
Pagi ini Karin akan berangkat ke butik miliknya ia sudah berada di dalam mobil bersama Arsen
Sebelum berangkat Arsen dari tadi terus memaksa Karin untuk ikut dengan mobilnya, padahal arah jalan ke butik milik Karin itu berlawanan dengan jalan menuju kantor Arsen sehingga dari tadi Karin terus berusaha menolak tawaran Arsen namun tetap saja ia kalah
Seperti biasa jalanan pasti selalu macet saat di pagi hari mobil Arsen kini sampai tidak bisa berjalan maju ke depan
"Gue turun sini aja deh, kalo nganter gue lo bisa telat ke kantor" Karin bersiap untuk turun dari mobil namun Arsen dengan sigap menahan tangannya
"Aku bosnya, jadi gak masalah mau datang jam berapa"
"Iya sih tapi kan-"
"Tapi apa?" tanya Arsen memutus ucapan Karin
"Yaudah iya terserah" Karin merasa jengkel dengan Arsen karena keras kepala dan suka seenaknya
Hampir satu jam terkena macet akhirnya mobil Arsen sampai di depan butik milik Karin
"Nanti pulangnya aku jemput"
"Nggak jangan, gue bisa balik sendiri naik taxi" tolak karena Karin ia tidak mau merepotkan Arsen lagi
Arsen menahan wajah Karin agar melihat ke arahnya
"Jadi istri harus nurut sama suami"
*Gleg
Karin menelan ludahnya dengan susah payah
"Duhhhh terserah deh"
Karin melepaskan tangan Arsen dari wajahnya
"Apalagi ha?" tanya Karin karena Arsen menahan dirinya yang akan membuka pintu mobil
Arsen menyodorkan tangannya
"Apasih sen gue nggak paham, lo mau kutek an?
"Ya enggak lah, Salim dulu"
"Gue jadi takut lo abis kesambet setan jalanan, dari kemarin tingkah lo aneh banget tau gak"
"Ayok buruan, aku udah telat ke kantor"
Karin pun dengan malas mencium tangan Arsen suami kontraknya yang sangat menyebalkan itu
"Gitu dong" ucap Arsen senang
Karin langsung melotot saat Arsen tanpa aba-aba mencium keningnya
"Ihhh ngapain sih cium-cium segala" Karin memukul lengan Arsen
__ADS_1
"Kenapa dari pada aku cium istri orang lain mending cium istri sendiri"
"Gue hajar lo ya, lama-lama bikin pusing"
Karin pun turun dari mobil Arsen ia sudah tidak sanggup lagi dengan tingkah Arsen yang membuat hatinya jadi tidak karuan
"Kayaknya kemarin kepalanya kepentok deh mangkanya sekarang jadi aneh kayak gini" gumam Karin yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya
"Cieee di anterin suami nih"
Ucap Netta yang kini sedang bersandar di depan pintu
"Netta, Aaaaaaaa kangen banget gue sama elo"
Karin berlari memeluk tubuh sahabatnya yang baru saja kembali ke Indonesia
"Duh woy lepasin leher gue sakit"
Perjalanan selama Dua puluh satu jam di dalam pesawat membuat leher Netta terasa sakit
"Harusnya lo bilang kalo mau pulang, gue kan bisa jemput elo di bandara"
"Gue males ah ganggu penganten baru" ucap Netta dengan ekspresi yang menjengkelkan
"Gue jambak lo ya"
Karin mengeluarkan laptopnya dari dalam tas
"Yaudah deh gue mau balik, capek gue disini"
Setiap bertemu Karin dan Netta pasti ada saja hal yang diributkan tapi giliran tidak ketemu sehari saja mereka berdua pasti saling rindu
"Eh Nett btw gue mau cerita sesuatu"
"Ehh apaan ayo sini"
Karin memutar bola matanya melihat tingkah Netta yang langsung berlari dan duduk di atas sofa padahal barusan ia sudah pamit untuk pulang
Netta tampak begitu antusias ingin mendengarkan curahan hati sahabatnya
"Menurut gue sikap Arsen sekarang berubah jadi aneh"
"Aneh gimana nih maksud lo?"
"Dia jadi nggak ada malunya sama gue, apa-apa sekarang harus sama gue masak tadi malam aja dia maunya tidur sama gue bayangin" jelas Karin dengan nada yang menggebu-gebu
"Lo peka dikit dong babi, berarti Arsen sekarang udah mulai suka sama elo, gitu aja nggak ngerti-ngerti"
Karin pun diam ia mulai mencerna perkataan Netta barusan
"Terus lo nyaman nggak di gituin sama Arsen" ucap Netta yang terdengar ambigu
"Gue nggak tau Nett" Karin menyenderkan kepalanya di pundak Netta
__ADS_1
"Aishhh dasar wajah doang cantik tapi otak radak error"
"Ya gimana gue kan gak pernah pacaran kayak elo"
"Duhhh bikin pala gue pusing aja lo Rin, udah deh mulai sekarang elo rasain tiap getaran jantung lo pas lagi deket sama Arsen, tapi gue liat-liat sih kayaknya lo juga demen sama Arsen"
"Tau dari mana lo, jangan sok tau deh" Karin berusaha mengelak ucapan Netta
"Ya kalo gak suka, ngapain lo bisa senyum-senyum sendiri pas turun dari mobil Arsen tadi?"
Karin pun langsung mendelik ke arah Netta
"Apaa lo pikir gue gak liat hahaha"
"Ihhh bodoh gue maluuu banget ketauan"
Karin menutupi wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus dengan bantal ia tidak mau melihat Netta yang kini sedang menertawai dirinya
______
"Selamat Pagi Pak Arsen" sapa seorang resepsionis saat Arsen baru saja sampai di depan lobi perusahaan
"Pagi" jawab Arsen dengan senyuman tipis di bibirnya
Setelah Arsen lewat sang resepsionis itu pun meloncat kegirangan karena baru kali ini ia melihat bos-nya tersenyum seperti itu
" Aaaa...! mimpi apa gue semalem, Pak Arsen tadi senyum ke gue ya ampun ganteng banget!"
Selama ini sikap Arsen memang terkesan acuh dan cuek ia bahkan sama sekali tidak pernah terlihat tersenyum kepada para pegawainya
"Pagi" Sapa Arsen saat ia berjalan melewati meja kerja sekretaris pribadinya
Daren malah melongo ia begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar
"Kayaknya kuping gue perlu di periksain deh" ucap Daren sambil mengusap-usap telinganya
Buru-buru Daren menyambar iPad yang ada di atas mejanya dan membawanya masuk ke dalam ruangan Arsen
"Apa jadwal saya hari ini" tanya Arsen dengan wajah yang sumringah
"Agenda bapak hari ini meeting dengan Direktur PT.Tex bersama staff di ruang pertemuan pak"
"Jam berapa??"
"Jam sepuluh sampai jam dua belas siang pak"
Arsen pun melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya
"Sekarang jam sepuluh kurang lima belas menit"
"Betul Pak" ucap Daren membenarkan ucapan bosnya
"Ayo kita berangkat sekarang " Arsen pun berjalan meninggalkan Daren yang masih berdiri di depan meja kerjanya
__ADS_1
Arsen tampak begitu semangat hari ini tidak seperti biasanya yang hanya memperlihatkan wajah datarnya dan ucapan ketusnya
"Kayaknya pak bos lagi seneng banget nih, mangkanya senyam senyum mulu dari tadi" gumam Daren dalam hati