
Kara sibuk mempersiapkan hidangan makan malam.Kemungkinan sebentar lagi ibunya akan datang.
Ini kali pertama Ranti datang ke apartmen.
Sebelum menuju kerumah anaknya ia singgah ke supermarket terlebih dahulu.Membeli buah tangan untuk mereka.
Ranti paham betul cemilan kesukaan Kara,tapi untuk Pandu ia memilih membelikannya buah.Kata Kara Pandu sangat menyukai makanan sehat.
Tak lama Ranti tiba di parkiran apartmen.Dan disana sudah ada Kara menjemputnya.Mereka akan naik bersama sama.
"Sudah nunggu lama nduk?"Ucap Ranti.Sambil mengulungkan tentengannya.
"Belum bu.Apa ini?Ibu tidak usah repot repot lho"Kara tersenyum,hatinya sangat senang sekali.Apalagi melihat rona wajah ibunya uang juga terlihat gembira.
"Waahh ibu paling tau kesukaanku"
"Iya donk"Senyum Ranti dan mereka berjalan memasuki lift dengan bergandengan.
"Apartmen Pandu lingkungannya bersih juga ya nduk"Puji Ranti yang sejak di bestmen tadi mengamati lingkungan sekitar.
"Iya bu,mas Pandu memang cari yang bersih.Orangnya bersihan,semuanya harus rapi bersih bu"Ucap Kara secara tidak langsung memuji suaminya itu meskipun sedang berada ditengah perang dingin.
"Oh ya?seteliti itu suamimu?"Ranti cukup terkejut dan senang mendengarnya.
Mereka pun mengobrol sepanjang waktu hingga sampai ke tempat tinggal Pandu dan Kara.
Kara membuka pintu dan ternyata sudah disambut oleh Pandu.
"Bu"Pandu dengan sangat sopan bersalaman dan mencium punggung tangan Ranti dengan penuh hormat.
"Apa kabar bu?"Lanjut Pandu.
"Baik le.Kamu yang apa kabar?"Ranti balik bertanya sebenarnya yang perlu dikawatirkan saat ini adalah Pandu.
"Sudah membaik bu"Ucap Pandu diiringi senyum.
"Alhamdulillah,lain kali kalau jalan hati hati ya Ndu.Kamu kok bisa kepleset ditangga begini sih?Apa tangganya itu tinggi sekali?"Ucap Ranti seakan mengulang penjelasan Kara tadi.
Ya,Kara mengatakan bahwa Pandu sakit karena terjatuh.
Oh jadi Kara membuat alasan itu.Kenapa dia tidak kompromi dulu denganku.
Batin Pandu yang hanya menjawab dengan senyuman sambil menahan rasa nyeri nyeri di beberapa bagian tubuhnya.
"Ehm,bu kita duduk yuk"Ajak Kara mengalihkan pembicaraan.
"Iya"Ucap Ranti lembut dan menurut.
__ADS_1
Kara pun membimbing langkah ibunya menuju sofa.Dan Pandu mengikutinya.Pandu dan Kara saling melempar pandangan.
Ranti mengedarkan pandangannya.Matanya memandang mengitari seluruh ruangan.
"Sudah lama kamu tinggal disini Ndu?"
Ranti bertanya lalu duduk dengan sangat anggun.
"Kalau tidak salah sekitar lima tahun bu"Jawab Pandu.
Sementara Kara sedang menata buah tangan dari ibunya sembari sesekali melirik ke arah mereka.
"Bangunannya bagus lho.Kamu pinter cari tempat tinggal.Apa semua unit terisi?"Lanjut Ranti karena Ranti berkecimpung di dunia properti namun dia belum pernah menangani apartmen.
Pandu tersenyum.
"Iya lumayan bu,disini cukup aman juga kok bu"
Beberapa saat mereka mengobrol tentang tempat tinggal.Dan akhirnya Ranti bertanya pada Pandu.
"Ndu,tapi kalian harus memikirkan buat punya rumah juga lho.Ibu ada beberapa rekomendasi hunian yang cocok buat kalian.Ibu pastikan itu aman nyaman.Bangunannya bagus dan lokasinya strategis.Kapan kapan kalian cek lokasi aja dulu"
Ucap Ranti dengan penuh semangat.
Kara datang membawa minuman hangat untuk ibunya.
Kara sedang berusaha menyelamatkan Pandu dari bombardir perintah ibunya.
"Iya ibu tau,apartemen ini memang nyaman.Ibu juga suka kalau tinggal disini tapi kalau masih lajang"
Timpal Ranti.
"Tapi nanti kalau kalian sudah punya anak bagaimana?tetap harus dipikirkan"
"Iya bu,ibu tenang saja ya.Mas Pandu pasti sudah pikirkan itu"Jawab Kara.
Ra,,Ra,,,dalam kondisi kamu lagi marah tapi masih saja menutupi rumah tangga kita.
Kok kamu bisa sih lakukan itu Ra.Senyum kamu hampir tidak terlihat berpura pura.
Batin Pandu mengamati Kara.
"Bu kita makan saja yuk.Kara sudah masak buat ibu.Ibu pasti suka"Ucap Kara senang berharap ibunya menyukainya.
"Kamu pinter masak sekarang ya?"Gurau Ranti.
"Belajar dong bu"Kara tampak lebih ceria dibanding sebelum ibunya datang.
__ADS_1
Melihat Kara yang seperti itu Pandu merasa lebih tenang.Tapi saat melihat Kara sebelum ini kenapa membuatnya gelisah dan tidak nyaman.
Kara yang lebih banyak diam.Kara yang tidak cerewet lagi.
Pandu memutuskan bahwa perasaannya saat ini hanyalah rasa bersalah saja.
Rasa bersalah ketika Kara tetap tersenyum menutupi lukanya.Luka karena mencintai dirinya yang tidak mampu membalas.
Makan malam yang menyenangkan bagi Kara.Makan bersama ibunya dan mengobrol banyak hal.Adalah salah satu kesenangan Kara.Kesenangan yang jarang sekali ia dapatkan saat masih tinggal seatap dengan ibunya.
Kara hanya fokus menanggapi ibunya.Meskipun Pandu beberapa kali mencoba memuji Kara namun Kara bukan haus pujian.
Tidak seprerti biasanya.Kara akan tersenyum centil dan dan pipinya memerah.Tapi malam ini Kara tampak datar dan biasa saja.
Yang Pandu harapkan atas pujiannya itu adalah mengembalikan mood Kara menjadi baik.
Mood Kara pun kembali hilang saat Ranti sudah meninggalkan tempat tinggal mereka.
Kara masuk kembali ke unitnya.Lalu membereskan piring piring kotor.Tanpa menghiraukan keberadaan Pandu di sofa.
Meskipun sejak tadi Pandu sedang mengamati dirinya yang tengah asik membereskan semuanya.
Pandu pun berusaha lebih dekat.Ia duduk di kursi meja makan.
Mengamati lebih dekat.Ingin hati Kara menanyakan sesuatu padanya.Justru beberapa saat kemudian Kara menyediakan secangkir kopi untuk Pandu.
Meletakan dihadapan Pandu tentu saja tanpa sepatah katapun.
"Kopinya mas,diminum ya tapi tunggu agak dingin dulu"
Biasanya Kara akan mengucapkan barisan kalimat semacam itu.
Kalimat kalimat semacam pelayan cafe yang mempersilahkan pelanggannya dengan ramah.
Sejak itu beberapa hari berikutnya Sikap Kara tetap tidak berubah.
Pandu berfikir sikap Kara hanya akan bertahan satu atau dua hari saja.Namun nyatanya Kara tetap konsisten dengan keputusannya itu.
Meskipun mereka tidur seranjang beberapa malam ini.Tapi Kara selalu acuh.Sebelum tidur Kara selalu menyumpal lupang telinganya dengan menggunakan earphone dan mendengarkan lagu lagu favoritnya.
Volumenya sangat kencang,sehingga Pandu yang disampingnya pun dapat mendengarkan samar.
Kara meringkuk membelakangi Pandu setiap akan tidur.
Pandu pun justru meringkuk menatap punggung Kara.
Apa yang harus aku lakukan sama kamu Ra?
__ADS_1
Kalimat Pandu dalam hati sebagai pengantar tidurnya malam ini.