebih sehat dari sebelumnya. Laki-laki yang sudah tidak muda lagi ini juga kelihatan selalu bahagia, tidak pernah murung lagi setelah mendapatkan cucu menantu sebaik Alea.
"Kakek, makanlah yang banyak!" titah Alea dengan nada lembut dan penuh perhatian.
"Hey, jangan kasih makan terlalu banyak, kamu mau membunuh Papaku?" tatapan Gina begitu sinis seperti biasanya.
"Gina, tutup mulutmu!" bentak Hutama, kurang ajar sekali bicara dengan menantu sekasar itu.
__ADS_1
Gina semakin bersunggut-sunggut, tahapannya pada Alea penuh dengan kebencian.
"Lagian Mama aneh, istriku hanya menyuruh Kakek untuk makan banyak biar cepat sehat. Terus Mama malah bicara seperti itu, kasian deh Mama di marahin sama Kakek," ujar Sean yang malah meledek sang Mama.
Dasar anak tidak ada akhlak, Mamanya sendiri malah di ledekin.
"Kakek juga heran Sean, Mamamu Kakek sekolahkan tinggi-tinggi, tapi malah dia tidak punya adab sama sekali," geram Hutama pada Gina sang putri kesayangannya selama ini.
Gina menghela nafas kasar, rahangnya langsung mengeras, kedua tangannya mengepal sempurna, entah mengapa semua orang membela gadis ini semua? Memangnya dia ini siapa? Dia hanya gadis miskin dan tidak cocok untuk menjadi menantu keluarga Hutama, Sean bodoh dia sudah memilih gadis yang salah untuk menjadi istrinya.
"Terus saja Papa bela gadis itu!" Gina merajuk bag anak TK.
"Tidak usah dengarkan Mama mertuamu Nak! Sudah, kami makanlah yang banyak! Biar kamu sehat, terus bisa segera kasih Kakek cicit-cicit yang lucu-lucu." Hutama mengulas senyum sangat bahagia, tapi kali Alea malah tersenyum kecil, ya lagian ada kemungkinan besar aku hamil.
Sean hampir saja tersedak mendengar kata-kata Kakeknya, buru-buru Alea memberikan satu gelas air putih padanya.
"Minumlah, pelan-pelan makannya!" pinta Alea dengan nada lembut sambil memberikan gelas berisi air putih pada Sean.
__ADS_1
Sean menerimanya, lalu ia meminumnya, setelah itu Sean kembali menaruh minuman yang di berikan oleh Alea kembali pada tempatnya.
Dalam hati Sean, aduh Kakek dia pakai segala ngomongin masala cicit lagi. Jadi ingat kan saat aku mulai memproduksinya bersama dengan Alea, enak juga ternyata.
"Cicit Kakek akan segera jadi," ujar Sean membuat Hutama semakin bahagia.
Alea menutup mulutnya, ia merasa malu sekaligus pipinya langsung merah mengingat kejadian di atas ranjang dengan Sean.
"Baguslah Nak," jawab Hutama.
"Iya, maka biarkan kami masuk ke dalam kamar lebih cepat. Ayo sayang!" Sean mengajak Alea untuk masuk ke dalam kamar.
"Pergilah...!!" Titah Hutama penuh semangat.
Gina semakin menjadi, jangan harap aku akan membiarkan gadis kampung ini melahirkan anak dari Sean.
Sean dan Alea langsung masuk ke dalam kamar, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia