
Pagi ini Karin sedang workout di dalam kamarnya, hal ini sudah menjadi aktivitas rutin yang selalu ia lakukan karena menurut Karin selain merawat kecantikan wajah ia juga harus memperhatikan bentuk tubuhnya agar terlihat bagus dan juga sehat
Setelah selesai Karin pun turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan, saat keluar Karin melihat pintu Kamar Arsen yang masih tertutup berarti Arsen masih tidur pikir Karin
Dengan bersenandung kecil Karin menuruni tiap anak tangga dengan hati-hati
Baru saja sampai di dapur Karin terkejut melihat Arsen yang bertelanjang dada sedang berdiri memunggunginya di depan kompor
"Wahhh" Karin ternganga melihat punggung lebar Arsen yang ada di depan matanya, sungguh pemandangan yang menyengat mata
Karin sampai menggerakkan tangannya untuk menampar pipinya sendiri untuk mengembalikan kewarasannya yang sudah porak-poranda akibat melihat punggung lebar Arsen yang menggoda iman
Karin berbalik ia mengurungkan niatnya untuk membuat sarapan imannya tidak kuat bila melihat Arsen seperti ini, baru saja Karin melangkahkan kakinya ia mendengar suara bariton Arsen yang memanggil namanya, dengan terpaksa Karin menoleh kebelakang
"Kemana?" Tanya Arsen dengan suara baritonnya
"Ka-kamar" Karin menjawab dengan terbata-bata
Setelah berbicara Arsen berjalan melewati Karin yang sedang menahan nafasnya karena perut kotak-kotak Arsen terlihat jelas di depannya
"Tok Tok Tok"
Karin mendengar seseorang mengetuk pintu ia pun bergegas ke depan
"Stop!!" Suara tegas Arsen menghentikan langkah Karin
Karin melihat Arsen dengan mengangkat sebelah alisnya
"Biar aku yang ke depan" Kemudian Arsen berjalan menuju pintu depan melewati Karin
"Pakaian mu terlalu terbuka" bisik Arsen tepat di depan wajah Karin
Mendengar itu Karin langsung melihat pakaian yang sedang menempel pada tubuhnya, Karin memang masih menggunakan pakaian olahraga namun menurut Karin pakaian ini biasa saja tidak terlalu terbuka
"Apaan sih, orang biasa aja, dia malah telanjang dada kek gitu, dasarr! nggak sadar diri" omel Karin
__ADS_1
Arsen membuka pintu rumahnya ternyata tamu yang datang adalah Netta teman Karin
Iya Arsen tau karena ia sering melihat Karin bersama dengan Netta
"Cari Karin ya, silahkan masuk, saya panggilin istri saya dulu" setelah itu Arsen masuk ke dalam memanggil Karin
"Temen mu" Ucap Arsen singkat lalu ia kembali duduk di meja makan
Karin mengernyitkan keningnya
"Netta? tumben ngapain kesini"ucap Karin dalam hati
Karin menghampiri Netta yang sedang menunggunya duduk di sofa ruang tamu
"Napaaaa?? tumbenan"
Netta tidak menjawab pertanyaan Karin ia malah terus melihat Karin dengan senyuman yang sulit di artikan
"Weeyyy elo kenapa dahhh" Karin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Netta
"Gue baru nyadar Rinn, sumpah"
"Apaaaan sihhh, ketempelan ya lo" Karin bergidik ngeri melihat wajah Netta
Karin memutar bola matanya mendengar ucapan Netta barusan yang terpesona dengan ketampanan Arsen
"Badannya sexy bangett gak kuatttt, pantesan lo betah di rumah"
Karin gemas ia pun menonyor kepala sahabatnya itu
"Lo ngapain kesini" tanya Karin
"Oh iya, kurang ajar lo mana kunci butiknya, enak aja nyuruh-nyuruh gak di kasih kuncinya, lo pikir gue spiderman bisa naik lewat atap" omel Netta
"Eh iya, gue lupa hehehe" kekeh Karin ia pun mengambil kuncinya di kamar atas
"Nih" Karin menyodorkannya kunci butiknya ke pada Netta
"Yaudah gue pergi dulu" Netta berdiri bersiap untuk pergi
__ADS_1
"Ehh salam ya ke suami lo hahaha" sambung Netta membuat Karin ingin menendang kepalanya
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang satu jam lagi ia harus sudah pergi ke acara perusahaan Arsen
Di dalam kamar Karin bingung memilih gaun yang ada di dalam lemari, karena ia istri dari seorang direktur ia harus tampil begitu cantik agar Arsen tidak malu nantinya
Mata Karin berbinar melihat gaun hitam cantik yang ia punya
Karin melihat pantulan bahan dirinya di depan cermin gaun hitam ini benar benar membuat Karin terlihat sangat cantik dan elegan
Setelah mendapatkan gaun yang pas sekarang giliran Karin untuk memberikan sedikit polesan pada wajahnya
Menghubungi sedikit make up membuat wajah Karin terlihat sangat cantik dan manis, Karin memilih lipstik berwarna merah agar terlihat lebih berani
Arsen berdecak sebal menunggu Karin yang tak kunjung selesai dandan, ia melihat jam di tangannya kurang sepuluh menit lagi acara ulang tahun perusahaan akan segera di mulai
Setelah lama menunggu akhirnya Arsen melihat Karin yang sudah siap, Karin menuruni tangga dengan anggun
"Yuk" Karin mengajak Arsen untuk segera berangkat
"Hey" tangan Karin mencoba melambai di depan wajah Arsen
Arsen pun tersadar dari lamunannya sejenak ia terpesona dengan kecantikan Karin yang luar biasa
Apalagi melihat wajah Karin dari jarak dekat seperti ini semakin membuat Arsen lupa diri
"Yuk" Arsen berjalan menggandeng tangan Karin
Di dalam mobil Arsen diam-diam mencuri pandang pada Karin, ia melihat pantulan wajah Karin yang terlihat jelas di spion mobilnya
Karin pun lama-lama sadar dengan perbuatan Arsen yang terus mencuri pandang padanya
"Kenapa aneh" karena jengkel Karin bertanya dengan nada ingin marah
"Menor" ucap Arsen yang membuat Karin ingin mencakar bibirnya
Dengan cepat Karin mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya
__ADS_1
"Mana sih menor, ini tu bagus warnanya masak iya menor, dasar gak tau gaya" Karin terus mengomeli Arsen yang sudah mengatainya
Sementara tersangka yang sedang di omeli pun tidak merasa bersalah