
Leo memperhatikan Karin yang dari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya
"Heyy kenapa lo??" Leo sengaja menyenggol lengan Karin
"Ehh gak ada apa-apa kok"
"Ngelamun mulu lo dari tadi, hati-hati ketempelan"
"Isssss amit-amit"
Karin sedang menemani Leo untuk makan siang, padahal tadi pagi Karin sangat bersemangat namun tiba-tiba suasana hatinya berubah
"Eh Rin gue mau nanya" ucap Leo membuat Karin menoleh ke arahnya
"Apaan"
"Lo kok bisa nikah sama Arsen"
Karin menghela nafas panjang
"Gue di jodohin"
"Hah kok bisa" ucap Leo penasaran
"Panjang ceritanya, intinya orang tua gue sama Arsen itu temenan udah dari dulu, terus akhirnya gue sama Arsen di jodohin, kayaknya sih gitu" jelas Karin
"Ohhhh gituuu" gumam Leo
"Tapiiii" Sambung Karin ia menggantungkan ucapannya
__ADS_1
"Tapi apaan" Leo tidak sabar, ia semakin penasaran
"Gimana yaa eee" Karin ragu untuk menceritakan kepada Leo tentang hubungannya dengan Arsen sesungguhnya
"Apaan sih buruan!" ucap Leo tidak sabaran
"Gue sama Arsen cuma nikah kontrak"
"Lo jangan bohongin gue deh" Leo menganggap ucapan Karin hanya omong kosong
"Gue serius" ucap Karin sambil menatap mata Leo
Leo tersenyum samar mendengar perkataan Karin karena berarti masih ada kesempatan bagi dirinya untuk mendekati Karin
"Berarti Lo sama Arsen nanti bakal pisah?"
Sementara itu Laura baru saja sampai di apartemennya, ia langsung membanting tas miliknya dengan keras di atas tempat tidurnya
Laura masih tidak terima dengan perkataan para karyawan Arsen yang begitu memuji Karin karena menurutnya hanya dirinya yang pantas menjadi istri Arsen
"Ini nggak bisa dibiarin, aku harus benar-benar menyingkirkan Karin dari hidup Arsen, bagaimanapun caranya Arsen hanya milikku!" ucap Laura dengan mata yang penuh amarah
Laura berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya ia melihat banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, tiba-tiba sebuah ide licik muncul di otak Laura
"Tunggu tanggal mainnya" gumam Laura dengan senyuman liciknya
Tak terasa hari sudah semakin malam Arsen baru saja kembali dari kantor, sampai di rumah ia melihat Karin yang sedang duduk lesehan di meja ruang tamu
__ADS_1
Arsen tidak mengucapkan sepatah katapun ia hanya melihat Karin sebentar lalu pergi ke kamarnya
Saat Arsen sedang menaiki tangga Karin baru berani membalikkan badannya untuk melihat Arsen
Karin menghembuskan nafas kasar, akibat kejadian tadi siang ia kembali merasa asing dengan Arsen
"Sudahlah, harusnya dari awal memang harus seperti ini" gumam Karin
"Huhh" Karin mencoba untuk kembali bekerja
Karin melihat Jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sudah tiga jam Karin hanya duduk tanpa menghasilkan desain apapun, malam ini otaknya benar-benar tidak bisa di ajak untuk bekerja sama
"Hoaaaamm"
"Ya ampun ngantuk banget" ucap Karin sambil menggaruk leher jenjangnya yang terasa gatal
Mata Karin sudah terasa sangat berat, ia harus segera kembali ke dalam kamarnya
Dengan cepat Karin membereskan semua barang-barang miliknya
Sebelum naik ke atas Karin harus mengembalikan piring kotor yang sudah ia gunakan
Sampai di dapur Karin ternyata berpapasan dengan Arsen yang kebetulan sedang mengambil air minum di dalam kulkas
"Gak usah deh" gumam Karin dalam hati ia mengurungkan niatnya untuk menyapa Arsen
Setelah menaruh piring kotornya Karin pun melewati Arsen begitu saja dan kembali ke dalam kamarnya
Arsen hanya bisa memandang tubuh belakang Karin yang sedang menaiki tangga
__ADS_1