
"Anjir mampus gue"
Arsen langsung menarik tangan Karin hingga membuat Karin berada di bawah kukuhannya.
"G-gue mau ambil kunci mobil" cicit Karin yang kini berada di bawah tubuh kekar Arsen.
Arsen hanya diam ia terus memperhatikan wajah Karin yang ada di bawahnya, setiap bagian dari wajah Karin terlihat begitu cantik di mata Arsen, sepertinya kini Arsen kembali terpesona dengan kecantikan wajah Karin.
Tiba-tiba ponsel Karin yang berada di dalam tas berbunyi, dengan cepat Karin mendorong tubuh kekar Arsen agar menjauh dari dirinya.
Karin melihat layar ponselnya dan benar saja kliennya kini sedang menghubunginya, Karin pun langsung mengangkat panggilan dari kliennya tersebut.
"Hallo, iya saya segera ke sana"
"Baik, terimakasih"
Dari tadi Arsen terus memperhatikan Karin yang sedang berbicara di ponselnya.
"Mana??" tanya Karin sambil menodongkan tangannya pada Arsen.
Bukannya menjawab Arsen malah menaikkan sebelah alisnya sambil melirik ke kantong celana yang ia pakai sekarang.
"Huh! yang bener aja masak gue disuruh ambil sendiri" gumam Karin dalam hatinya.
Karin menghembuskan nafas kasar, ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bermain-main dengan Arsen sekarang karena klien sudah menunggunya.
Tangan Karin pun mulai meraba saku celana Arsen namun ternyata saku celana Arsen agak dalam sehingga membuat Karin kesusahan untuk mengambil kunci mobilnya.
Arsen berusaha menahan tawa saat melihat wajah Karin yang kini terlihat putus asa.
"Aishhh..."
Kesabaran Karin sudah mulai menipis ia pun mendorong badan kekar Arsen sampai terlentang kemudian dengan semangat Karin naik dan duduk di atas paha Arsen sehingga membuat Karin dengan mudah mengambil kunci mobilnya.
"Yes dapet!!" ucap Karin gembira
Setelah berhasil mendapatkan kunci mobilnya Karin langsung turun dari tempat tidur dan pergi meninggalkan Arsen begitu saja di dalam kamar
"Arsen kenapa sih gila bikin jantungan aja pagi-pagi" omel Karin sambil masuk ke dalam mobilnya
Jam sepuluh lebih lima belas menit Karin baru saja sampai di butiknya, buru-buru Karin turun dari mobil
"Tasya mana tamu saya" tanya Karin pada salah satu pegawainya.
"Ada di dalam Bu"
Karin berjalan dengan cepat menuju ruangannya.
__ADS_1
"Hai, aduh maaf ya saya telat"
Karin meminta maaf ia merasa tidak enak karena datang terlambat sehingga membuat kliennya menunggu lama, sebenarnya Karin juga takut jika di nilai tidak profesional karena keterlambatannya ini.
______
Sementara itu Felicia dan Agnes kini sedang berada di sebuah mall mereka berdua pergi bersama untuk berbelanja
Tangan mereka berdua menenteng beberapa paper bag yang berasal dari merek brand yang sangat terkenal dan tentunya harganya pasti sangat mahal
"Duhh seneng banget bisa belanja bareng kayak gini ya" ucap Felicia pada besannya
"Iya jeng, biasanya kita sama-sama sibuk jadi nggak sempat"
Setelah selesai berbelanja kini dua wanita tersebut sedang duduk di sebuah restoran untuk makan siang berdua
Namun mata Felicia tiba-tiba melihat ke arah Laura yang sedang bersama seorang pria dan kebetulan mereka berdua duduk tidak jauh dari meja Felicia.
Feeling seorang ibu memang tidak akan pernah salah dan ternyata dugaan Felicia selama ini benar jika Laura hanya memanfaatkan kekayaan Arsen.
Senyum licik muncul di bibir Felicia karena ini merupakan kesempatan emas baginya, buru-buru Felicia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk mengambil gambar Laura yang sedang bersama seorang pria
Akhirnya Felicia mempunyai senjata untuk menjauhkan Arsen dari wanita ular seperti Laura
Sedangkan Laura kini sedang berada di dalam toilet untuk merapikan tatanan rambutnya tak lupa ia juga mengoleskan lipstik berwarna merah di bibirnya agar tampilannya terlihat lebih segar
Laura terkejut melihat Felicia dari pantulan kaca yang tiba-tiba muncul di belakangnya
"Ta-Tante sama siapa?" Laura mencoba memastikan Felicia datang ke sini tidak bersama dengan Arsen
"Kamu kenapa terlihat panik? takut ketahuan"
"Sialan jangan sampai wanita tua ini tau Aku sedang bersama dengan Rey"
Ya Rey merupakan kekasih Laura, selama ini Laura hanya mau memanfaatkan kekayaan Arsen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Laura takut Felicia akan mengetahui semua rahasianya ia pun berniat pergi namun tangan nya di tarik oleh Felicia
"Jauhi anak saya, wanita ****** seperti kamu tidak akan layak untuk Arsen"
"Arsen terlalu baik untuk wanita seperti kamu" ucap Laura sambil memandang rendah Laura
Laura mengepalkan tangannya mendengar ucapan Felicia yang terus merendahkan dirinya
"Saya bisa dengan mudah membuat hidup kamu menderita Laura" bisik Felicia lalu pergi meninggalkan Laura
Laura menyunggingkan senyum liciknya ia tidak akan dengan mudah melepaskan Arsen dari genggamannya
__ADS_1
"Kita lihat siapa nanti yang akan menderita, aku atau kamu wanita tua" gumam Laura
Jika Felicia memang melihatnya bersama dengan Rey, Laura bisa dengan mudah mencari alasan untuk berbohong pada Arsen
Dan Laura yakin Arsen akan percaya karena Laura tau Arsen sangat mencintai dirinya
______
Arsen kini sedang berada di depan butik milik Karin, setelah menikah hampir empat bulan ia baru sekali ini datang ke butik milik istrinya
Sudah satu jam lebih Arsen hanya diam di dalam mobilnya karena masih ragu takut Karin akan terganggu dengan kedatangannya
Ponsel Arsen terus bergetar sedari tadi Daren terus menghubunginya tanpa henti, karena mulai jengkel Arsen pun terpaksa mengangkat panggilan dari sekretaris pribadinya itu
"Ada apa?"
"Maaf pak, para klien sudah menunggu bapak untuk meeting"
"Tunda saja saya sedang sibuk" ucap Arsen lalu mematikan sambungan telfonnya
Ya dari tadi Arsen memang tidak pergi ke kantor, ia malah memilih pergi ke butik Karin dan hanya diam di dalam mobil
Tentunya perilaku Arsen seperti ini membuat Daren kalang kabut di kantor
Karin melihat jam di pergelangan tangannya ternyata jam makan siang sudah lewat pantas saja perutnya sudah terasa kelaparan
Kebetulan di depan butik ada sebuah restoran Karin berniat pergi kesana saja untuk makan siang
"Tasya saya pergi ke resto depan ya kalo ada apa-apa hubungi saya aja" pamit Karin sebelum pergi pada karyawannya
Karin mengambil tas di dalam ruangannya sebenarnya Karin malas keluar karena siang ini cuaca sangat panas
Saat melewati parkiran Karin melihat sebuah mobil yang tak asing bagi dirinya
"Kayak mobil Arsen, tapi ngapain dia di sini" gumam Karin
Karin pun mencoba mengetuk kaca mobil tersebut dan benar saja saat kaca mobil di buka ia melihat Arsen berada di dalam
"Ngapain??"
"Tumben nggak ke kantor?" sambung Karin
Arsen menggaruk lehernya ia bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Karin
"Kamu mau kemana" bukannya menjawab Arsen malah balik tanya pada Karin
"Mau ke resto depan"
__ADS_1
"Lo mau ikut??"
"Mau"