
"Haisshhh"
Tidak ada pilihan lain, Karin langsung melepas jaket yang ia gunakan lalu menceburkan dirinya ke dalam air untuk menyelamatkan Arsen
Meskipun air sangat jernih Karin tidak bisa melihat keberadaan Arsen di bawah
"Haaaaaaaah" Karin kembali muncul di permukaan untuk mengambil nafas
Karin rasanya benar-benar ingin menangis sekarang ia takut tidak bisa menemukan Arsen
Setelah terus mencari akhirnya Karin melihat tubuh Arsen yang sepertinya sedang pingsan di dasar sungai
Dengan cepat Karin mengangkat tubuh Arsen ke permukaan
Karin merasa aneh saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arsen
Karin merangkulkan tangan Arsen ke lehernya dengan susah payah Karin menyeret Arsen menuju tepian sungai
Karin merebahkan dirinya di samping tubuh Arsen, Karin mengatur nafasnya yang sudah tidak karuan
Laura berlari menghampiri Karin dan Arsen yang berbaring di tepi sungai
"Sayang ayo bangun" Laura berulang kali menepuk pipi Arsen
"Rin gimana ini" untuk pertama kalinya Laura memanggil nama Karin
Karin pun bangun ia mencoba membantu Laura untuk menyadarkan Arsen
"Heyy Arsen" Karin menekan dada Arsen agar air yang masuk ke dalam tubuhnya bisa keluar
Laura menangis melihat Arsen yang tak kunjung sadar
"Rin gue mohon lakuin apa aja yang penting Arsen selamat" ucap Laura dengan suara bergetar
Karin memejamkan matanya ia harus segera memberi nafas buatan untuk Arsen
"Sorry Laura"
Karin membuka mulut Arsen dengan jarinya, setelah itu Karin menarik nafas yang dalam lalu meletakkan bibirnya di atas mulut Arsen
"Uhuukk Uhuuuk" Arsen terbatuk batuk setelah mendapat nafas buatan dari Karin
"Syukurlah" gumam Karin lirih ia kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Arsen
Arsen akhirnya sadar ia melihat Karin yang tergeletak lemas di sebelahnya
"Sayangggg" Laura begitu gembira melihat Arsen yang sudah sadar, ia langsung memeluk erat tubuh Arsen
Arsen membalas pelukan Laura ia tau kekasihnya pasti masih sangat syok melihat dirinya tenggelam
Laura memeluk dengan erat tubuh Arsen seakan tidak mau melepasnya
Kini Arsen menjadi khawatir dengan keadaan Karin karena baju yang Karin gunakan terlihat basah kuyup dan badannya terlihat mulai menggigil kedinginan
__ADS_1
Sambil memeluk Laura di pangkuannya tangan Arsen mencoba menoel pipi Karin yang tidur di sebelahnya
"Rin bangun" perintah Arsen yang tidak di respon oleh Karin
"Rin hey!" Arsen mencoba menepuk-nepuk pipi Karin tapi tetap saja tidak ada respon sama sekali
Arsen buru-buru menyingkirkan Laura dari pangkuannya, sepertinya Karin pingsan karena kelelahan membawa Arsen dari dasar sungai
"Karin!" Arsen langsung mengangkat tubuh Karin menggendongnya ke dalam mobil
"Ayo sayang" Arsen mengajak Laura pergi
Laura berjalan terlebih dahulu di depan kemudian di susul Arsen sambil menggendong tubuh Karin
Jika menuruti egonya mungkin Laura kini akan marah dan merasa sangat cemburu dengan Karin yang berada di gendongan Arsen, namun karena keadaan sangat buruk Laura akan mengenyampingkan egonya untuk saat ini
"Sayang tolong bukain pintunya"
Laura pun bergegas membuka pintu mobil sesuai dengan yang Arsen perintahkan
"Honey biar aku masuk duluan, nanti kepala Karin biar tidur di paha aku"
Arsen mengangguk menyetujui ucapan Laura
Niat hati Arsen yang ingin menyenangkan Laura dan Karin malah berakhir seperti ini
Arsen mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi sesekali ia menoleh melihat kondisi Karin dan Laura yang ada di kursi belakang
"Hati-hati sayang" ucap Laura untuk mengingatkan Arsen agar tetap fokus menyetir
Laura membantu Arsen untuk mengangkat tubuh Karin yang masih tidak sadarkan diri dari dalam mobil
"Kamu ganti baju dulu di kamar ku, biar aku bawa Karin ke kamarnya sayang"
Laura pun menurut ia pergi ke kamar Arsen terlebih dahulu untuk ganti baju
Arsen merebahkan tubuh Karin dengan hati-hati di tempat tidurnya
Wajah cantik Karin terlihat sangat pucat, Arsen langsung menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Karin
Setelah selesai ganti Laura pun masuk ke dalam kamar Karin
"Sayang tolong gantiin baju Karin biar dia nggak kedinginan"
Laura pun bergegas mengambil baju Karin di dalam lemari
Arsen sementara keluar karena Laura akan mengganti baju Karin yang basah
Saat Laura membuka baju Karin ia melihat luka memar yang ada di bahunya, sepertinya saat menyelamatkan Arsen bahu Karin terbentur batu sehingga timbul luka memar yang cukup lebar
Dengan hati-hati Laura melepas semua baju yang Karin kenakan dan menggantinya dengan baju yang baru
"Sayanggg udahh" teriak Laura memanggil Arsen dari dalam kamar
__ADS_1
Arsen pun masuk ke dalam bersama dokter pribadinya yang baru saja datang
"Tolong lihat kondisinya dokter" Ucap Arsen yang terlihat begitu menghawatirkan Karin
"Sayang tadi aku lihat ada luka memar di bahunya"
"Shitt" umpat Arsen yang merasa bersalah karena dirinya Karin seperti ini
"Gimana dokter" tanya Arsen tidak sabar saat dokter baru saja selesai memeriksa kondisi Karin
"Istri anda sepertinya sangat kelelahan hingga pingsan, saya sudah periksa kondisinya baik-baik saja, setelah ini saya akan meresepkan obat untuk berjaga-jaga apabila istri anda demam nanti malam"
"Oh iya saya juga akan meresepkan obat oles untuk luka memar di bahunya"
"Terimakasih dokter"
"Sama-sama Pak Arsen, kalau begitu saya permisi dulu"
"Mari saya antar ke depan"
"Baik pak"
Arsen pun pergi mengantar sang dokter yang akan pulang setelah selesai melaksanakan tugasnya
Sebelum pergi Arsen meminta Laura untuk menjaga Karin
Laura pun berdiri di samping tempat tidur, ia melihat wajah Karin yang masih tampak pucat
"Sebenarnya gue gak rela liat Arsen perduli sama elo, tapi berhubung lo udah nolong nyawa Arsen gue terpaksa harus baik sama lo, sampai nanti lo bangun" ucap Laura lirih
Meskipun Laura kadang jahat tapi ternyata masih ada sisi malaikat pada dirinya, ya walaupun sedikit tapi setidaknya masih ada lah
Laura melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, ternyata sekarang sudah jam lima sore waktunya Laura untuk pulang
Saat Arsen kembali ke kamar Laura pun pamit untuk pulang, Arsen menawarkan dirinya untuk mengantar Laura pulang ke apartemen namun di tolak oleh Laura
"Kamu jaga Karin aja, aku bisa naik taxi honey"
"Nggak sayang, biar aku anter" Arsen tidak tega melihat Laura pulang sendirian
"Ishhhh gapapa honey aku bisa kok pulang sendiri, aku pergi dulu dadahh"
Laura berjinjit untuk mengecup pipi Arsen
Arsen mengantar Laura sampai depan, ia menemani Laura menunggu taxi yang sudah ia pesan
Sekitar lima belas menit taxi yang sudah di pesan oleh Laura pun datang
"Hati-hati sayang, kabarin aku kalo kamu udah sampai apartemen"
"Iya honeyyy, bye bye"
Arsen terus memperhatikan taxi yang di tumpangi oleh Laura sampai taxi itu sudah tidak bisa dilihat oleh matanya
__ADS_1
"Ya Tuhan Karin!" Arsen langsung berlari masuk ke dalam rumah ketika ia ingat jika Karin sendirian di dalam kamar