Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Pagi Pengantin Baru


__ADS_3

Kara.


Aku sekarang sudah tinggal satu atap dengan Pak Pandu yang telah resmi menjadi suamiku.Dan hanya kami berdua apartemen sederhana ini yang kami sebut rumah.


Jam menunjukan pukul 5.15 pagi.


Aku sedikit terlambat bangun untuk menunaikan sholat subuh.Karena seharusnya saat ini subuh di kota Jogja pukul 5.00WIB.


Aku bukan perempuan yang super religius.Tapi aku tau kwajibanku sebagai muslimah.Kecuali menutup auratku dengan hijab.Aku belum bisa.


Aku tetap sholat karena itu yang baru bisa aku lakukan.


Bukankah bagaimanapun cara kita hidup,sholat akan tetap menjadi wajib bagi umat muslim.


Ya,begitu yang ibu ajarkan padaku.Begitu juga dengan ibuk.


Setelah sholat aku keluar kamar dan betapa malunya aku.Didapur sudah ada pak Pandu yang sedang merebus air.Pasti dia akan membuat kopi.Iya benar aku melihatnya mengambil toples dari lemari atas yang berisi kopi lalu diambilnya lagi toples berisi gula.


Aku segera menghampiri.


"Pak,boleh ku bantu.Biar saya saja yang membuatnya"


Pak Pandu tersenyum tipis.


Membiarkanku meneruskan pekerjaannya.


"Pak,biasanya bapak sarapan apa?mau saya buatkan?"


Aku menawarinya.


"Tidak perlu,biar aku saja membuatnya sendiri nanti.Kau bisa kerjakan yang lain"


Ucapnya yang lalu pergi menuju kamarnya.Ya kamar yang aku tiduri tadi.Untuk mengambil baju kerja yang akan ia kenakan pergi mengajar.


Kopi sudah siap dan tak lama pak Pandu keluar kamar.Sudah berganti pakaian kerja,ia memakai kemeja berwarna biru denim lengan panjang yang ia gulung sesiku.Dan memakai celana bahan berwarna hitam yang sangat pas melekat ditubuhnya.


Tak dipungkiri parasnya yang nyaris sempurna.Pahatan sang Kuasa yang memesona itu mengagetkan lamunanku.


"Terima kasih kopinya"


Ucapnya.


"Egh,iya"


Aku malu,apakah dia tau jika aku melamun karena sedang mengaguminya.


Pria itu duduk dimeja makan minimalis.Kopi yang sempat ia sesap beberapa kali dan tangannya membentangkan surat kabar yang ia baca.


Di dunia yang sudah serba canggih ini tak menyurutkan minat baca pak Pandu pada surat kabar media cetak.


Pak Pandu memang sangat suka membaca.


"Kau masih ingat kode smartlocknya kan?"


Tanya nya.

__ADS_1


"Iya"


Jawabku sambil mengaduk susu hangat yang baru saja kuletakan dimeja.


"Kau tidak ke kampus?"


"Nanti siang"


Aku menyesap susu hangat sendok demi sendok.Rasanya canggung sekali pagi pagi hanya berdua dengan pria asing yang kini menjadi suamiku.


"Apa kamu tidak ingin belajar memasak?"


Ucapnya.


Kenapa pertanyaan itu membuatku tersindir.Tapi memang benar sih aku bodoh tidak bisa masak.Kalau makan saja juara satu.


"Iya nanti saya belajar"Jawabku dengan rasa malu ingin menutupi wajahku dengan koran yang dipegangnya itu.


Tak lama pak Pandu meletakan surat kabar yang ia baca.Lalu menuju dapur.Dia akan memasak sesuatu.Ya pasti dia akan memasak,dia sudah mengambil pisau.


Aku hanya bisa memperhatikan setiap gerakannya dari ekor mataku.


Tidak berani memfokuskan pandangan.Sesekali mencuri curi pandang saja.


Dugaanku salah.Pak Pandu tidak memasak dia hanya akan mengupas buah dan ia campur dengan oat.


Dengan cepat pak Pandu meracik sarapannya.Tidak butuh waktu lama.


Dengan sekejap sudah tersaji disebuah mangkuk bulat.Dibawanya semangkuk oat beserta potongan buah kembali ke meja makan.


Tangannya dengan telaten suap demi suap menyuapkan makanan kemulutnya sendiri.Dan pandangannya masih terpaku pada surat kabar yang ia lipat agar tidak mengganggu acara sarapannya.


"Ihhh,,sarapan seperti itu mana enak.Apa dia tidak tertarik sarapan bubur ayam,lontong sayur atau nasi gudeg.Hmmmm itu kan lezat sekali"Gumam Kara dalam hatinya sambil membayangkan bubur ayam langganannya didekat kampus.


"Kau tidak sarapan?kalau kau mau bisa buat sendiri"Ucap Pak Pandu.Mungkin dia merasa kalau aku sedang diam diam memperhatikannya secara tidak langsung.


"Egh"Kara terkejut dan gugup.


"Tidak pak saya belum lapar"Terpaksa Kara berbohong,padahal cacing diperutnya sudah meronta ronta minta diisi.


Dia sangat tidak enak jika akan memesan sarapan bubur ayam dan memakannya sendiri.Karena pak Pandu sudah bilang bahwa Kara bebas akan makan apa saja.Dan tidak perlu menyiapkan makanan untuk dirinya.


Aku berencana memesannya jika pak Pandu sudah pergi mengajar.


Sekitar lima belas menit sarapan pak Pandu habis tak tersisa.Dia menghabiskan makanan yang hambar itu dengan lahap.Dan lihat mangkuknya bersih tak besisa.


Lalu pak Pandu membawa mangkuknya ke tempat pencucian piring.


Awalnya ia akan mencuci mangkuknya sendiri tapi aku mencegahnya.


"Biar saja pak,nanti kemeja bapak kotor"Kataku,dan pak Pandu seperti ingin menolak.Aku langsung mengangkat gelas susuku yang sudah kosong.


"Sekalian saya juga mau cuci gelas saya"


Aku pun dengan tulus tersenyum saat menawarkan bantuan.

__ADS_1


Akhirnya pak Pandu mengalah.Ia meletakan mangkuk dan gelas kopinya.Dan meninggalkannya.Pak Pandu lalu mengambil segelas air putih.Mungkin untuk mencuci mulutnya dari kopi dan sarapannya.Diakhiri dengan meminum air putih suapaya sisa makanan yang masih tersisa dimulut tidak berubah menjadi asam dan tidak merusak gigi.


Itu kesimpulanku setiap mengamati pak Pandu selesai memakan segala sesuatu sebelumnya.


Aku sibuk mencuci mangkuk dan gelas.Tiba tiba pak Pandu mendekat dan meletakan gelas bekas ia minum air putih kedalam bak pencuci piring.


Jarak kami sangat dengan meskipun tak sampai satu menit.Hanya beberapa detik saja.


"Maaf,merepotkan.Terima kasih untuk bantuannya"Ucap pak Pandu saat meletakan gelas kaca bening kedalam bak pencuci piring.


Dan demi apa,pak Pandu wangi banget.


Parfum apa yang ia pakai?


"Egh"Aku sedikit terkejut karena hampir lupa ingatan gara gara mencium wanginya Pak Pandu"Tidak masalah pak.Jangan sungkan meminta bantuan saya"


Pak Pandu hanya menjawab dengan anggukan tipis saja.Lalu pergi ke kamar tak lama ia keluar sudah menggendong tas ransel yang biasa ia gunakan.


Dia menghampiriku yang masih berkutat didapur.Aku bingung mau melakukan apa.Saat pak Pandu menghampiriku aku sedang mengelap meja dapur yang hampir tidak kotor itu.Ya daripada tidak melakukan apapun.Aku bingung biasanya kalau ke kampus siang jam segini aku masih lanjut tidur.


"Aku pergi dulu,kalau nanti kau pergi ke kampus pastikan jangan meninggalkan kompor menyala.Cek semua jendela dan tutup rapat.Biasanya kalau ada angin kencang banyak daun kering terbang dan masuk mengotori"Ucap pak Pandu dan menyerukan serentetan pesan jika nanti aku meninggalkan rumah.


Aku mengangguk dan memberikan senyum.Bukan,bukan senyum menggodanya.Itu karena memang aku suka tersenyum.Meskipun rasa canggung masih menggayuti diriku.


"Iya"


Aku bergegas mengekori pak Pandu menuju pintu keluar.


"Hati hati ya pak"Ucapku sedikit aneh.Aku mengucapkan 'hati hati' pada Pak Pandu.


Bukan apa,aku biasa mengantar seseorang jika akan meninggalkan rumah.


"Tidak perlu mengantarku,lakukan saja pekerjaanmu yang lain"Ucap pak pandu padaku.Dengan nada lembut tapi kenapa rasanya aku tidak suka mendapat penolakan seperti ini.


Dan membuatku kecewa,aku menghentikan langkahku yang awalnya semakin mendekat pada pak Pandu.


Terpaku dan rasa kecewa menjadi sarapanku pagi ini.Ingin sekali kulempar sendal kewajahnya yang datar itu.


Pak Pandu sepagi ini membuatku kecewa.


Pagi pertama di rumah ini.


Itu sangat menjengkelkan.Ku telaah lagi,dan aku harus segera mengubur dalam dalam rasa kecewaku.


Aku langsung reringat bahwa ini pernikahan kontrak.Meskipun aku ingin melakukannya dengan serius.


Tapi bagaimana dengan pak Pandu?


Dia pasti benar benar melakukan pernikahan kontrak ini dengan semestinya.Semuanya bohong dan pura pura.


Aku hanya bisa menatap pintu keluar yang sudah tertutup.Sudah tidak tampak pak Pandu disana.Dia sudah pergi.


"Kara,jadilah istri yang baik untuk suamimu.Ikrar saat Ijab qobul bukan hanya sekedar ucapan.Terus terusan berbohong akan sangat melelahkan.Lakukan senyaman hatimu"Kara berbicara pada dirinya sendiri,memberi semangat pada dirinya sendiri.


Seolah olah Kara sedang melanggar aturan awal.Aturan pernikahan kontraknya.

__ADS_1


__ADS_2