
Arsen duduk di meja makan sembari memperhatikan punggung istrinya yang kini sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya di dapur
Tak bisa dipungkiri hati Arsen kini merasa sangat lega karena Karin mau mendengar dan menerima penjelasan darinya
Drttt
Arsen melihat ponselnya yang bergetar di atas meja makan, rupanya ada satu notifikasi pesan masuk yang terlihat di layar ponsel tersebut
Temui aku di apartemen sekarang juga
Perasaan Arsen tidak enak setelah membaca pesan tersebut
"Ada apa ini" gumam Arsen dalam hati
Dengan cepat Arsen mengambil kunci mobilnya, sebelum pergi tak lupa ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk berpamitan dan mencium kening istrinya
"Sayang sorry, aku ada urusan bentar di kantor aku pergi dulu ya" ujar Arsen dengan terburu-buru
"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Karin karena ia hampir selesai menyelesaikan masakannya
"Aku keluar bentar sayang, habis ini aku langsung pulang"
"Okey, hati-hati"
Karin melihat punggung lebar suaminya yang kini sudah menghilang di balik pintu
Perasaan Arsen kini sudah tidak karuan, ia takut jika Laura akan berbuat macam-macam untuk memisahkan dirinya dan Karin
Arsen menekan pedal gass mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang cukup padat
Setelah kurang lebih tiga puluh menit mobil Arsen kini sudah tiba di parkiran apartemen milik Laura
Dengan langkah cepat Arsen keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam lift
*Tok Tok Tok
Arsen mengetuk pintu apartemen Laura dengan keras
Laura pun menyunggingkan senyum kemenangan ketika mendengar suara ketukan tersebut
"Hai sayang" sapa Laura dengan suara menggoda ketika membuka pintu apartemennya
Arsen tidak mau banyak basa basi ia pun langsung masuk ke dalam apartemen milik Laura
"Ada apa?" tanya Arsen to the point tidak mau bertele-tele karena Karin sudah menunggunya di rumah
Laura tertawa melihat ekspresi wajah Arsen yang kini terlihat sangat tidak ramah
"Okey-okey sayang, aku mau langsung ngasih tau sebuah berita baik buat kamu" ujar Laura membuat Arsen mengangkat sebelah alisnya
"Berita apa?"
__ADS_1
Laura menyodorkan sebuah foto kecil berwarna putih dan hitam hasil USG nya
Arsen menatap mata Laura dengan tajam
"Apa ini!"
"Ini foto calon anak kita sayang, aku sekarang hamil anak kamu, buah cinta kita berdua"
Duarrrrr
Tubuh Arsen seketika menegang seperti tersambar petir di siang bolong
"Kamu jangan main-main!" ujar Arsen tidak percaya dengan pengakuan yang Laura ucapkan
"Kamu pasti bohong, iya kan" Arsen mencengkram erat pundak Laura
"JAWAB!" teriak Arsen yang mulai kehilangan kesabarannya
Sesaat Laura menggenggam erat jari-jari tangannya, jujur ini pertama kalinya ia melihat Arsen meluapkan emosinya membuat Laura merasa ketakutan, namun rasa takut itu terkalahkan oleh rasa kasihan kepada bayi yang ada di dalam kandungannya
Laura mencoba memasang wajah tenang agar Arsen tidak curiga kepadanya
"Aku nggak main-main sayang, kamu masih ingatkan malam panas yang sudah kita lewati berdua" ujar Laura yang membuat wajah Arsen seketika berubah pias karena merasa bersalah kepada istrinya
"Kamu sudah menjebak ku Laura, ternyata kamu tak lebih dari seroang wanita licik dan murahan" geram Arsen
"Haha aku tidak perduli, karena tidak ada yang boleh memiliki kamu selain aku"
Arsen mengepalkan tangannya ia ingin sekali memukul wanita yang kini ada di depannya, namun otak Arsen masih waras ia tidak mungkin melakukan hal seperti itu
"Kamu jangan gila Laura"
"Terserah aja sih, kalo kamu nggak mau, aku tinggal bilang aja sama istri kamu kalo suaminya ternyata sudah menghamili wanita lain"
"Aku gak bisa bayangin respon istri kamu bakal kayak gimana ya, pas tau semuanya" sambung Laura mengancam Arsen
"Jangan mimpi kamu" ujar Arsen lalu pergi meninggalkan Laura sendirian di apartemen
"Tunggu" teriak Laura menghentikan langkah Arsen
"Kamu punya dua pilihan sayang, antara menikahi aku secara diam-diam atau aku akan menghancurkan pernikahan kamu dengan Karin"
"Cih, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menikah dengan wanita licik seperti kamu" ujar Arsen lalu pergi
Laura menyunggingkan senyuman liciknya ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arsen
"Akhirnya permainan pun di mulai"
~
Karin melihat suaminya yang baru saja pulang dengan ekspresi wajah masam
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Karin khawatir dengan suaminya
Arsen tak menjawab ia lebih memilih untuk memeluk tubuh istrinya dengan erat
Tangan Karin pun terulur untuk mengelus punggung lebar suaminya
"Sayang, aku mohon jangan pernah tinggalin aku" bisik Arsen tepat di telinga Karin
"Kamu kenapa sayang, kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu"
Arsen menggeleng lemah
"Aku cinta kamu" gumam Arsen
Karin mengurai pelukannya ia mendongak menatap wajah tampan suaminya
"I love you too" ujar Karin dengan senyuman yang merekah di bibir cantiknya
Arsen tersenyum bahagia karena ini merupakan pertama kalinya ia mendengar ungkapan cinta yang muncul dari mulut istrinya
"Ehhhh" seloroh Karin saat tubuhnya tiba-tiba melayang di gendong suaminya
"Sayang turunin aku, kita kan mau sarapan"
"Aku maunya sarapan pakai kamu"
"Sarapan apa?" tanya Karin tidak paham dengan maksud suaminya
"Jatah pagi" bisik Arsen membuat Karin melotot
"Ayo sarapan dulu aku udah laper"
"Jatah dulu aku udah gak tahan sayang, kemarin malam aku kan udah nggak ngapa-ngapain kamu"
Karin memutar bola matanya, suaminya ini memang sangat mesum
Arsen membawa tubuh istrinya ke dapur
"Loh nggak jadi?" tanya Karin heran
"Kita belum pernah coba main disini"
"Hah" belum sempat Karin menyelesaikan ucapannya bibirnya kini sudah di sambar oleh Arsen
Tangan Arsen kini sudah mendarat dan *******-***** kedua gunung kembar favoritnya yang dari semalam tidak ia sentuh
Krekkk
Mata Karin terbelalak melihat baju yang ia gunakan kini sudah koyak tergeletak di atas lantai
"Sayang jangan di sobek dong" protes Karin namun Arsen tidak perduli ia malah semakin gila bermain di dada istrinya
__ADS_1
...****************...