Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak
BAB 56 Menggugurkan kandungan


__ADS_3

*Tok... tok... tok...


Mendengar suara pintu yang sedang di ketuk Rey segera beranjak dari sofa untuk membuka pintu apartemennya


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rey melihat wajah Laura yang kini terlihat pucat


Laura mendorong tubuh Rey agar masuk ke dalam apartemen


"Ehh... wait wait kamu kenapa sayang, ada apa"


Tanpa basa basi Laura mengeluarkan testpack dari dalam tas dan memberikannya kepada Rey


"Apa ini" ucap Rey dengan tatapan tidak mengerti


"Aku hamil" jelas Laura


"Haha kamu pasti bercanda sayang"


"Aku nggak bercanda Rey! aku beneran hamil!" Laura mengacak rambutnya ia benar-benar frustasi dengan keadaannya yang kini sedang hamil


Rey diam ia berusaha mencermati ucapan yang baru saja Laura katakan, perasaan setiap kali Rey melakukan hubungan intim dengan Laura ia selalu berhati-hati bahkan ia tidak pernah sama sekali mengeluarkan cairan s*ermanya di dalam rahim Laura


"Enggak itu pasti bukan anak aku" gumam Rey dengan menggelengkan kepalanya


Tangan Laura mengepal ia menghampiri Rey dan langsung menamparnya


*Plakk


"Mulut kamu jahat banget, jelas-jelas ini anak kamu!" ucap Laura dengan emosi yang menggebu-gebu


"Kalo itu emang anak ku yaudah gugurin aja kan bisa"


Laura benar-benar tidak menyangka dengan ucapan Rey yang dengan gampangnya menyuruh dirinya untuk menggugurkan kandungannya


"Kamu gila ha! kamu mau bunuh anak kamu sendiri!" Laura sudah benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya


Rey menjambak rambutnya "Ini gila Laura! aku belum siap"


Laura menangis apa yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi, Rey tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya


Emosi Laura menjadi tak terkendali ia pun memukul Rey dengan membabi buta


"Kamu bener-bener jahat! dasar brengsek!"


"Laki-laki bedebah kurang ajar"


Laura terus mengumpat untuk meluapkan rasa sakit hatinya


Rey mulai kuwalahan menangkis pukulan bar-bar Laura, dengan sengaja Rey mendorong tubuh Laura agar menjauh darinya


*Brukk


Punggung Laura pun terbentur dengan meja nakas yang ada di belakangnya

__ADS_1


Namun bukannya menolong Rey malah menjambak rambut Laura dengan kasar


"Aakhhhh.... sakit Rey lepasin!" mohon Laura ia merasakan rambutnya seperti akan terlepas dari kulit kepalanya


"Lauraaaa kamu pikir selama ini aku sungguh-sungguh mencintai kamu..?"


"Akhhhhhh!! sakit" teriak Laura saat tangan Rey semakin kuat menarik rambutnya


"Asal kamu tau selama ini kamu hanyalah alat yang aku gunakan untuk membalaskan rasa sakit hatiku pada Arsen"


Air mata Laura mengalir dengan deras, selama ini ia mengira Rey benar-benar mencintai dirinya namun ternyata salah, ia hanya di jadikan alat untuk membalas rasa dendam di hatinya


Rey dengan kasar melepas jambakannya di rambut Laura, ia mengambil segepok uang yang ada di laci meja kemudian melemparkannya di wajah Laura


Kini bukan hanya sakit fisik yang harus Laura terima namun ia juga harus merasakan sakit di hatinya, Rey benar-benar membuangnya seperti sampah yang sudah tidak berguna


Rey berjongkok dengan menunjukkan senyumnya yang begitu mengerikan, mata Laura terpejam saat tangan besar Rey mencengkram pipi mulusnya


"Gugurin kandungan kamu kalau enggak aku yang akan melenyapkan anak itu dengan tanganku sendiri" ucap Rey dengan menggertakkan giginya


Laura semakin terisak ia sampai merasa sangat takut untuk menatap wajah Rey yang ada di depannya


~


Sedangkan Arsen kini baru saja tiba di rumah sakit untuk menemani Karin menjaga papanya, tangan Arsen menenteng beberapa kantong makanan yang ia belikan khusus untuk Karin


Sampai di depan ruang ICU ternyata papa mertuanya sudah tidak ada di dalam, senyuman di wajah Arsen langsung menghilang dan di gantikan dengan wajah paniknya


"Suster mertua saya kemana?"


Arsen menghembuskan nafas lega berarti kondisi mertuanya sudah mulai membaik batik Arsen


"Mari saya antar pak"


Perawat itu pun mulai berjalan pergi di ikuti dengan Arsen di belakangnya


"Nah ini kamar pak Anthony" ucap suster tersebut setelah berhenti di depan sebuah kamar inap VVIP rumah sakit


"Terimakasih" ucap Arsen


"Sama-sama pak, saya permisi dulu"


*Ceklek


Arsen membuka pintu kamar dengan perlahan-lahan


Karin pun menoleh kebelakang ia berlari dengan pelan lalu memeluk tubuh Arsen


Arsen pun membalas pelukan Karin dengan sangat erat, semenjak Anthony berada di rumah sakit hubungan Arsen dan Karin menjadi lebih dekat bahkan Karin kini tak sungkan untuk memeluk tubuh Arsen terlebih dahulu


"Kamu pasti belum makan"


Karin pun mengangguk dari tadi ia memang belum sempat untuk membeli makanan

__ADS_1


"Nih makanan buat kamu" Arsen menunjukkan kantong berisi makanan yang ada di tangannya


"Kamu udah makan?" tanya Karin balik pada Arsen


"Belum" jawab Arsen


"Yaudah kalo gitu kita makan berdua"


Arsen melipat lengan kemeja yang sedang ia gunakan agar nanti tidak kotor terkena makanan


"Eits jangan dulu" Arsen menahan tangan Karin yang ingin mengambil makanan


"Kenapa?" tanya Karin dengan wajah bingung


"Haha aku aja yang suapin kamu, biar tangan kamu nggak kotor"


Perilaku manis Arsen seperti ini benar-benar membuat Karin jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Arsen


Dengan lahap Karin memakan makanan yang Arsen suapkan kepadanya


"Makasih" ucap Karin dengan menatap dalam wajah Arsen


"Sama-sama" senyum Karin membuat hati Arsen menghangat


"Terakhir Aaaa...." Arsen menyuapi Karin seperti anak kecil


Setelah selesai Arsen pun membersihkan semua bekas bungkus makanan dan membuangnya ke dalam tong sampah


~


Sementara itu kini Leo merasa khawatir karena sudah hampir seminggu ia tidak bisa menghubungi nomor Karin, Leo sudah mencoba datang ke butik namun ia tidak mendapatkan informasi apapun karena pegawai Karin juga tidak tau atasannya sedang pergi kemana


Leo memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit akibat memikirkan Karin


"Tuan Leo sakit?" tanya bik Ira yang terlihat khawatir dengan Leo


"Gapapa bik saya cuma lagi pusing aja" jawab Leo


"Mau bibik ambilin obat?"


Leo menggeleng "Nggak usah bik, percuma ini nggak bakal bisa sembuh kalo saya nggak ketemu sama orang yang saya cinta"


Bik Ira sedikit terkekeh mendengar ucapan majikannya ini "Yasudah kalo ada apa-apa tuan langsung panggil bibik aja ya"


"Oke bik"


Leo merebahkan tubuhnya di atas sofa, matanya menerawang melihat ke arah lampu-lampu kristal mewah yang bergelantungan di atas kepalanya


"Karin dimana sihh" gumam Leo dengan putus asa


Tiba-tiba Sekelebat ide muncul di otak Leo, ia pun segara mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, Leo menelfon seseorang yang harusnya sudah ia hubungi dari kemarin


"Halo iya bos"

__ADS_1


"Saya ada tugas buat kamu"


__ADS_2