Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Mana Tanganmu


__ADS_3

"Nambah lagi mas?"Kara memberikan tawaran karena ia melihat isi piring Pandu yang hanya tersisa beberapa sendok saja.


"Nggak usah,terima kasih.Aku sudah makan cukup banyak"Jawab Pandu tak luput dengan senyuman tampannya.


"Nggak enak ya mas?"


"Bukan gitu sayang,malah rasanya kayak masakan ibuku.Tapi perutku sudah penuh"Ucap Pandu mengandung kata permohonan.


Dada Kara kembali berdegub cepat secepat kereta yang melintas.Jantung seperti sedang bermain trampolin dan ingin meloncat keluar.Karena panggilan 'sayang' dari Pandu.Berharap Pandu akan seperti itu seterusnya.


"Oh ya?Tadi emang aku sempet telpon ibu nanya cara bikin sayur kesukaan kamu"


Kara memang sempat menelpon ibu mertuanya selama proses belajar.Tujuannya agar mendapatkan citarasa yang hampir mirip dengan masakan beliau.


"Hmm pantes rasanya sebelas duabelas"Pandu melemparkan pujian yang berarti masakan Kara dan ibunya memeiliki kemiripan dan hanya berbeda tipis.


"Ra,ibuk nggak nyangka kamu bisa masak seenak ini lho"Pujian Ranti tulus sambil melahap makanannya.


"Ah ibuk bisa aja.Kepala Kara jadi gede nih"Gurau Kara menjawab.


Pandu dan Ranti pun jadi tertawa mendengar jawaban Kara.


Mereka melewati makan sore dengan banyak obrolan mengasyikan.


Masih banyak sayur brongkos dipanci.Mbok Inah memindahkannya dalam wadah tertutup untuk dibawa oleh Kara.Sudah pukul lima sore,Kara dan Pandu berpamitan pulang.


"Mbak Kara,ini sayur brongkosnya masih banyak.Mbok taruh diwadah ini"Mbok Inah menyodorkan tas kecil berisi kotak penyimpan makanan.


"Taruh dikulkas,nanti kalau mau makan tinggal dipanasin"


"Mbok Inah pake repot repot dibawain segala.Makasih lho mbok udah bantuan masak juga tadi"Ucap Kara seraya mengusap punda wanita tua itu.


"Mbok sehat sehat ya,nitip ibuk.Semuanya pada jaga kesehatan.Nanti Kara bakal sering sering main kesini"


"Ibuk tunggu ya Ra.Kamu kalau mau kesini telpon dulu.Biar ibuk luangkan waktu"


Ranti memeluk Kara.


"Iya buk.Kara sama mas Pandu bakal sering sering kesini"


Pandu dan Kara pun meninggalkan rumah Ranti.Dengan rasa bahagia dihati Kara.Pandu menyukai masakannya dan sudah beberapa kali ia mendengar panggilan sayang untuk dirinya.


Semoga Pandu sejalan dengannya.Berusaha saling mencintai.


***


Sesampai apartmen mereka masing masing membersihkan diri.Berganti pakaian santai.


Dan adzan maghrib telah berkumandang.


Pandu memang bukan sosok yang super religius.Namun dia berusaha menunaikan kwajibannua sebagai seorang muslim,begitu juga dengan Kara.


"Mas udah maghrib.Mas mau sholat dimasjid?"Tanya Kara pada Pandu yang tengah membaca buku.


"Sholat dirumah,masjidnya agak jauh kalau sore begini jalannya juga macet barengan orang pulang kerja"Pandu meletakan bukunya.


"Saya sholat dirumah aja"


Kara terkejut ketika mendengar jawaban Pandu.Bukan soal sholat dirumah atau dimasjid.Tapi tanggapan Pandu sangatlah dingin,tidak seperti waktu dirumah ibunya tadi.


Tapi Kara berusaha menepis pikiran itu.Mungkin Pandu sedang lelah.


"Enghh.."Ucapan Kara menggantung binggung mau bilang seperti apa.Pandu langsung menoleh.Tatapan mata Pandu memang tajam.Seakan mengintimidasi Kara.Kara pun menjadi gugup.


"Egh anu"


"Boleh sholat bareng?"

__ADS_1


Tatapan Pandu masih tajam.Sebenarnya Pandu seperti ditampar.Memang seharusnya dia mengimami istrinya ini.Tapi masa bodoh Pandu dan istrinya itu hanya menikah sementara.


"Ya"Pandu menjawab singkat sedikit menunduk menyetujui.Lalu bergegas ke kamar.Ruang kamar yang cukup luas.Ada sisa tempat yang cukup untuk dua orang yang sholat berjamaah.


Kara pun dengan patuh mengikuti langkah Pandu.


Sholat maghrib yang berjalan begitu khidmat.Kara tak menyangka,Pandu melantunkan surat pendek dengan merdu.


Hati Kara sempat merasa berdesir saat awal mula mendengarnya.


Surat Alfatiha dan dilanjut kan surat pendek.Masyallah sangat memanjakan telinganya.


Dada dan pikiran Kara seakan tersiram embun saat menyambut pagi.


Ini kali pertama mereka sholat berjamaah.Dan Kara bahkan sudah rindu ingin melakukannya lagi.


Sholat sudah selesai.Pandu masih duduk diatas gelaran sajadah merah.Memanjatkan doa dan mohon ampun.Sama halnya dengan Kara.


Kara lebih dulu mengakhiri doanya.Namun masih duduk juga dan memandangi punggung pria tampan dihadapannya itu.


Ia amati kedua tangan pria itu yang sedang menengadah memohon pada Sang Maha Esa.


Doa apa sih yang mas Pandu mohonkan?


Kok keliatan kusyuk banget?


Apa dia mendoakan pernikahan kami?


Kara tersenyum tipis.Ada rasa bahagia membuncah bisa berjamaah dengan suaminya.


'Terima kasih ya Mas,sudah mau berjamaah bersamaku.Aku nggak tau doa apa yang kau panjatkan.Jika engkau tau mas,Namamu yang sekarang selalu kumohonkan pada Allah.Hatimu yang kupintakan kelembutannya.Untuk mencintaiku'


Kara berucap dalam hati tak terasa kristal bening jatuh dari ujung matanya.


Tampaknya Pandu telah selesai berdoa.Menoleh sedikit kebelakang,ingin melihat saja.Apakah Kara masih ada dibelakangnya atau tidak.Itu saja.


"Mas"


"Ya"


"Boleh kan aku panggil dengan sebutan mas.Meskipun lagi nggak didepan ibukku ataupun ibumu?"


Kara mengatakan dengan sedikit keraguan.Ragu dan khawatir Pandu menolak mentah mentah permintaanya itu.


Dia bahkan tak peduli Pandu akan memanggilnya dengan sebutan apa.


"Ya"Jawab Pandu dengan anggukan tipis.


"Boleh"


Pandu sudah hampir beranjak.Namun tertahan lagi oleh Kara.


"Oh ya mas,boleh minta sesuatu lagi?"Kara sedikit takut namun berusaha memberanikan diri.


"Apa lagi?"Ucap Pandu dingin.


"Mmm gini mas.Boleh nggak aku menuai pahala dari kamu?"


Pandu sangat terkejut.Apa yang Kara maksud.Ekspresi wajahnya berubah ngeri,seperti jijik pada lawan bicaranya.Kedua alisnya berkerut keheranan.Apa Kara mengajakku untuk....?


Namun tampaknya Kara menangkap kesalah pahaman yang ditangkap oleh otak Pandu.


"Eh jangan mikir macem macem dulu mas.Bukan itu kok yang aku maksud"


Kara jadi salah tingkah karena malu.


"Maksudnya meskipun kita menikah kontrak.Tapi pernikahan kita ini tetap resmi,sah.Jadi kalau aku merawatmu,melayanimu dengan baik aku tetep dapet pahala"

__ADS_1


Pandu terdiam mencoba mencerna perkataan Kara.Dan masih sedikit bingung.Kenapa Kara membicarakan tentang pahala.Bukankah sejak awal kita berdua setuju.Bahwa kita urus urusan kita masing masing.Merawat?Melayani?Maksud dia yang seperti apa?


"Gini lho mas.Mulai sekarang aku akan mengurus keperluanmu.Menyiapkan makanan buat kamu,bikinin kopi.Siapin baju kerja kamu.Lagipula sekarang aku udah jarang ke kampus.Sebentar lagi aku kan udah wisuda"


Ucap Kara penuh hati hati.Hati bersiap jika Pandu akan menolak permintaan itu.


"Kenapa kamu mau ngelakuin itu?bukannya kita sudah janji pernikahan kita cuma kontrak.Kamu nggak perlu lakuin itu.Aku biasa mengurus diriku sendiri.Dan kamu lakuin aja semua urusanmu sesukamu"


Pandu mengingatkan Kara tentang kesepakatan pernikahannya.Rentetan kalimat ucapannya seolah ingin membuka mata Kara.Agar Kara menyadari kondisi pernikahan ini.


"Iya mas aku tau.Itu kesepakatan awal kita.Meskipun cuman kontrak tapi pernikahan yang sah tetaplah ada hukumnya dimata Allah.Aku tidak berharap banyak mas.Aku hanya ingin keberkahan selama pernikahan kita yang mungkin cuman se sebentar"


Kalimat terakhir yang diucapkan tersendat seolah Kara tidak ada ketulusan untuk melakukan itu.Tidak ingin melakukan pernikahan ini hanya dengan sebentar.Benar,Kara berniat ingkar dari perjanjian awal.


Kepala Pandu seakan mau pecah.Apa apaan Kara ini?


Bukankah itu akan merepotkannya?harus mengurus suami,harus menyiapkan apapun keperluan suami.


Apa sih yang ada dikepalanya?


"Kamu nanti kerepotan ngurusin aku"Tentu saja jawaban Pandu ini adalah wujud penolakan secara halus.


Namun Kara tidak menyerah.


"Tidak mas,serepot apapun ngurusin kamu.Bakal aku lakuin dengan ikhlas.Mas aku mohon ijinkan aku ya"


Kara menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai bentuk ekspresi permohonan.


Pandu tampak jengah dengan permintaan Kara yang ia anggap sia sia itu.Untuk apa dia begini sih?


Melihat Kara memohon dengan tulus.Akhirnya Pandu mengalah.


"Ya udah terserah kamu,tapi kalau capek gak usah ngeluh"


Sikap dingin dan tampak malas harus berdebat dengan wanita


Karena tidak akan menang jika melawan mahkluk Tuhan bernama wanita.


"Yeeee"


Kara bersorak senang mengepalkan tangannya keudara.


"Makasih ya mas"


Senyum bahagia tampak tulus terlihat di raut wajah gadis itu.


Pandu melepas songkok yang dipakainya dan berniat beranjak berdiri.


"Mas tunggu dulu"


Cegah Kara.


"Apa lagi sih?"Sahut Pandu kesal.


Kara tersenyum senang.Mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pandu.


"Kenapa sih?"Sahut Pandu ketus.


"Mana tanganmu"Pinta Kara.


Pandu pun menurut dan langsung tau maksud Kara meminta salaman dengannya.


Dan tangan mereka berjabat.


Kara mencium punggung tangan Pandu dengan tulus.Hembusan nafas Kara sangat terasa hangat ditangan Pandu.


Pandu hanya bisa mengamati kepala yang tertunduk terbalut mukena berwarna merah muda,sedang mencium punggung tangannya.

__ADS_1


Tentu saja menatap dengan tatapan bingung.


__ADS_2