
Felicia sedikit merasa lega mendengar ucapan menantunya, sekarang ia tinggal memikirkan cara untuk menyingkirkan wanita benalu yang berniat untuk menghancurkan rumah tangga anaknya
Tidak ada kata maaf bagi Felicia untuk seseorang yang berniat untuk menghancurkan keluarganya
"Oh iya mama udah makan belum? kalo belum biar Karin masakin makanan buat mama" tawar Karin
"Nggak usah sayang mama baru aja makan, oh iya mama nggak bisa lama-lama soalnya papa kamu ada di rumah sendirian"
"Yahh... padahal mama baru aja datang" rengek Karin seperti anak kecil
"Jangan ngambek dong sayang..., mama kan bisa main lagi ke sini kapan-kapan, kalo nggak pas Arsen libur kalian berdua nginep aja di rumah mama sama papa biar rame"
"Oke deh ma, nanti Karin coba ajak Arsen"
"Yaudah mama pulang dulu ya sayang" pamit Agnes ia pun berdiri mengangkat bokongnya dari sofa
Karin pun mengantar mama mertuanya ke depan, saat Karin membuka pintu kebetulan Netta juga baru saja tiba di rumahnya
Netta sedikit merasa canggung ketika tanpa sengaja bertemu dengan mertua sahabatnya, namun seperkian detik kemudian Netta memberanikan dirinya untuk menyapa
"Siang Tante" ucap Netta dengan sopan
"Temennya Karin ya?" balas Felicia ramah
"Iya Tante, nama saya Netta" ucap Netta memperkenalkan dirinya yang di balas senyuman manis oleh Felicia
"Ya sudah mama pergi dulu ya sayang, jaga kesehatan" pamit Felicia tak lupa ia mencium pipi menantunya
"Iya ma jangan khawatir"
"Tante pulang dulu ya Netta, bye bye"
"Iya Tante hati-hati"
Karin dan Netta melihat Felicia yang kini sudah masuk ke dalam sebuah mobil Alphard berwarna hitam
"Dadah mama hati-hati" ucap Karin seraya melambaikan tangannya ketika mobil yang di tumpangi oleh mama mertuanya mulai berjalan pergi meninggalkan pekarangan rumahnya
"Gila mertua lo ternyata dari deket cakep banget, pantesan aja laki lo cakep" celetuk Netta yang di sambut lirikan maut dari Karin
"Iyalah laki gue!" sahut Karin
"Heleh, dulu aja pakek sok-sok an gak mau lo" Ejek Netta
Karin yang mendengar ledekan tersebut hanya bisa memasang wajah cengengesan tidak jelas
Kini mereka berdua pun berjalan bersamaan masuk ke dalam rumah
~
Di dalam mobil Felicia sedari tadi hanya diam, ia memikirkan bagaimana cara untuk melindungi Arsen dari gangguan Laura
Felicia mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas, ia mencoba menghubungi seseorang
"Daren"
__ADS_1
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu"
"Saya minta, tolong kamu pastikan wanita ular itu tidak bisa lagi masuk ke kantor dan menganggu anak saya"
"Baik, siap Bu"
"Bagus"
*Tut
Felicia pun mengakhiri panggilan telfonnya
Tanpa ada yang tau selama ini Daren merupakan mata-mata yang bekerja sama dengan Felicia untuk mengawasi dan melaporkan setiap gerak gerik yang di lakukan Arsen di kantor
Emosi Felicia seketika naik ketika mendapat laporan dari Daren jika Laura datang ke kantor anaknya dan mengaku sedang hamil
Felicia takut jika Laura memiliki rencana jahat untuk menghancurkan rumah tangga anaknya, ini tidak boleh di biarkan ia harus bisa memberi pelajaran untuk wanita sialan itu
"Wanita ular ini harus segera di lenyapkan" Gumam Felicia
~
"Lo mau ngomong soal apa?" tanya Karin to the point pada Netta mereka berdua kini sedang duduk di ruang tamu
Entah apa yang terjadi tapi Netta kini malah merasa ragu untuk memulai pembicaraannya
"Woyy! mau ngomong apaan?" sentak Karin membuyarkan lamunan Netta
"Katanya tadi mau ngomong, di tungguin malah bengong, dasar lo"
"Duhh, biasanya juga lo ngambil sendiri nggak nunggu di tawarin" kesal Karin ia berjalan dengan malas ke dapur
Selagi Karin pergi Netta menimbang-nimbang apakah lebih baik ia bercerita atau tidak ke Karin jika ia beberapa hari yang lalu tidak sengaja melihat Laura berada di rumah sakit untuk memeriksa kandungannya
Netta takut jika Karin mengira dirinya menuduh Arsen menghamili Laura
"Nih awas aja nggak lo minum" ucap Karin dengan sinis sembari menyodorkan sebuah gelas di meja
Netta menenggak air sirup yang ada di dalam gelas tersebut sampai habis
"Busett Nett!, lo beneran haus apa gimana?"
"Duhhh diem deh, ada yang mau gue tanyain ke elo serius" tutur Netta
"Apaan, awas aja kalo nggak penting ya Nett" ucap Karin berburuk sangka
"Arsen sama Laura udah putus kan?"
Karin terdiam mendengar pertanyaan dari sahabatnya
"Rinn gue serius, mereka berdua udah lama putus kan? lo jangan diem aja dong"
"Emang ada apa?" bukannya menjawab Karin malah balik bertanya
Netta menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya
__ADS_1
"Hari senin kemarin gue nganter Leo ke rumah sakit, dan gue nggak sengaja ngeliat Laura masuk ke dalam poli kandungan" tutur Netta
"Gue coba nguping waktu itu, ternyata umur kandungan Laura udah hampir lima belas minggu"
"Lo jangan mikir aneh-aneh gue cuma mau mastiin aja kalo Laura udah nggak ada hubungan sama laki lo"
"Lima belas minggu" ucap Karin lirih
"Iyaa berarti udah hampir mau empat bulan tuh jabang bayi" timpal Netta
"Gue nggak tau kapan pastinya hubungan mereka berakhir Nett"
"Gue takut jika anak yang di kandung Laura itu ternyata milik Arsen" sambung Karin
Netta menatap iba sahabatnya, padahal baru saja sahabatnya itu merasakan kebahagiaan kini malah menjadi seperti ini
"Rin, kita nggak bisa menduga semuanya sendirian, lo harus jujur dan tanya sama Arsen"
"Iya Nett gue paham"
Netta pun memeluk tubuh sahabatnya
~
Hari sudah semakin petang, Karin sedari tadi berada di ruang tamu untuk menunggu kepulangan suaminya
Karin meremas tangannya untuk menetralisir rasa tidak nyaman yang ada di hatinya
Tak lama ia mendengar suara mesin mobil milik Arsen yang sudah tiba di rumah
Karin langsung berdiri untuk menyambut kedatangan suaminya
Arsen masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terlihat begitu lelah, ia pun langsung menghambur ke pelukan istrinya
"Sayang kangennnn" gumam Arsen sembari mencium ceruk leher istrinya
"Mandi dulu ya, biar aku siapin air hangat buat kamu" tawar Karin namun Arsen menggeleng
"Bentar aku mau charger energi dulu sambil meluk kamu"
Karin pun mengelus punggung lebar suaminya
"Kamu udah makan?" tanya Karin khawatir karena tubuh Arsen sangat lemas
"Belum" lirih Arsen yang masih bisa di dengar oleh Karin
"Yaudah kamu mandi dulu setelah itu kita makan"
Arsen tidak menghiraukan ucapan Karin ia malah semakin mempererat pelukannya, setelah seharian tidak bertemu dengan istrinya Arsen merasa energinya langsung habis
"Aduhhhh" desis Arsen saat merasakan tangan Karin yang mencubit perutnya
"Mangkanya ayo buruan mandi, nanti kita lanjutin lagi pelukannya di kamar" ucap Karin jengkel
"Beneran ya nanti di lanjutin lagi awas kalo bohong"
__ADS_1
"Iyaaa buruan ihh sanaa" Karin pun mendorong tubuh kekar suaminya agar pergi ke kamar