Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Kontrak Pernikahan Part 2


__ADS_3

"Pak Bagaimana jika kita berdua bisa saling mencintai saat menjalankan pernikahan kontrak ini?"


Pandu terdiam menatap Kara.


"Bisa jadi,tapi entahlah rasanya sulit aku untuk jatuh cinta kembali"


"Itu berarti bapak tidak ada niatan untuk mencoba mencintai saya?"


"Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan,aku tidak tahu jawaban pertanyaanmu.Biarlah nanti mengalir begitu saja.Aku tidak bisa menjanjikan apapun tentang perasaanku"


"Huh benar benar guru satu ini ,Dasar es batu.Lihat saja nanti,awas kalau kau jatuh cinta padaku duluan.Aku akan mempertahankan perasaanku sampai kontrak habis.Aku juga tidak akan mencintaimu bahkan tertarik padamu sekalipun"


Batin Kara menatap Pandu yang sedang menyesap kopinya.


"Baiklah aku setuju.Tapi masih ada hal lain yang harus kita lakukan"


Ucap Kara menatap sinis wajah Pandu.


"Apa?"


"Kalau begitu kuta harus menyembuntikan status pernikahan kita donk.SMA Harapan kan tidak bisa mentolerir skandal"


Pandu hampir melupakan hal itu.


"Ya benar,cukup mengundang penghulu kerumah atau kita yang ke KUA.Disaksikan keluarga inti saja"


"Aku setuju kalau itu,program ekskulku masih banyak yang harus aku selesaikan"


"Sama,murid muridku sebentar lagi ujian.Aku tidak bisa mengundurjan diri begitu saja.Lagipula ini kan hanya pernikahan kontrak.Tidak tau sampai kapan bertahan"


Ucap Pandu terdengar menjengkelkan ditelinga Kara.


"Ya itupun kalau kau tidak jatuh cinta padaku"


Gumam Kara lirih namun didengar oleh Pandu.


"Kita lihat saja siapa yang tidak bisa menahan perasaan.Aku atau Kau.Aku yakin Kau yang mungkin akan mencintaiku"


Ucap Pandu lantang percaya diri.

__ADS_1


"Baik.Kita lihat nanti"


Kedua calon suami istri itu justru memperdebatkan soal perasaan.


Setelah mereka selesai bernegosiasi,Pandu mengantar Kara pulang.


Kali keduanya Pandu mengantar Kara pulang.


Seperti biasa Pandu singgah sebentar untuk berpamitan pada Ranti.


"Pak Pandu mau minum apa?biar saya buatkan.Sambil nunggu ibuk baru mandi,baru pulang kerja"


"Apa saja boleh"


"Baiklah,saya kedalam dulu"


Ucap Kara tersenyum sedikit canggung karena mereka baru saja memutuskan akan menikah.


"Ra,kamu baru pulang?"


"Eh ada bude,iya Kara baru saja sampai.Bude sudah lama?kok mobilnya tidak ada"


"Oh gitu ya bude,yasudahKara ke dapur dulu mau buatkan minum buat Mas Pandu"


"Oh ada Pandu,kenapa tidak disuruh masuk"


"Nggak apa apa bude,lagian diluar malah nggak panas"


"Oh yasudah sana cepat buatkan minum"


Mbok Inah sedang membereskan sayuran,dia selalu mempersiapkan bahan makanan untuk menu pagi harinya.


"Mbok"


"Hallo Mbak,baru pulang ya?"


"Iya Mbok,Mbok mana cangkir untuk buat kopi"


"Mbak Kara mau buat kopi?"

__ADS_1


Mbok inah membuka rak dalam laci berisi cangkir dan gelas.


"Ini Mbak,memangnya mbak Kara mau minum kopi.Sini biar mbok buatkan"


"Nggak usah mbok biar Kara saja.Kara bisa kok mau buatkan buat Mas Pandu.Gulanya seberapa Mbok?"


Kara meminta arahan Mbok Inah.


"Ohh baiklah.Kopinya satu sendok makan saja.Nah iya segitu Mbak"


Mbok inah memberi arahan pada Kara Lalu menyodorkan toples berisi gula.


"Terus gulanya sesendok makan lebih sedikit kira kira saja sih.Mas Pandu suka manis nggak Mbak?"


Kara menggeleng tampak bingung.


"Tidak tau mbok,aku belum pernah tanya.Mungkin tidak usah terlalu manis kali ya mbok.Nanti dia diabetes"


Kara dan Mbok Inah terkekeh.


"Iya terserah Mbak Kara saja,nanti dicicip dulu kalau ragu"


Kara pun menyelesaikam membuat kopi untuk Pandu.


Menyendok sedikit untuk mengetes rasanya.


Kara mengecap ngecap dilidahnya.Apakah manisnya pas atau tidak


Ini pertama kalinya Kara membuat kopi.Karena sejak kecil selalu ada Mbok Inah yang menyelesaikan soal dapur termasuk membuat makanan dan minuman untuk tamu.


Kopi pertama yang ia hidangkan untuk calon suaminya.


Kara tersenyum nyengir.


"Mbok,ternyata aku bisa.Rasanya pas mantab"


Mbok Inah mengacungkan jempol.


"Yasudah sana dibawa kedepan,Mas Pandu pasti sudah menunggu"

__ADS_1


__ADS_2