Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Mau Jalan Jalan


__ADS_3

Bahan masakan sudah komplit.


Ibu mempersiapkan bahan untuk dimasak.Sementara Kara membereskan belanjaan dan menatanya di lemari pendingin.Meskipun Kara tidak pernah melakukan ini,tapi ia sudah biasa mengamati dan menunggui Mbok Inah saat beberes belanjaan.


Dan Dewi sedang mengurus cucian.


Setelah Kara selesai ia membantu ibu mertuanya.Sambil bertanya tentang memasak.


Kara berterus terang jika ia tidak pandai memasak.Tapi sedang berusaha.


Sekitar satu jam lebih mereka menyelesaikan pekerjaan mereka masing masing.


Dan Sarapan pun sudah siap dimeja makan.


Kara memanggil Pandu untuk segera sarapan.


Sementara Saka memang sengaja malas bangun untuk sarapan bersama.Lagipula kebetulan kedua anaknya masih tidur.Jadi Dewi memberikan alasan itu.Dewi pun sebenarnya tidak tau apa yang terjadi pada mereka.Saka tidak mengatakan apapun tentang yang ia dengar semalam.


Meskipun Dewi merasa sedikit aneh.Tumben mas Saka nggak ikut sarapan.Dewi pikir memang karena anak anaknya belum bangun.


Ya sudahlah,toh mumpung acara liburan.Dewi tidak mau ambil pusing.


"Saka belum bangun nduk?"Tanya Yunda pada Dewi.


"Iya buk,tumben tumbenan mas Saka bangun siang.Mungkin karena semalem abis begadang.Biar sekalian nemenin anak anak tidur juga"


Jawab Dewi yang duduk disebelah Via.


Sedang kan Vio berada disebelah Kara.Kara berada diantara Pandu dan Vio.


Ibu duduk dikursi paling ujung.


"Ya sudah nggak apa apa.Biarkan saja,dia masih ngantuk"Ucap Yunda.


"Ayo kita sarapan aja dulu"


Kebetulan Yunda sudah merasa lapar karena sejak pagi sudah sibuk.Dan hanya secangkir teh kecil dan secuil gethuk mengganjal perutnya.


Mereka pun dengan nikmat menikmati sarapan.Masakan ibu memang paling juara dan bikin kangen.


Tengah menikmati sarapan yang hampir habis.Saka keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Saka berlaga tidak terjadi sesuatu.


"Heyy ayo sana cuci muka dulu.Nanti gabung sarapan"Ajak Yunda pada Saka yang masih muka bantal.


"Nggak cuma cuci muka bu,aku mau mandi"


Ucapnya masih lesu.Lalu bergegas mengambil handuk dan mandi.


"Yowis sana cepat"Ucap Yunda.


Saka tentu saja tidak ingin sarapan semeja dengan si keparat Pandu.


Adik laki lakinya yang telah menipu dirinya dan keluarganya.


Dan Kara,kenapa dia sebodoh itu.Mau maunya dia dinikahi tidak didasari cinta.Apalagi hanya sementara.Apa yang mereka cari sebenarnya?


**


"Bu,Kara pergi dulu ya.Mas Pandu mau ngajak jalan jalan Kara di dekat sini"Ucap Kara.


"Iya nduk.Hati hati ya"Tutur lembut ibu mertua Kara.


"Mau kemana Ndu?"


"Mau ngajak Kara ke Kali Biru bu"Sahut Pandu sambil mengenakan jaketnya.


Dan mengulungkan satu jaket lagi untuk Kara.


Kara menerima dengan tatapan bingung.Jaket yang ada ditangannya sekarang dengan bingung.


Jaket siapa ini?


Kenapa mas Pandu punya jaket wanita?


Kara tersenyum kaku.


"Yowis sana ati ati lho Ndu.Nggak usah ngebut ngebut"


Pesan Yunda pada Pandu.


"Dipakai nduk jaketnya"

__ADS_1


Tutur Yunda sangat lembut memberi perhatian pada Kara.


"Iya bu,nanti Kara pakai"Jawab Kara.


Belum mau pakai karena masih asing dengan jaket wanita ditangannya.


Lebih baik menanyakannya terlebih dahulu pada Pandu.


Apa ini milik mantan pacaranya yang masih ia simpan dilemarinya.


Kara merasa sekujur tubuhnya panas.Telinganya seakan berasap.Kepala seperti mau meledak.


Rasa apa ini?


Kenapa aku sekawatir ini?


Apa aku cemburu?


Batin Kara berkecamuk.


Saat akan berangkat.Ibunya mengantar sampai ke teras.


Pandu dan Kara berada agak jauh dari ibunya.


"Kenapa nggak dipakai?"Ucap Pandu lirih penuh perhatian.


"Nggak,aku nggak mau pakai"Jawab Kara ketus.


Namun berusaha menyembunyikan wajah marahnya karena diteras.Ibu mertuanya sedang mengamati mereka dari teras.


"Pakai dulu"Ucap pandu singkat.Lirih terdengar dan tampaknya Pandu berucap tulus.


"Aku bilang enggak ya enggak mas,kalau perlu aku nggak usah bawa jaket ini"Perkataan Kara penuh penekanan.Meskipun mimik wajahnya berusaha tidak terjadi apa apa.


"Ya udah kalau nggak mau nurut,cepet naik.Jadi jalan jalan nggak?"Jawab Pandu pasrah tidak ingin berdebat dengan istrinya itu.


Sedikit mulai paham sikap Kara yang keras kepala.


Kara mengenakan masker dan memakai helmnya.Dibalik masker berwarna hitam bibir Kara mungkin bisa diikat dengan karet gelang.


Kara merasa kesal.

__ADS_1


Pandu benar benar tidak peka dengan apa yang ia maksud dan rasakan saat ini.


**


__ADS_2