
Karin merasakan tubuhnya bergetar begitu hebat saat melihat kondisi Anthony yang kini sedang dalam keadaan kritis, ia bahkan tidak sanggup lagi menahan tubuhnya agar tetap berdiri
Dunia Karin terasa runtuh dadanya begitu sesak, semua terasa begitu cepat, tubuh Karin pun ambruk di lantai
"Papa..." panggil Karin dengan suaranya yang bergetar
"Hiks... Papa...." air mata Karin membanjiri pipinya
"Papa.... "
Hati Agnes terasa semakin teriris ketika melihat kondisi Karin yang kini sedang menangis dengan tubuh yang tidak berdaya di atas lantai
"Sayang" suara Agnes terdengar sangat parau
Agnes merangkul tubuh Karin ia berusaha menguatkan hati anak kesayangannya walaupun hatinya sendiri kini tak kalah hancur melihat keadaan suaminya
Arsen pun datang di susul dengan Felicia dan Fernando yang berjalan di belakangnya
"Karin" panggil Arsen
Hati Arsen seperti di remas melihat Karin yang sedang menangis tersedu-sedu
Arsen pun langsung berlari dan memeluk tubuh Karin
Sedangkan Agnes kini menangis di dalam pelukan besannya
Pintu ruang ICU terbuka, Karin langsung berdiri menghampiri sang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan
"Dokter gimana kondisi papa saya"
"Pasien kini masih dalam keadaan kritis benturan yang begitu keras membuat pasien mengalami pendarahan pada otaknya"
Tubuh Agnes ambruk dan langsung tak sadarkan diri setelah mendengar kondisi suaminya
"Astagaaaa jeng" teriak Felicia
"Mamaaaa" Karin semakin menangis melihat keadaan mamanya
Fernando ikut membantu Felicia untuk mengangkat tubuh besannya
~
Karin kini berada di dalam ruang ICU ia benar-benar tidak mau meninggalkan Anthony sendirian
"Papa maafin Karin" suara Karin terdengar begitu menyedihkan
"Papa jangan tinggalin Karin sama mama ya"
"Papa kan udah janji bakalan temenin mama sampai tua"
"Papa maafin Karin, Papa jadi begini gara-gara Karin" ucap Karin dengan terus terisak
Dari tadi Karin terus berbicara berharap Anthony akan bangun dan membalas ucapannya
*Tit.... Tit.... Tit.....
Suara monitor ICU semakin membuat dada Karin terasa sesak, ia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan lelaki yang paling ia cintai
Tangis Karin terdengar semakin pilu saat melihat banyaknya alat medis yang kini menempel di tubuh papanya
Arsen masuk membujuk Karin untuk pulang namun usahanya sia-sia karena Karin sama sekali tidak mau pergi meninggalkan papanya
"Yaudah tapi kamu harus makan, dari tadi siang pasti kamu belum makan kan?"
Karin menggeleng
__ADS_1
"Aku nggak nafsu makan"
"Kalo kamu nggak makan terus kalo sakit gimana hemm? nanti kamu gak bisa jaga papa kalo sakit" ucap Arsen dengan suara lembutnya
"Kalo aku pergi nggak ada yang jaga papa" suara Karin bergetar ia tidak sanggup menahan air matanya
"Ada suster sayang" Arsen tanpa sadar mencium kening Karin
Karin menatap mata Arsen dengan sendu, tangan Arsen mengelus rambut Karin dengan lembut
Kehadiran Arsen membuat hati Karin sedikit lebih tenang
"Yuk bentar aja" bujuk Arsen
~
Tangan Arsen dengan telaten menyuapi Karin yang sedang tidak memiliki nafsu untuk makan
"Ayo buka mulutnya Aaaaa..."
Karin malah diam tingkah Arsen sangat persiapan seperti papanya saat menyuapi Karin
Air mata Karin menetes ia kembali menangisi kondisi papanya sekarang
Arsen bisa merasakan kesedihan yang kini sedang Karin rasakan
Tangan Arsen menarik tubuh Karin untuk membawanya ke dalam dekapannya
~
Hari berlalu begitu cepat tidak terasa sudah seminggu Karin berada di dalam rumah sakit untuk menemani Anthony yang masih belum sadarkan diri
Biasanya Arsen selalu menemani Karin menjaga papanya, namun hari ini Arsen harus pergi ke kantor ada urusan yang harus ia selesaikan sehingga tidak bisa menemani Karin
"Pah liat bagus kan desain Karin, oh iya nanti kalo papa udah bangun Karin mau bikinin papa Jas yang bagus banget buat papa pergi ke kantor"
"Hah tangan papa beneran gerak?"
Karin mencoba memastikan jika matanya tidak salah melihat
Dan benar saja tangan Anthony kembali bergerak
"Dokter! Dokter!"
Karin berlari keluar untuk memanggil dokter
Dokter pun langsung berlari masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa kondisi Anthony
"Dokter gimana papa saya"
"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya"
Akhirnya Karin bisa bernafas sedikit lega mendengar ucapan dokter
"Setelah ini pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap"
"Makasih dokter"
~
Siang ini cuaca terasa sangat panas, Arsen merasakan tenggorokannya yang sangat kering.
Arsen menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket yang terlihat lumayan ramai
Di dalam mobil Arsen kini sedang bersama dengan Laura
__ADS_1
Pintu mobil terbuka Arsen keluar di susul dengan Laura yang berjalan di belakangnya
Saat sedang mengantri untuk membayar minuman tiba-tiba Laura merasakan mual di perutnya
*Huek Huek Huek
Laura tidak tahan ia langsung berlari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya
"Laura kamu gak papa kan?" Arsen mengetuk pintu kamar mandi yang di kunci oleh Laura
Akhir-akhir ini Laura memang merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya
Laura keluar tangannya menyeka mulutnya yang basah dengan tisu
"Gapapa honey paling ini cuma masuk angin" ucap Laura
"Ke dokter aja yuk" Arsen khawatir dengan keadaan Laura
Laura dengan cepat menarik tangan Arsen agar tidak membawanya pergi ke rumah sakit.
"Aku udah gapapa sayang beneran deh bener, perut ku udah enakan"
"Yaudah kalo gitu" jawab Arsen dengan pasrah
Laura meminta Arsen untuk mengantarnya kembali ke apartemen
~
"Makasih sayang, kamu antar aku sampai sini aja"
Arsen mengerutkan keningnya ketika Laura memintanya untuk mengantar sampai di depan lobby apartemen saja
"Loh kenapa nggak aku anter sampai atas aja"
"Nggak usah sayang, aku mau langsung istirahat aja"
Arsen merasa aneh dengan tingkah Laura, biasanya ia malah memaksa Arsen untuk menemaninya masuk ke dalam apartemen
"Yaudah kalo gitu" akhirnya Arsen pun menurut setelah Laura turun ia langsung menjalankan mobilnya pergi
Setelah mobil Arsen pergi Laura dengan langkah cepat masuk ke dalam Apartemennya
*Brakk
Laura membuka pintu apartemennya dengan keras hingga menimbulkan suara benturan yang cukup nyaring
Tangan Laura merampas kalender yang ada di atas meja, ia mencoba memeriksa jadwal menstruasinya yang selalu rutin ia catat
"Sialannn!" umpat Laura kesal saat menyadari tidak ada bulatan merah di kalender miliknya
Seketika rasa takut menyelimuti seluruh tubuh Laura
"Di mana benda itu" Laura bergegas membongkar semua laci yang ada di dalam kamarnya
Setelah bingung mencari akhirnya Laura berhasil menemukan testpack yang sudah lama ia simpan di dalam lemari
"Aku harus cepat memastikan semuanya"
Laura menunggu hasil testpack nya yang baru saja ia gunakan dengan perasaan yang campur aduk, ia terus berdoa agar ketakutan yang ada di dalam hatinya tidak menjadi kenyataan
Tangan Laura bergetar melihat hasil testpack yang kini sedang ia pegang
"P-Positif" cicit Laura
"Haaaah a a-aku hamil?"
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir di siang bolong Laura begitu terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana bisa ia hamil padahal Rey selalu melakukannya dengan hati-hati