
Pandu sudah bangun dari tidurnya.Memutuskan tidur di sofa karena masih ada mbok Mi dikamar mandi dalam.
Menggeliatkan tubuhnya yang masih lesu.Pandu berusaha mengusir sisa sisa kantuknya.
Tak lama ia duduk dan mergangkan tangan ke kanan dan kekiri.
Tak ada seorangpun di area ruang tv yang tersambung dapur.
Dari suara yang terdengar.Sepertinya Kara dan mbok Mi sedang berada diruang kerjanya.Berarti tidak ada seorangpun yang ada di dalam kamar.
Pandu berjalan lunglai ke arah ruang kerja.
"Udah disiapin semua belum?"
Suara yang tiba tiba terdengar ke telinga Kara dan mbok Mi.
Hampir saja mereka berdua meloncat kaget karena mendengar suara ngebas itu.
"Mas,kamu ini ngagetin aja"Kara mengelus dada.
"Apanya yang disiapin?"
"Mau kerumah ibu kan?kamu ini gimana sih"Jawab Pandu kesal.
"Oh udah mas,baju ganti udah masuk dalam ransel.Semuanya ku taruh di atas meja kamar"
Kara menjawab dengan tersenyum.
Meskipun dalam hatinya sedih saat mendengar kalimat Pandu yang terdengar begitu menyakitkan.
Pandu tak berkata apa apa lagi.Begitu saja meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya.
Mas Pandu kok ketus gitu ya.Apa dia marah.Tapi kayaknya aku nggak bikin kesalahan fatal.
Hmmm.Mungkin karena efek bangun tidur kali ya.
Kara pun memutuskan untuk berpikir positif tentang Pandu.
"Mas Pandu memang begitu kalau baru bangun tidur mbak.Nyawanya belum kumpul"Mbok terkekeh menghibur Kara.
Mbok Mi melihat ada setitik kekecewaan pada kara.Terlihat dari wajahnya.Meskipun senyum Kara berusaha menutupi.
"Mbak Kara mau kerumah ibu mertua ya?"Canda mbok Mi.
"Iya mbok.Mau ikut?"Jawab Kara.Yang setiap berbicara pada orang lain pasti dia tersenyum.
"Eh,ya nggak lah mbak.Nanti mbok Mi bonceng dimana"Ucap mbok Mi.Sambil mengelap jendela ruangan itu.
"Kalau pergi boncengan naik motor itu romantis ya mbak.Duduknya nempel depan belakang.Pegangan yang kuat ya mbak.Takut jatuh"
Mbok terkekeh.Kebiasaan mbok Mi selalu bercanda.
"Gitu ya mbok?"Kara cukup terhibur dengan mbok Mi yang selalu terang terangan mengungkapkan sesuatu.
"Lhooo iya to mbak.Biar mesra gitu"Mbok Mi terus terkekeh.
Kara hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku mau siap siap mandi dulu ya mbok.Takut mas Pandu kelamaan nunggu"Kara masih tersenyum melihat tingkah mbok Mi.
"Iya mbak.Sebentar lagi saya juga sudah selesai.Langsung mau pulang"
"Oh gitu ya?Iya udah kalau gitu hati hati ya mbok"Kara melambaikan tangan lalu menuju kamar.
Sesampai didepan pintu kamar tiba tiba ragu.
__ADS_1
Mas Pandu ada didalam.
Masuk atau tidak ya?
Kara sempat bingung dan memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Mas Pandu,boleh aku masuk?"Ucap Kara setelah mengetuk pintu.
Dan grekkk.Pintu dibuka oleh Pandu.
"Mas"Kara terkejut.Melihat raut wajah Pandu yang masih saja terlihat marah.
"Ada apa mas?"
"Masuk"Tegas Pandu ketus.
Kara dengan bingung menatap Pandu.Ia pun ragu ragu untuk masuk.
"Saya bilang masuk!"Suaranya lebih lirih tapi penuh penekanan.Sehingga Kara dengan patuh masuk ke kamar.
Mbok terkejut mendengar Pandu membentak Kara.
"Ya Alloh,ono opo to iki?Mas Pandu kok bengok bengok ngono"
(Ya Alloh,ada apa sih ini?Mas Pandu kok teriak teriak begitu)
Mbok Mi bergumam lirih tapi memilih untuk pura pura tidak tau.
Itu satu peraturan yang diberikan Pandu pada mbok Mi.Jangan mengurusi urusan pribadi.Hanya bekerja sesuai tugas semestinya.
Pandu membanti Pintu setelah Kara masuk ke kamar mengikutinya.
"Sebenarnya ada apa mas.Kamu sampai marah gitu?"Ucap Kara takut.Takut salah ucap.
"Siapa yang ambil ini?"Pertanyaan penuh tuntutan untuk segera dijawab.
Pandu sadar ucapannya terlalu keras didengar.Menghembuskan nafas panjangnya untuk mengatur emosinya.
"Denger nggak sih?siapa yang ambil ini semua?"
Pandu berucap lebih lirih.
"Ak,,aku mas"Kara menjawab diliputi perasaan heran.Kenapa mas Pandu semarah itu.
Wajah Kara pias.
"Siapa yang suruh?"
Kara menggelengkan kepala.
"Aku cuma siapain keperluan buat perjalanan kita nanti mas.Ada yang salah ya?"
Tidak ada jawaban dari Pandu.
Pandu berdecak kesal.Tapi jika dia pikir pikir lagi Kara benar tidak tau tentang semua ini.
Dan Pandu memasukan kembali barang barang itu ketempat semula.
Sarung tangan,masker,penutup dada dan sendal gunung.
"Nggak usah ambil barang barang itu lagi,saya nggak suka"
Lalu Pandu berlalu memutuskan untuk mandi.
"Oh iya mas.Maaf ya mas aku nggak tau"Kara patuh.
__ADS_1
Mas,Mas.Karena nggak suka sama barang barang itu kok sampai semarah itu sih.Mungkin mas Pandu nyesel belinya.Udah dibeli ternyata kurang pas dipakainya.
Kara bergumam dalam hati.
Kara kembali keluar dari kamar.Menuju dapur untuk membuat secangkir kopi untuk Pandu.
Agar Pandu bisa menikmati kopi sambil menunggu Kara selesai mandi.
"Mbak Kara,mbok pulang dulu ya"Mbok Mi berpamitan.
Melihat Kara tampak sedikit murung mbok Mi jadi kasian.Tapi mbok mi tidak bisa berbuat apa apa.Hanya bisa memberi dukungan pada Kara.
"Eh mbok,pulang sekarang?"Kara terkejut.
"Iya mbak,kerjaan udah selesai semua"
Kara membalas senyuman.
"Ya udah kalau gitu hati hati ya mbok"
"Iya mbak terima kasih"Mbok Mi sudah melangkah tapi berhenti lagi.
"Eh iya,mbok lupa mau bilang"
"Bilang apa mbok?"
"Hati hati juga nanti kalau mau kerumah mertua yan mbak.Agak jauh soalnya.Pegangan yang kuat"
Mbok Mi terkekeh.
Kara pun hanya bisa tersenyum malu.
"Mbak Kara sama mas Pandu ini bener bener cocok banget.Cantik dan ganteng.Wis cocok banget sip.Mbok doain semoga bahagia selalu.Biar cepet,,"
Ucapan mbok Mi menggantung.
"Hayo apa?"Kara sengaja mengagetkan mbok Mi.
"Apa hayo apa mbak apa hayo"Mbok Mi latah lagi.
"Mmm mbak Kara suka usil gitu.Mbok pengen cepet mbak Kara ha,,mill"
Mbok Mi menekan nada kata terakhir.
Kara tersenyum,mbok Mi berhasil membuatnya malu.
"Mbok Mi,mbok Mi kirain apa"
"Lho ya amin gitu lho mbak"Mbok Mi protes.
"Bilang amin hayoo"
Mbok Mi menuntut Kara mematuhinya.
Mbok Mi nggak tau aja pernikahanku tidak lama.Kecuali Allah yang mengijinkan kami terus bersama.Menumbuhkan rasa cinta di hati mas Pandu.Hingga kami menjadi pasangan suami istri yang normal.
Gumam Kara dalam hati.Pikiran ingkar Kara kembali muncul.Apa salahnya dia meng amin kan doa mbok Mi.Siapa tau doa orang tua yang tulus ini dikabulkan oleh Alloh.
Kara tersenyum.Wajahnya memancarkan kelembutan hatinya.
"Iya mbok Aamiin.Semoga doa mbok mi dikabulkan Alloh"Rasanya kata amin itu muncul dari lubuk hati Kara yang paling dalam.
Mbok Mi mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Mantab.Yowis mbok pulang beneran ini.Assalamualaikum"
__ADS_1
"Walaikumsallam"Kara tersenyum.Melihat mbok Mi keluar dari rumah itu.