
"Bercandamu tidak lucu mas"Kara buru buru melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Ra dengarkan saya dulu"Pandu menyusul Kara ke dapur.
Kara canggung,takut dan kesal.Entahlah rasa apa yang bersemayam dalam hatinya saat ini.Yang jelas Kara tidak suka merasakan ini.
Bukankah seharusnya Kara menyukainya?
Pandu mengatakan,bahwa ia akan menggali cinta.Cinta kepada Kara maksudnya?
Pandu meminta ijin untuk itu.
Menyibukan diri di dapur adalah solusi Kara untuk mengalihkan perasaannya.
Tapi tidak tau apa yang akan dia masak.Kara mengambil alat dapur sekenanya.
Ia mengambil sebuah panci dan mengisinya dengan air.Lalu merebusnya.
Bahkan Kara pun tidak tau air rebusan itu untuk apa.Yang penting Kara sibuk.
"Ra kamu mau apa?bisa dengarkan saya dulu"Pandu mendekat dan mematikan kompor yang sudah dihidupkan apinya oleh Kara.
Mereka pun saling menatap.
"Mau masak memangnya mas lihat aku sedang menjahit?Kamu mau bicara apa sih?apa yang bisa aku dengar mas?"Kara canggung namun ia juga merasa jengah.
"Tidak usah masak,aku sudah pesan makanan via ojek online"Ucap pandu.
Mereka pun duduk di sofa.
"Kamu bisa tidak,setiap hari jangan uring uringan"Tandas Pandu.
Dituduh selalu uring uringan.Kara melotot menatap Pandu.
"Kenapa lihatnya begitu?memang benar kan?"Ucap Pandu,seperti sedang mengomeli adik perempuannya yang sering merajuk.
"Siapa juga yang uring uringan"Sanggah Kara sewot.
"Kamu dengar apa yang saya bilang tadi?"Pandu bertanya memastikan bahwa ucapannya didengar oleh Kara,saat keluar kamar tadi.
"Soal apa?"Ucap Kara pelan.Menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Pandu berdecak,sesungguhnya ia hanya tak lagi cukup mental untuk mengulang perkataannya.
Sehingga sejenak terdiam.
"Mas?"Tanya Kara kembali.Dan Pandu pun segera cepat menjawab.Hampir bersamaan dengan pertanyaan Kara.
"Aku mau berusaha"Jawab Pandu.
"Usaha apa?"Tanya Kara yang masih belum paham betul kemauan Pandu.Sebenarnya secara sekilas ia tau maksudnya.Namun Kara mau memastikannya kembali.
Belum semoat Pandu menjawab.Bel pintu terdengar.
Tampaknya driver ojek online telah datang membawa makanan.
Pandu menghela nafas.Lalu Kara yang hendak beranjak.Pandu yang tersadar oleh pakaian Kara.Yang menampilkan sebagian pesona kaki jenjangnya.Pandu langsung menahan Kara agar Kara tidak melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Biar aku saja"Sesegera mungkin Pandu menuju pintu yang sejak tadi berbunyi bel nya.
"Aku tidak akan membiarkan driver itu melihat kaki Kara"
Batin Pandu.Ia berjalan cepat.
"Mas Pandu kenapa sih?buru buru seperti dikejar maling"
Batin Kara,padahal dirinya beranjak hanya ingin mengambil ponselnya di kamar.
***
"Mas,kamu pesan makanan sebanyak ini untuk apa?"Kara terheran membuka kantong plastik satu persatu.
"Untuk hajatan!"Jawab Pandu.
"Hajatan apa mas?Mas Pandu ulang tahun?"Ucap Kara tampak penasaran dan tampak bodoh.
"Bukan,lamaran"Jawab Pandu sekenanya sembari membantu Kara membuka kemasan makanan itu.
"Siapa?Mas secepat itu kamu.."Ucapan Kara menggantung.Kara tampak bingung menatap Pandu.Raut wajahnya menggambarkan bahwa saat ini ia sangat bingung.
"Sssttt,,apa sih?tentu saja ini untuk makan malam kita Ra"Jelas Pandu.Jawaban yang membuat Kara bernafas lega.Wajahnya merah padam karena malu.Ia bahkan hampir berkeinginan melempar vas bunga ke arah Pandu jika ada lamaran sungguhan.
Padahal Kara sudah sangat merasa kesal.
Krruuuuukkkkk......
Ada dering peringatan yang berasal dari perut Kara.Ya tentu saja Kara sedang merasa sangat lapar.Pasukan cacing sudah menagih ingin asupan makanan.
Pandu tersenyum tipis menahan tawanya.Dimulutnya sudah ada makanan.Hampir saja kunyahannya menyembur karena ingin tertawa.
"Mas Pandu mengolokku?"Kara cemberut,ucapannya dan reaksinya sangat lucu sekali.Seprerti anak anak yang sedang merajuk.
"Tidak,ayo makan"Pandu melanjutkan memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Namun masih tampak senyum diujung bibirnya.
Kara kesal dan malu dibuatnya.
"Maasss,sudah jangan mengolokku"Seru Kara,tingkahnya lucu.Cukup menggelitik bagi Pandu.
Pandu tidak menjawab apapun.Hanya mengangkat kedua bahunya dan mengunyah makanan yang terasa lezat karena dirinya kelaparan.
Kara pun juga melahap makanan yang sudah teghidang di depannya.Tidak hanya Pandu,Kara pun merasa makanan ini lezat.Ya itu karena mereka kelaparan.
Sepasang suami istri yang tak biasa itu pun sama sama melahap makanan dengan rakus.
Keduanya kelaparan,apalagi ditambah mereka telah membuang energi untuk beradu mulut tadi.
Tak lama makanan yang mereka pesan itu habis tak bersisa.Jika ada orang lain yang melihat pasti akan geleng geleng kepala.Betapa rakusnya mereka.
Setelah itu mereka bekerja sama mencuci piring dan membereskan semuanya.
Pandu merasa senang.
"Ternyata karena lapar?"Ucap Pandu.
__ADS_1
"Apanya?"Kara heran.Sudah tidak tampak marah ataupun sewot.
"Kamu,tadi uring uringan terus tapi sekarang sudah tidak lagi"Ucap Pandu senyum tipis.Ia berdiri bersandar di kitchen set disisi Kara yang sedang mengelap piring.
Kara sejenak berpikir.Ternyata memang benar,emosinya meningkat saat lapar.
"Siapa bilang,tidak juga"Kara membantah.Tentu saja membela diri karena merasa malu dengan tuduhan itu.
Pandu hanya tersenyum tipis penuh arti dibalik senyuman itu.Membuat Kara merasa kesal dan malu.
Kara pun ingin buru buru menyelesaikan pekerjaannya.Dan pergi dari hadapan Pandu.
Kara lebih baik daripada tadi.Pandu rupanya sudah menemukan satu cara membuat Kara moodnya baik.Yaitu mengajaknya makan.Kebanyakan dari wanita memang seperti itu.
Hobi makan namun bercita cita tubuhnya ideal.
Ada sedikit kelegaan dihati Pandu.
Pandu sibuk dengan pikirannya,kenapa jadi seperti ini?
Bukankah seharusnya membuat Kara aman dan tidak ada pengganggu itu sudah cukup baginya?
Kenapa saat Kara mood nya sedang tidak baik itu menjadi masalahnya?
Kenapa dirinya sekarang menginginkan Kara ceria setiap hari saat bersamanya?
Pandu merasa gelisah dengan semua itu.Ia yakin bahwa ini hanyalah perasaan ingin melindungi Kara.Bukan perasaan cinta.
Dalam sejarah Pandu tidak mungkin jatuh cinta secepat itu.Maka dari itu Pandu meyakininya bahwa rasa yang ia miliki saat ini bukanlah cinta.
Pandu tidak sedang jatuh cinta.
Natasha tetap menjadi peran utama di hatinya.Bahkan dia selalu bermimpi dalam tidurnya,bertemu dengan Natasha.
Entah keanehan apa yang Pandu alami.
Hampir setiap hari sosok Natasha hadir di mimpinya.
Pandu menganggap karena dirinya masih teramat mengharap Natasha kembali.
Suatu saat Natasha akan kembali.
Tapi bagaimana dengan Kara.Apakah adil jika suatu saat aku meninggalkannya?
Pandu menatap Kara yang sedang sibuk membereskan dapur.
Disudut hatinya ingin mencoba memiliki Kara seutuhnya.Namun keyakinan dirinya bahwa ini bukan rasa cinta.Menjadi pengganjal langkah Pandu untuk menyatukan hatinya dengan Kara.
Bagaimana jika aku tidak bisa mencintai Kara seutuhnya?Seperti aku mencintai Natasha?
***Bersambung lagi yups..
Jangan lupa kasih dukungan vote untuk author.
Agar author semangat up setiap hari.
Sudah vote saya ucapkan terima kasih semoga murah rejeki.😘😘😘
__ADS_1