Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Wanginya Roti Gandum


__ADS_3

Awal hari yang tampak cerah.Membuat Kara begitu bersemangat.Pagi ini Kara bangun lebih pagi.Menyiapkan sarapan yang paling praktis yang dia bisa.


Kara menyiapkan setangkup roti gandum.Roti gandum dengan semburat warna kecoklatan karena ia panggang terlebih dahulu.Kara juga menambah sedikit olesan butter yang beraroma sangat wangi menyelerakan.


Tak ragu Kara juga menambahkan olesan selai kacang.


Tampaknya Pandu menyukai selai kacang karena sejak Kara masuk ke dalam rumah itu.Selai kacang sudah tersedia di meja dapur.


Wangi butter yang semerbak memenuhi ruangan.Sehingga wanginya tercium oleh Pandu yang sedang berada diruang kerjanya.Tidak ada dinding pembatas,hanya sebuah rak buku besar sebagai penyekat ruangan itu.Sehingga wangi aroma roti itu dengan leluasa menyusup ke ruang kerja Pandu.


Wangi apa ini?Sedap banget.Apa Kara lagi bikin sesuatu?


Pandu menghirup perlahan tak sadar dia sedang menikmati aromanya.


Lalu setelah menyadari Pandu menggelengkan kepalanya guna menghilangan imajinasinya itu.


Melirik jam tangan yang ia kenakan.Memang sudah waktunya sarapan.


Pandu meletakan buku yang ia baca dari sesudah subuh tadi.


Lalu beranjak meninggalkan ruang kerjanya.


"Pagi mas,sarapan dulu ya.Udah aku siapin dimeja"


Kara menyambut kedatangan Pandu.Lalu melanjutkan membuat secangkir kopi untuk Pandu.Tak lupa secangkir susu coklat hangat untuk dirinya sendiri.


Mengingat pembicaraan setelah sholat maghrib kemarin Pandu akhirnya menerima perlakuan Kara.


Mulai pagi ini Kara sudah melakukan tugasnya sebagai istri yang sebenarnya.


Pandu tidak menolak.Dan menuju meja makan super minimalis itu.


Karena hari ini adalah akhir pekan,itu berarti Pandu libur mengajar.Begitu juga Kara tidak ada keperluan ke kampus atau pun mengajar ekskul.


Pandu dan Kara sama sama tidak punya rencana kemanapun hari ini.


"Ini kopinya mas"Kara dengan gesit meletakan secangkir kopi disisi piring roti.


Dan Kara menyusul duduk diseberang Pandu dengan secangkir susu hangat kesukaannya.


"Ya,terima kasih"Pandu menjawab lirih,sedikit melirik tangan lentik yang sedang meletakan kopi favoritnya.


Terasa canggung dan aneh.Seorang gadis hidup seatap dengannya.Bukan atas dasar cinta.


Lalu dengan sedikit ragu Pandu meraih cangkir kopi lalu perlahan menyesapnya.


Lumayan,rasa kopinya cukup konsisten dari awal pertama Kara membuatkan Kopi untukku.


"Kurang manis ya mas?"Tanya Kara memastikan bahwa kopi yang ia sajikan apakah sudah pas dengan selera Pandu.


"Nggak"Pandu menjawab singkat.Tentu saja dengan ekspresi datar.


Seperti biasa Pandu menikmati sarapannya sembari membaca koran.Memiringkan posisi duduknya agar tidak memenuhi meja.Duduk dan kakinya yang panjang menyilang.


Diraihnya setangkup roti dan menggingitnya.Satu gigitan pertama dan aroma roti panggang yang menyelerakan itu membuat sedikit konsentrasi membacanya buyar.


Gimana cara dia bikin roti ini?Bisa sewangi ini aromanya.


Pandu tampak melirik ke meja dapur.Dilihatnya roti gandum dengan merk yang sama yang biasa ia makan.Tapi ini beda.


Lalu Pandu beralih menatap Kara yang juga tengah asik menikmati susu coklat hangatnya.Jika Pandu membaca koran,beda dengan Kara lebih tertarik melihat sosial media melalui ponselnya.


Sadar Pandu beberapa detik menatap Kara.Lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya pada koran ditangannya


Jangan sampai Kara menyadarinya.


"Mas hari ini ada acara kemana?"Ucap Kara dengan wajah berseri senyum termanis.


"Tidak ada"Pandu menggelengkan kepalanya.


Setelah ucapan Pandu selesai lalu diikuti nada dering ponsel yang berdering.


Siapa yang menelpon sepagi ini?biasanya ibu yanh sering telpon sepagi ini.


Dan benar ibu Pandu yang menelpon.


Pandu pelan pelan meraih ponselnya.


"Assalamualaikum,pagi bu"Jawab Pandu dengan penelpon diseberang sana.


"Walaikumsallam,lagi apa kamu Ndu?"

__ADS_1


Ucap ibu deseberang sana.


"Lagi sarapan bu,ada apa bu pagi pagi sudah telpon?"


"Ndu hari ini kamu libur kan?kamu nggak pengen kesini ajak Kara?"


Raut wajah Pandu berubah malas.


"Memangnya ada acara apa sih bu?"


"Lhooo ibu itu kangen sama kamu,sama Kara juga.Udah lama to kamu nggak kesini"


"Iya sih bu"


"Mana Kara?ibu mau ngomong sama Kara"


Pandu beralih menatap Kara yang sejak tadi mengamati dirinya sedang asik mengobrol via telpon.Mengulurkan ponsel ditangannya kepada Kara.


"Nih ibuk mau ngomong"ucap pandu lirih.Lalu meneruskan sarapannya.


Kara menekan tombol loadspeaker.


"Assalamulaikum bu,apa kabar?"Kara menyapa ibu mertuanya dengan ramah.


"Walaikumsallam nduk,alhamdulillah baik.Ibu ganggu kalian lagi sarapan ya?"


"Enggak kok bu,lagian sarapannya juga udah mau selesai"


"Gini lho nduk.Ibu udah lama nggak ketemu kalian.Kalian kesini ya,ibu ini lagi siap siap buat masak kesukaan Pandu"Pinta ibu dengan lembut.


"Kalau Kara sih mau banget bu,tapi nggak tau mas Pandu bisa apa enggak"


"Ndu"Seru ibu diseberang telepon dengan suara keras.


"Kamu pasti bisa kan Ndu,yo wis ibu tunggu hari ini ya.Assalamualaikum"


Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.Ibu memberi keputusan sendiri tanpa bisa ditolak.


Ibunya tau bahwa Pandu tidak akan bisa menolak permintaan ibunya.


Setelah sambungan telepon terputus.Kara dan Pandu saling tatap.Pandu menatap bingjng dan tidak suka.Sedangkan Kara dengan tatapan mata berbinar dan senyum indah tiada tara.


"Nggak usah bengong.Habiskan sarapanmu mas"Kara tertawa kecil melihat reaksi Pandu saat terpaksa menyetujui permintaan ibunya.


Pantas saja dia sangat takut dipaksa dijodohkan oleh ibunya.Karena pada akhirnya Pandu akan menuruti apa kata orang tuanya.


"Ya udah siapin semuanya.Kita menginap semalam dirumah ibu.Berangkat habis ashar"Ucap Pandu datar.Tatapannya menunjukan bahwa dia sedang merasa kesal.


"Ya mas"Senyum Kara menunjukan kebahagiaan.


Pandu meninggalkan meja makan dan menuju ruang kerjanya lagi.Tak lama ia kembali dengan membawa sebuah buku dan membacanya di sofa.


Didapur Kara rupanya sedang membereskan isi lemari rak atas yang kondisinya sedikit berantakan.Karena Kara tidak terlalu tinggi sehingga ia harus berjinjit.


Kara berniat mengeluarkan isi lemari itu,membersihkannya lalu menata ulang.


Tapi tampaknya Kara sedikit kesusahan sehingga ia tidak bisa leluasah melihat ke dalam lemari.


Glaaarrkkkk..Bunyi benda yang mengguling dari dalam lemari.Kara sudah memejamkan mata pasrah jika ada barang yang akan mrnimpanya.Sudah memejamkan mata tapi tidak ada benda yang menimpanya.


"Lain kali hati hati.Pakai bantuan kursi kalau nggak bisa ambil"Rupanya Pandu sudah menyelamatkan kepala Kara yang hampir saja tertimpa sebuah botol sirup.


Pandu menangkap botol itu.Tentu saja matanya menatap Kara jengkel.


Kara membuka matanya.Dan Pandu sudah berada dekat disampingnya.Posisi tangan diatas dengan sebuah botol sirup di tangannya.Kara malu dan sedikit merasa takut jika kepalanya tertimpa barang.


Kara menghela nafas lega ketika Pandu telah menolongnya.


"Makasih ya mas"Kara tersenyum tulus.Wajah nya yang manis dan polos tanpa polesan tampak terlihat mempesona.


Pandu beranjak dari tempatnya mematung.


Lalu kembali lagi dengan membawa sebuah kursi kayu.


"Pakai ini"Lalu pergi tanpa berkata apapun lagi.Setelah menyodorkan kursi.


"Ya mas,terima kasih"Kara tersenyum senyum sendiri.Ingat bahwa ada pahlawan tampan yang sudah menyelamatkannya.


"Hemmm"Jawaban singkat Pandu sambil berlalu pergi.


Kara bergegas melanjutkan pekerjaannya.Setelah beberapa menit bel pintu berbunyi.Tandanya ada orang datang.

__ADS_1


Pandu melangkah membukakan pintu dan yang datang adalah wanita tua.


Usianya sekitar hampir lima puluh tahun.Berbadan kurus dan memakai kerudung.Dia adalah Mbok Mi.Asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Pandu.


Hanya datang seminggu tiga kali.


Pagi datang dan pulang sore hari pukul empat atau lima sore.Mbok Mi sudah lama bekerja dirumah Pandu.


"Assalamualaikum mas,maaf saya tadi ke pasar dulu.Jadi jam segini baru sampai"Ucap Mbok Mi sopan.


"Walaikumsallam.Nggak apa apa mbok,masuk aja"Ucap pandu mempersilahkan Mbok Mi masuk.


Mbok Mi langsung menuju dapur.


"Pagi mbak Kara"Sapa mbok Mi dengan ramah.senyum diwajah yang mulai timbul keriput itu tampak tulus.


"Iya pagi"Kara sedikit bingung.Siapa Mbok Mi ini?


Melirik ke arah Pandu seakan meminta penjelasan.


"Ini mbok Mi.Yang biasa bantu bantu disini"


Sahut Pandu lalu kembali menuju sofa.


"Oh hallo mbok Mi"Sapa Kara.


"Ya mbak,saya sudah lama kerja disini.Cuman saya kemarin ijin dua minggu karena ibu saya sakit.Saya harus merawat"


Sikap Mbok Mi hampir mirip Mbok Inah tapi usianya jauh lebih muda dari mbok Inah.


"Oh sakit?gimana kabarnya sekarang?sudah sehat?"


Kara memang sosok yang ramah dan mudah berteman.


"Alhamdulillah mbak,ibu saya sudah sehat.maklum sudah sepuh,kondisinya sudah ringkih"Jawab wanita tua itu.


"Oh ya mbak biar saya saja yang bereskan"


"Nggak usah mbok biar saya saja"Tolak Kara.


"Jangan mbak,itu sudah tugas saya"Mbok Mi bergegas mengambil alih.


Kara hanya bengong melihat mbok Mi dengan cepat mengambil alih pekerjaannya itu.


"Biar mbok Mi aja"Sahut Pandu yang sudah berdiri disisi dapur.


"Tapi mas"Kara ingin menolak tapi tak dilanjutkannya karena tatapan Pandu seakan membuat keputusan mutlak.


Dengan patuh Kara menurutinya.Sedangkan Pandu pergi menuju kamar.Setelah tak lama ia keluar menggunakan baju yang berbeda.


"Kamu mau kemana mas?"


"Ada kerjaan yang harus aku selesaikan di toko"Jawab Pandu datar


"Aku ikut ya"pinta Kara.


"Dirumah aja"Nada tegas yang tak bisa ditolak siapapun pendengarnya.


"Mm ya udah mas aku dirumah aja"Kara berlari kecil menghampiri Pandu.


Saat sudah dekat Kara mengulurkan tangannya.Pandu membalas uluran tangganya.


"Hati hati ya mas"ucap Kara,senyumnya manis dan tampak ceria.


Sedangkan Pandu hanya bisa mentapnya dengan bingung.


"Oh ya,ini helmnya"


Kara mengambilkan helm Pandu di rak.Melihat kunci motor yang masih tergantung lalu Kara juga mengambilkannya.


"Kuncinya juga lupa belum kamu ambil mas"


"Ya makasih"masih selalu dengan tanggapan datar.Masih merasa aneh menerima perlakuan Kara.


"Ya sama sama mas"Kara mengantarkan Pandu hingga keluar pintu apartmen.


Menatap pria itu hingga memasuki lift dan tak terlihat lagi.


Kara berlari kecil menuju jendela besar yang bisa melihat pintu keluar gedung apartmen.


Tak lama Pandu keluar dengan motor besarnya.Meninggalkan gedung apartmen dan melintas dijalanan yang cukup padat karena hari libur.

__ADS_1


Kara pun menatap suaminya yang berlalu cepat. Menembus padatnya lalulintas kota Yogyakarta dan tak terlihat lagi dari pandangannya.


__ADS_2