
Sudah hampir sampai daerah pantai.
Melewati perjalanan yang penuh dengan nuansa hijau yang rimbun.Pandu mengajak Kara kepantai Parangtritis.
Pantai yang menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.Pandu memilih untuk pergi saat pagi pagi benar.
Udara yang sejuk dan dingin sungguh menyegarkan.
Kara mengembangkan senyumnya,melihat pemandangan dari balik jendela kaca mobil.Kara sangat menyukainya.Pandu yang sesekali mencuri pandang ke arah Kara ikut merasakan senang.Tentu saja Pandu merasa berhasil membuat Kara kembali seperti dulu.Menjadi gadis murah senyum dan ceria.Sesederhana itu membuatnya bahagia.Jika Pandu mengetahuinya bakal semudah ini membuatnya ceria kembali,Pandu akan melakukannya sesegera mungkin.Pandu pikir akan teramat sangat sulit membuat Kara kembali ceria.Mungkin harus memberikan hadiah yang mahal atau menurutu tuntutan Kara yang tidak masuk akal.
Kara membuka kaca mobil,udara sejuk dingin masuk mengenai wajah Kara.Menikmatinya sambil terpejam dan membuatnya merasa bahagia.Seakan sejuknya menjalar hingga ke hatinya.
"Sejuk sekali"Beberapa saat Kara sengaja menghadang udara itu dengan wajahnya.
Lalu menoleh ke arah Pandu "Mas,sejuk sekali"
Kara tampak senyum senang menikmatinya.Pandu pun merasa penasaran,ia juga melakukan yang sama.Membuka kaca mobil Pandu juga merasakan betapa sejuknya udara pagi di pedesaan.
"Iya juga ya"Pandu tampak menyukainya juga.Lalu ia memutuskan memadamkan AC mobilnya.Pendingin sudah tergantikan oleh udara sejuk yang dingin ini.
Kara dan Pandu sama tersenyum.Kali ini pandu setuju dengan arahan Kara.
"Mas"
"Apa"Jawab Pandu singkat sambil fokus mengemudi.
"Terima kasih ya sudah mengajakku jalan jalan"Ucap Kara yang tampak bahagia terlihat dari raut wajahnya.
Pandu tersenyum tipis dan menjawab sesingkat singkatnya "Ya".
"Ini pertama kali aku ke pantai pagi pagi sekali.Ternyata menyenangkan ya.Aku dulu tidak pernah suka pergi ke pantai"Ucap Kara yang semakin menciut bara semangatnya.
Hening sejenak.Kara tiba tiba cerianya meredup.
"Kenapa bisa begitu?Tanya Pandu,sempat melihat reaksi Kara yang tiba tiba berubah.
Kara menoleh ke arah Pandu.Tersenyum namun sebenarnya senyumnya itu mengandung arti.Yaitu merasa malu untuk menjawab juga merasa takut sebentar lagi ia tiba di pantai.
Kenapa Kara bisa begitu?
Dengan inisiatif Pandu sendiri ia menepikan mobilnya.Meraka berhenti di suatu tempat yang sudah dekat dengan pantai Parangtritis.
Mereka berhenti di landasan pacu pantai Depok,Yogyakarta.Jalur ini jik dilewati terus akan tiba di pantai Parangtritis.
__ADS_1
"Mas kenapa berhenti?"Ucap kara yang bengong menatap sekitar dan Pandu.
"Memangnya sudah sampai?"
"Kita bebas mau kemana saja,saya ingin berhenti disini dulu.Sekarang saya tanya kenapa kamu tiba tiba berubah begitu?"
Tanya Pandu setelah menarik rem tangannya.
"Berubah bagaimana?tidak aku biasa saja mas.Memangnya mas lihat aku berubah?"Ucapnya sedikit gugup.
Jika ditanya kenapa berubah bahkan Kara pun tidak mampu menjelaskannya.Dia selalu antusias pergi ke tempat tempat ramai.Tapi tidak selang lama dia sudah ingin pulang.Kara pun tidak mampu mengenali dirinya sendiri.Kenapa bisa terjadi seperti itu.Kara tidak betah berada di keramaian.
"Ra,kalau kamu menganggap aku suamimu coba katakan,ceritakan.Kenapa kamu sepertinya tidak nyaman saat hampir tiba di pantai.Padahal kamu yang minta jalan jalan kan?"Ucap pandu menunjukan perhatiannya.
Sebenarnya sejak lama Pandu penasaran dengan Kara.Sejak kenapa ia bertahan berpacaran dengan pria yang kasar.Dan sekarang kenapa dia bisa tiba tiba berubah tidak semangat saat akan tiba dipantai.
"Kenapa sih mas?aku tidak apa apa mas.Nanti kalau sudah sampai pantai juga biasa lagi kok"Ucap Kara berusaha tersenyum.Karena hatinya yang tak mampu berbohong itu memancarkan senyum yang kaku dan tak biasa.
"Kamu kelihatan tidak nyaman Ra,harusnya kamu senang kita sudah sampai disini.Tiba tiba kamu gelisah begitu,saya bisa lihat jelas perbedaanya.Katakan apa yang kamu rasakan sekarang"Tutur Pandu pelan.Kali ini Pandu seperti kakak yang sedang mengobrol dengan adiknya dari hati ke hati.
"Padahal aku sudah berusaha untuk biasa biasa saja mas.Tapi aku juga tidak tau,setiap aku ditempat keramaian selalu ingin cepat pulang"Ucapnya terbata.
"Jadi waktu kita ke Kali Biru,ke bukit bintang?"Tanya Pandu memastikan.Nadanya menunjukan begitu penasaran.
"Aku suka lokasinya tapi aku tidak suka keramaiannya"Kara mengatakan dengan takut takut.Matanya tiba tiba menggenang berkaca kaca.
Cengeng sungguh cengeng sekali.Setiap merasakan kesedihan selalu tidak bisa membendung air matanya.Lalu kara cepat cepat menyeka sudut matanya agar kristal bening tak jatuh membasahi pipinya.Kara lalu memalingkan wajah,melihat keluar jendela.
Tak disangka Pandu mengulurkan tangannya dengan selembar tisu.Kara menoleh menatap tangan kekar itu dengan bingung.Lalu menatap ke arah Pandu.Disana diwajah cantik merona itu air mata kesedihan sudah membanjiri pipinya.Sungguh teramat sedih tergambar.Kara berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan ketidak nyamanan ini.Tapi Kara belum tau bagaimana caranya.Ingin sekali dia seperti orang lain yang masa bodoh dan menikmati keramaian.
Kara meraih perlahan tisu dari tangan Pandu dan menghapus air matanya itu.Kara merasa tidak enak pada Pandu.Dirinya yang meminta jalan jalan justru Kara lah yang menodai moment pagi ini.Sepagi ini sudah menumpahkan bermili mili air mata.
_Dasar cengeng_
Umpat Kara dalam hati pada dirinya sendiri.Kara membenci dirinya yang tidak bisa menahan rasa.
"Sudah sudah jangan sedih"Ucap Pandu.Pandu menjadi merasa kasian kepada Kara.Seharusnya ini menjadi pagi yang menyenangkan beginya,tapi justru malah membuatnya menangis.
Kembali Kara dibuat bingung dan terdiam.Sisa air matanya yang masih mengalir dihapus oleh Pandu.Pandu mengambil tisu lagi.Tubuh Pandu condong ke arah Kara,sabuk pengamannya sudah ia lepaskan.Dan Pandu sedang mengusap air mata Kara yang masij tersisa.
Kara merasa canggung dan malu.
__ADS_1
"Sudah ya"Pandu membereskan tisu bekas air mata Kara.
"Aku hanya ingin tau apa yang membuat kamu merasa se sedih itu Ra.Kamu tidak bisa begini terus.Kamu tidak bisa menikmati hidup kamu nanti.Apa kamu mau seperti ini terus?Tidak bisa seperti orang lain.Liburan bersenang senang menikmati keramaian"
Ucapan Pandu kali ini di iringi rasa prihatin.Pandu tidak ingin melihat Kara menangis.
"Nanti pasti banyak keluarga kecil yang ada disana mas.Mereka pergi sama sama.Mereka juga tampak bahagia.Lengkap ada ayah dan ibu mereka"Kara menarik nafas panjang untuk mencegah bajir air matanya terulang lagi.
"Aku sudah bisa terima kalau abi dan ibuk harus pisah.Tapi aku belum bisa mengikhlaskan waktu bersama keluarga mas.Aku hampir tidak pernah merasakan itu.Aku ingin sekali saja waktu yang benar benar intim bersama abi dan ibuk.Tapi mas tau sendiri itu tidak akan bisa lagi.Abi sudah dengan keluarga barunya"
Pandu ikut merasakan kesedihan Kara.Ternyata Kara begitu kurang kasih sayang dari orang tuanya.Seperti yang ia tau sejak dulu abi dan ibu sibuk dengan masing masing urusannya.Kara hanya ditinggal oleh mbok Inah.Pantas saja jika ia merasa iri melihat keluarga lain.Pandu menyimpulkan bahwa Kara merasakan kesepian ditengah keramaian.
Kara tersenyum kaku.
"Aku cengeng ya mas.Padahal aku sudah besar.Aku malu sama kamu mas"
Pandu pun tersenyum menatap Kara "Kamu mau hilangkan itu semua tidak?"
"Bagaimana caranya?"Kara terheran.
"Memangnya mas Pandu tau?"
"Kita coba saja dulu.Menghilangkan rasa sepi ditengah keramaian.Kamu harus terbiasa Ra.Mau?"Ucap Pandu sembari senyum tipis dibibirnya.
Pandu menjelaskan bagaimana caranya.Mungkin cara ini tidak langsung berhasil.Tapi harus berkala dan telaten.Sehingga traumatis Kara bisa hilang perlahan.
"Mas Pandu yakin dengan cara itu bisa?Jawab Kara tampak belum yakin.
"Kan belum dicoba.Kita coba dulu,kalau ada perubahan nanti kita coba lagi"Pandu menghidupkan mesin mobilnya kembali.Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju pantai Parangtritis.
Jantung Kara berdebar,senyum tipis namun tampak kaku itu.Mengringi perjalanan mereka yang tinggal beberapa menit saja.
Kara merasa ada setitik lagi kebahagiaan lagi bertambah karena Pandu.Ternyata Pandu masih mau peduli padanya.Tidak sabar ia sampai ke pantai Parangtritis dan melakukan apa yang Pandu sarankan.
Pandu pagi ini merasa prihatin dengan Kara.Pandu sibuk dengan pikirannya sendiri sambil fokus mengemudi.Masalah Kara ini tidak sepele.Bagaimana bisa selama ini tidak ada orang yang tau.Apa Kara tidak pernah bercerita dengan ibunya.Pandu pun bertanya pada Kara dan jawaban Kara ternyata,Kara tidak pernah cerita kepada siapapun selain kepada Pandu.
Sempat bercerita dengan temannya namun tak satupun temannya yang bisa memberi solusi.Tak satupun teman yang mampu memahami apa yang dialami oleh Kara.Dan sekarang Pandu lah orang pertama mengerti keadaan Kara.Dengan Farhan pun Kara tidak pernah menceritakan hal ini.
_Ya Tuhan Kara,aku tidak pernah tau kamu sememprihatinkan ini.Aku jadi merasa bersalah padamu Ra.Maafkan aku Ra,pernikahan ini justru menambah beban pikiranmu.Aku tidak tau bahwa kamu orangnya kurang kasih sayang.Pantas saja kamu bisa cepat mencintaiku.Kurang dari satu bulan kamu sudah merasakan cinta itu hadir dalam diri kamu.Ya Tuhan bagaimana ini?"
*bersambung lagi
Jangan lupa bantu vote nya dearππππ
__ADS_1
Terima kasij semuanya...Sampai jumpa episode selanjutnya.