
Tinggal disebuah apartemen sederhana di lantai empat berada kawasan Ringroad sudah menjadi keputusan Pandu sejak tiga tahun silam.
Pandu duduk disofa menghadap ke jendela.Secangkir kopi menemaninya.
Memandang luas lampu malam kota Jogja yang sering menjadi pengobat kejenuhan Pandu.
Waktu menunjukan pukul 11malam,Pandu belum juga merasa mengantuk.
Pikirannya sedang benar benar kacau.
Bisa bisanya dia punya pikiran menikah kontrak dengan gadis yang baru saja ia kenal,hanya karena ibunya adalah teman baik budenya Kara.
Hanya itu yang memperkuat keputusannya.
Pandu sebenarnya tidak ingin melakukan ini.Mengingat ia belum bisa menepati janjinya tapi ayahnya sudah meninggal.Itu adalah penyesalan yang dialami Pandu.
Pandu tidak bisa mewujudkan impian ayahnya,yang berharap Pandu menjadi pengacara.
Pandu melawan ayahnya karena kuliah dibidang hukum bukan yang dia inginkan.
Pandu nekat masuk jurusan sastra inggris karena sejak SMP Pandu ingin sekali mahir berbahasa Inggris.Pikirnya Bahasa Inggris adalah bahasa internasional,dengan mahir berbahasa Inggris Pandu dengan mudah mempelajari apapun tanpa kesulitan bahasa.Itu pikirannya dulu waktu SMP.
Dan kali ini Pandu tidak ingin mengecewakan orang tuanya untuk kedua kalinya.
Entah apa yang akan terjadi pada pernikahannya nanti.Pandu sedang tidak bisa berfikir panjang.Hanya kebahagiaan ibunya yang ingin ia wujudkan.
Disisi lain Kara juga sedang sendiri dikamarnya.Seperti biasa menatap ponsel,menggeser menu yang tak tau apa yang akan ia lihat.
Ia juga tidak keluar meskipun mendengar suara mobil bahwa Ranti sudah pulang.
Pikirannya terus saja memikirkan tentang tawaran Pandu untuk menikah dengannya.
__ADS_1
Kara lalu berinsiatif mencari informasi tentang pernikahan kontrak.Ada cerita nyata dan fiksi ia temukan.
Dengan seksama ia baca,berbagai cerita sedih dan gembira di akhir cerita.
"Ohh ternyata pernikahan kontrak itu memang bener pernah ada yang ngalamin"
Kara sambil terus menyimak cerita selanjutnya.
Sebagian besar dari beberapa cerita menyampaikan pesan moral yang menarik ulbagi kehidupan pernikahan.
"Hufhhh pusing.Aku bingung apa iya aku secepat ini menikah"
Kara menggerutu.
"Ra,kamu belum tidur?"
Sapa Ranti melihat Kara dari celah pintu yang tidak ditutup rapat.
"Egh ibuk,sudah pulang buk"
Ranti duduk ditepi ranjang Kara.
"Belum buk,Ibuk akhir akhir ini sering pulang.Ibu tidak keluar kota?"
"Tidak,kebetulan ibu capek Ra kalau mau ambil kerjaan keluar kota.Biar saja ibu handle yang dijogja,jual beli properti dijogja lagi bagus juga"
"Tapi ibu tetap pulang malam terus"
"Iya Ra mau gimana lagi,oh ya proyek perumahan ibu sudah mulai dibangun lho"
Tutur Ranti karena Ranti bekerja dibidang properti.
__ADS_1
"Oh ya buk?Semoga semua unit terjual ya.Kara ikut senang ibu bisa mewujudkan cita cita ibuk"
"Aamiin,terima kasih ya Ra"
"Oh ya Ra,bagaimana kabarmu dengan Pandu?"
Ranti menatap Kara penuh harap kabar bahagia selalu keluar dari mulut putrinya itu.
"Ya nggak gimana gimana bu,memangnya ada apa bu tiba tiba menanyakan Pak Pandu"
"Ra Ra,kamu ini sama pacarnya kok panggilnya pak"
"Egh anu buk"
Jawab Kara gugup.
"Karena sudah terbiasa di sekolah,lagipula disekolah kan tidak boleh terjadi skandal.Kara tidak mau pak Pandu ataupun Kara salah satu keluar dari sekolah itu."
"Hemh,yasudah kalau itu alasannya"
Ranti tersenyum membelai rambut panjang putrinya.
Kara teraenyum dan tiba tiba saja berbaring dipangkuan Ranti.
"Ra kamu baik baik saja kan?"
Ranti merasakan sesuatu yang aneh karena Kara berbaring dipangkuannya.
"Kara baik baik saja bu"
"Oh ya buk,Kenapa dulu ibuk bercerai dengan abi?Sampai sekarang Kara tidak tau alasannya ibu dan abi bercerai.Sekarang Kara kan sudah besar Kara pasti mengerti jika ibu menjelaskan"
__ADS_1
"Ya Ra,maaf ibu dulu tidak menceritakan apa masalah ibu dan abimu bercerai karena kamu belum dewasa.Ibu hanya tidak mau kamu membenci abimu."
Ranti menghela nafas,berfikir mungkin ini sudah saatnya Kara tau.