
Tengah malam Arsen terbangun mendengar Karin yang tiba-tiba mengigau tidak jelas, benar saja saat di cek ternyata Karin demam
Arsen pun bergegas turun ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres Karin
"Rin ayo bangun minum obat"
Dengan setengah sadar Karin mencoba membuka matanya, Arsen pun membantu Karin untuk meminum obatnya
Karin kembali tertidur namun tubuhnya semakin menggigil kedinginan
Arsen mengambil selimut tebal dari dalam lemari kemudian ia menumpukan di atas tubuh Karin agar lebih hangat
Satu jam berlalu namun Karin malah semakin mengigau tidak jelas, Arsen pun semakin kalang kabut karena demam Karin sama sekali tidak turun dari tadi malah tubuhnya semakin panas
Kondisi Karin pun masih terus menggigil meskipun Arsen sudah menyelimuti tubuh Karin dengan selimut yang sangat tebal
Akhirnya Arsen pun ikut masuk kedalam selimut dan memeluk tubuh Karin dengan erat
Dan benar saja di dalam dekapan Arsen tubuh Karin tak lagi menggigil, Arsen berhasil menghangatkan tubuh Karin
Pagi hari pun tiba cahaya matahari sudah
mulai menembus masuk ke dalam kamar
Karin bangun terlebih dahulu setelah mengalami demam tinggi tadi malam, Karin mencoba mengerjabkan matanya berkali-kali agar matanya dapat menyesuaikan cahaya yang ada di dalam kamarnya
Reflek tangan Karin langsung membekap mulutnya saat melihat wajah Arsen yang begitu dekat berada di depannya
Dengan buru-buru Karin memeriksa pakaian yang sedang ia gunakan di balik selimut yang sudah sangat tebal ini
"Mampus" Gumam Karin irih saat dirinya mengetahui jika baju yang ia gunakan sekarang berbeda dengan yang ia gunakan kemarin saat pergi ke hutan
"Anjir siapa yang gantiin baju gue, gak mungkin si bekicot merayap ini kan" Karin menatap wajah Arsen takut
Karin mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya kemarin kenapa ia bisa seperti ini, Karin seperti seseorang yang sedang kehilangan ingatannya
Sepersekian detik kemudian Karin akhirnya ingat jika kemarin ia berusaha menolong Arsen yang terpleset dan jatuh ke dalam sungai, sehingga membuat ia pingsan karena kelelahan
Karin panik saat Arsen tiba-tiba bangun ia langsung berpura-pura memejamkan matanya agar Arsen mengira ia masih tidur
Namun setelah Arsen bangun bukannya melepas pelukannya di perut Karin ia malah semakin mengeratkan pelukannya sampai membuat Karin merasa engap
Pelan-pelan Karin mengangkat tangan Arsen dari perut kecilnya
"Berat banget ya ampun padahal cuma tangannya doang" keluh Karin dalam hatinya
"woy pliss jangan bangun dulu"
Usaha memang tidak akan pernah mengkhianati hasil, akhirnya Karin berhasil menyingkirkan lengan Arsen ya walaupun dengan susah payah
"Yess akhirnya gue bisa pergi"
Dengan perlahan Karin berusaha bangun dari tempat tidur
__ADS_1
"Mampus" ucap Karin saat tangan Arsen kembali menariknya ke dalam pelukannya
Kesabaran Karin kini sudah habis ia pun menendang tubuh besar Arsen sampai jatuh ke lantai
"Bukk"
"Makan tu lantai!"
Karin pergi meninggalkan Arsen yang kini sedang tidur di lantai
"Pagi, akhirnya lo sembuh juga" ucap Laura yang sudah berada di meja makan
"Lo pagi-pagi kenapa udah ada disini"
"Kenapa?? Lo nggak suka?"
Karin memutar bola matanya malas, ia pun melenggang pergi karena tidak mau meladeni Laura yang sangat menjengkelkan
Setelah meninggalkan Laura Karin berniat untuk pergi ke taman samping rumah ya, Karin pikir mungkin berjalan di taman akan membuat tubuh Karin menjadi lebih segar
Saat di luar Karin melihat sebuah mobil yang sepertinya tidak asing yang sedang terparkir di depan gerbang rumahnya
Karena penasaran Karin pun datang menghampiri mobil tersebut, dan benar saja mobil itu milik Leo pantas saja mobil tersebut terlihat tidak asing bagi Karin
"Tok tok tok" Karinem mencoba mengetuk kaca mobil Leo yang terlihat sangat gelap
"Haiii....." sapa Leo dari balik kaca mobilnya
"Ngapain kesini??"
"Tumben, kenapa nggak hubungin gue duluan tadi kalo lo mau kesini"
"Udah dari tadi kali, liat aja hp lo pasti udah penuh sama notifikasi dari gue"
Karin baru ingat ia sama sekali tidak memegang ponselnya dari tadi
"Sorry, dari tadu gue gak ada pegang hp"
"Yaudah yok buruan masuk"
Karin pun menurut ia langsung masuk ke dalam mobil untuk mencari sarapan bersama Leo
Leo memperhatikan rambut Karin yang acak- acakan
"Rin" panggil Leo
"Apaan"
"Eh iya gila banget, gue lupa baru bangun" Karin buru-buru mencari kaca untuk melihat wajahnya
"Hahaha tuh tai mata lo masih ada" ledek Leo
"Enak aja, nggak ada ya" Karin pun memukul lengan Leo karena sudah berani meledeknya
__ADS_1
"Iya iya deh sorry, ampun Rin sakit!" Leo pura-pura merasa kesakitan agar Karin berhenti memukulinya
Setelah puas memukuli lengan Leo kini Karin pindah menjewer telinga Leo seperti kebiasaannya saat masih kecil dulu
Karin tertawa lepas melihat wajah Leo yang terlihat kesakitan dan begitupun Leo ia juga ikut tertawa melihat Karin
"Eh Rin lo mau sarapan apa" tanya Leo setelah selesai tertawa
"Emmmm apa yaaa?"
"Apaan buruan!"
"Bubur aja deh yang enak buat sarapan"
"Oke! gitu dong sat-set"
Leo membelokkan mobilnya ke sebuah tempat penjual bubur ayam yang sudah cukup terkenal dan selalu ramai
"Ihhhhh antri banget males deh"
Belum apa-apa Karin sudah malas melihat barisan antrian pembeli bubur yang sangat panjang
"Udah jangan cerewet, lo tunggu sini biar gue yang antri" ucap Leo lalu pergi masuk ke dalam barisan antrian pembeli
"Leo dari dulu emang selalu bisa diandelin" gumam Karin dalam hati
Lama-lama Karin bosan juga berada di dalam mobil, sementara itu ia melihat Leo di depan yang masih setia menunggu antrian
Karin akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil ia datang menghampiri Leo
"Lama banget ya?" bisik Karin di telinga Leo
"Lo pasti udah kelaparan kan?"
"Laper banget" ucap Karin sambil mengelus-elus perutnya
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang nyeletuk
"Eh ini kasian lagi hamil kayaknya, duluin aja deh gapapa" ucap ibu tersebut sambil melihat ke arah Karin
Karin pun bingung namun akhirnya ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan bubur lebih dulu dari yang lain
Karin menggandeng lengan Leo seolah-olah Leo adalah suaminya
"Hehe iya Bu makasih banyak ya" ucap Karin
"Dasar wanita gila hahaha" gumam Leo dalam hati saat melihat tingkah gila Karin
"Yess akhirnya dapat bubur juga kita" ucap Karin bahagia setelah ia berhasil mendapatkan bubur
"Dasar gila bisa-bisanya lo bohongin tu ibu-ibu"
"Ya kan dari pada gue jujur terus ibunya malu, kan kasian juga"
__ADS_1
"Iya deh terserah lo aja"
"Tapi gue berharap suatu hari nanti gue bisa jadi suami lo beneran Rin"