
"Apa yang terjadi? Alea, kenapa kamu ada di atas ranjangku?" Sean tampak bingung sembari mengingat kejadian semalam.
Alea malah menangis, membuat Sean semakin bingung.
Saat melihat Alea menangis Sean benar-benar bingung, ia lupa akan terjadi tadi malam. Sean berusaha keras mengingat kejadian tadi malam, sungguh ia tidak ingat sama sekali.
"Kamu tanya apa? Kamu sudah tega menodaiku, kamu melakukan yang tidak seharusnya kamu lakukan padaku. Kamu bilang dalam ikatan pernikahan kontrak tidak boleh bersentuhan fisik, tapi apa? Kamu malah memaksaku melakukan hubungan terlarang ini," tangis Aliyah semakin pecah.
Samar-samar Sean mengingat kejadian tadi malam, ia juga mengingat minuman apa yang ia minum di club malam tadi malam. "Apa minuman yang aku minum tertukar dengan milik Rin, Astaga semalam tubuhku begitu panas dingin, hasrat aku juga sangat memuncak," batin Sean dalam hati.
"Lea, maafkan aku," kata Sean merasa bersalah.
"Maaf, tapi kesucianku sudah kamu ambil, bagaimana jika aku hamil?" Alea menatap Sean serius.
Dalam hatinya, aku tidak boleh sampai hamil, biarpun Sean menembakkannya di dalam sana, aku harap benih yang ia tanam tidak akan tumbuh, aku sadar Sean mencintai kekasihnya dan aku ini hanya perempuan yang di bayar saja.
"Alea aku akan bertanggung jawab," kata Sean pasrah. Ini adalah kesalahan terbesar, Alea masih sangat suci tapi aku nodai begitu saja.
"Tidak perlu, aku bisa atasi masalah ini sendiri," sahut Alea sambil beranjak dari tempat tidur, ia membalut tubuh polosnya dengan selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya saat ini.
"Alea, kenapa kamu mengambil selimutnya?" Sean agak kesal, karena ulah Alea ucoknya jadi terlihat.
Alea hanya diam, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Alea masuk ke dalam kamar mandi, Sean memunguti bajunya lalu kembali memakainya. Setelah itu Sean kembali duduk di atas ranjang, kedua matanya tertuju pada bercak merah yang ada di sprei warna putihnya.
"Sungguh dia masih suci," katanya dengan suara pelan.
"Sean, kamu bodoh, kamu tega melakukan hal yang tak seharusnya kamu lakukan," lanjutnya penuh penyesalan.
Setelah beberapa lama Alea keluar dari dalam kamar mandi, ia langsung berganti pakaian dan kini jalannya agak ngangkang karena rasanya nyeri di bagian selangkangannya itu.
Tadi malam di bawa sana seperti ada yang robek, awalnya sakit namun saat Sean mulai memainkan dengan lembut, lalu berujung kasar sungguh tak banyak yang bisa aku perbuat karena aku berada di naungannnya tadi malam.
"Achh..." rintihnya saat hendak duduk di sofa.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Sean langsung menatap kawatir Alea.
Alea hanya menjawab melalui gelengan kepala, Tuhan seperti inikah rasanya di prawanin? Untung saja sama suami sah, bukan sama laki-laki yang tidak jelas.
Tapi Alea langsung menepis pikirannya itu, suami sah, aduh Alea ingat hanya nikah kontrak!
***
__ADS_1
Seharian Alea tidak keluar kamar, makanan saja Sean antarkan ke kamar dan bilang pada semua keluarga kalau Alea sedang tidak ingin di ganggu.
"Sean, kamu apakan Alea?" tanya Hutama dengan jail pada sang cucu.
Ya heran saja Alea sampai tidak mau keluar dari dalam kamar, kan aneh dan tidak biasanya.
"Kakek, aku hanya membuatnya sedikit tidak bisa jalan," jawab Sean dengan jujur. Jujur biar Kakek nya bahagia, kan ini memang keinginannya.
Otak Hutama langsung bisa mencerna dengan baik, akhirnya cicitku akan segara hadir, Sean dan Alea memang hebat.
"Dasar anak bodoh! Bermainlah selembut mungkin! Jangan membuatnya tersiksa," omel Hutama pada Sean.
"Maaf Kek, lain kali pasti lembut," sahut Sean asal ceplos.
Sean berpamitan ke kantor pada Kakeknya, karena Ibunya pagi-pagi sekali sudah pergi entah kemana?
***
Sean di kantor di sibukan dengan pekerjaannya, saat ingat kejadian tadi malam tiba-tiba ucoknya langsung tegang dan keras.
"Tubuh mulusnya sungguh menggoda," katanya sambil membayangkan kejadian tadi malam.
Sekarang tidak ada rasa penyesalan lagi di hatinya Sean, yang ia pikirkan jika benihnya tumbuh ya pasti akan bertanggung jawab dengan baik dan akan senang jika punya anak.
***
Ia bergegas pergi ke Apotek, untung saja tidak ada siapa-siapa di ruang tengah ataupun ruang tamu.
Di Apotek Alea membeli obat pencegah kehamilan, ya berharap dengan obat ini benih Sean tidak akan tumbuh di dalam rahimnya.
Setelah membeli obat Alea langsung pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah tumben sekali mobil Sean sudah terparkir rapi. Itu tandanya Sean sudah pulang, tidak biasanya.
Alea membuka pintu rumahnya, lalu langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan di dalam kamar sudah ada Sean yang duduk tegas di tepi ranjang.
"Darimana kamu? Apa sudah baik-baik saja?" Sean bertanya dengan nada lembut, membuat Alea merasa gimana gitu.
"Aku habis jalan-jalan dari depan, jenuh di rumah terus," jawab Alea berbohong. Aku tidak mau Sean tahu kalau aku habis membeli obat pencegah kehamilan.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Sean, saat memperhatikan tangan Alea mengumpatkan sesuatu.
"Tidak ada, aku..."
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban dari Alea lebih lanjut, Sean yang sangat penasaran, ia beranjak dari tepi ranjang lalu mengambil benda yang di sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Berikan padaku!" pintanya.
"Jangan...!"
Sean sudah berhasil mengambil barang yang di sembunyikan itu, ia membukanya lalu mengeluarkan barang itu dari dalam plastik, saat melihat ternyata obat, Sean langsung menatap Alea dengan tatapan tegas.
"Alea, ini obat apa?" tanya Sean.
"Itu hanya obat...." Alea menghentikan kata-katanya, Sean membaca obat itu dengan teliti.
"Kamu membeli obat pencegah kehamilan, untuk apa?" Sean langsung marah.
"Karena aku tidak mau kalau aku sampai hamil, aku tahu kamu juga tidak ingin terjadi," jawab Alea dengan tegas.
Sean geleng-geleng kepala, ia langsung menarik tangan Alea dengan kuat.
"Kamu tidak boleh meminumnya!" katanya dengan begitu tegas.
"Tapi....!!"
"Tidak ada tapi-tapi, aku bilang aku akan bertanggung jawab!" sentak Sean, membuat Alea takut.
Sean saat ini sedang benar-benar marah, sungguh menakutkan.
Sean malah mendorong tubuh Alea hingga jatuh tepat di atas kasur, saat ini hatinya sangat marah pada Alea.
"Kamu tidak mau hamilkan, tapi aku akan membuatmu hamil, kamu adalah istriku jadi aku tidak menerima penolakan darimu," kata Sean pada Alea. Kini Sean sudah berada di atas tubuh Alea, tatapan begitu tajam.
"Jangan Sean...!"
"Aku mohon jangan...!"
Sean tidak mau mendengarkan Alea, ia kembali melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan pada Alea.
Aku tidak perduli, jika Alea hamil aku juga akan menerima kehamilannya itu.
Akhirnya hal yang tak Alea inginkan itu kembali terjadi, obat yang di beli oleh Alea, itu juga langsung di simpan oleh Sean. Jangan sampai Alea meminumnya!
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia