
Meskipun masih terasa sedikit nyeri.Tapi hari ini Pandu merasa jauh lebih baik.Luka lebam diwajahnya sudah tidak nampak meskipun rasa nyerinya masih tersisa.Dengan begitu ia memutuskan untuk pergi mengajar.
"Hari ini aku sudah mulai mengajar,nanti siang kamu juga ada ada kelas disana kan?"
Ucap Pandu pada Kara yang sedang tidak peduli dengan keberadaannya.Kara sibuk membereskan tempat tidurnya.
"Ra"Panggil Pandu sekali lagi karena Kara tak cepat menjawab.
"Iya ada"Jawaban bersuara halus tanpa senyuman dari wajah Kara.
Kara masih belum luluh.Tapi semua kwajibannya melayani suaminya ia kerjakan dengan baik.Kecuali kwajiban batinnya.
Kara memang bukan gadis keras kepala dan pembangkang.Sekali saja mengutarakan keinginannya pada orang lain.Namun orang lain enggan mewujudkan,maka Kara bukan tipe pemaksa kehendak.
"Kita pulang sama sama,aku ada les hari ini"Pinta Pandu yang sebenarnya ia sangat kesal Kara mengacuhkannya.
"Tidak"Kara berjalan kesana kemari memasuk masukan baju baju yang sudah rapi disetrika ke dalam lemari.
"Nanti kalau tau guru lain aku atau kamu bisa dikeluarkan dari sekolah.Aku tidak mau"
"Kataku kita pulang sama sama"Pinta Pandu sedikit meningkatkan nada tegasnya.
"Kamu tidak dengar aku ngomong apa mas?"Ucap Kara menatap mata Panud.
"Ra,kamu sudah janji padaku.Kamu bakal menuai pahala dirumah tangga kita"Pandu bersandar di lemari,yang sisinya ada Kara sedang menata rapi bajunya.
Dan Kara justru merasa sesak saat Pandu membahas soal rumah tangga.Kara sedang belum bisa memperbaiki emosinya.Selalu mengerus hatinya jika memikir terlalu dalam.Tentang rumah tangga yang hanya ada cinta sepihak.
Itu sangat menyakitkan.Tapi bukankah dulu Kara bertekat akan menerima resikonya?
Ya itu benar,namun Kara tidak pernah membayangkan cinta begitu cepat tumbuh di dalam hatinya.Bahwa mencinta sendirian itu terlalu sakit dirasakan.Awalnya ia mengira itu akan mudah.
"Aku bisa pulang sendiri,nanti kamu repot mas"Alasan klise diucapkan Kara.
"Ra?"Panggilan mengandung arti protes.Memohon kembali agar Kara mau menurutinya.
"Sudah lah mas,untuk apa?kamu kan yang minta kita urus diri kita masing masing"Tatapan Kara tajam.
Pandu tidak bisa mengelak.Memang benar itu kemauannya sejak awal menikah.
"Iya kan mas?jadi aku menuruti kamu saja sekarang"
"Terus kamu pulang sama siapa?"Pandu berucap tegas.Tidak tahan dirinya berada dibawah tekanan Kara yang tak kunjung luluh itu.
"Ojek online ada"Jawab Kara singkat,lalu menutup rapat lemarinya.
Pandu tidak ingin memaksa Kara sekarang.Pandu tau Kara masih belum stabil emosinya.
"Ya sudah kalau kamu menolak"Tegas Pandu lalu pergi meninggalkan kamarnya.Kara sempat melirik Pandu dengan ekor matanya.Melihat punggung pria itu semakin jauh.
Hanya itu saja yang kamu lakukan mas?apa kamu tidak punya cara lain?apa memang kamu benar benar tidak peduli.Lagi pula aku belajar untuk tidak berharap lebih atas balasan perasaanku ini mas.Ini sangat menyakitkan sekali jika kamu bisa rasakan.
***
"Yang dimaksud sopran adalah,suara tinggi perempuan.Sedangkan mezzo sopran adalah suara menengah perempuan.Kalian harus bisa bedakan.Jenis suara perempuan itu apa saja,kemungkinan materi ini akan ada di ujian tertulis minggu depan"Tutur Kara kepada murid muridnya.Tak sadar bahwa ada sepasang mata yang mencuri pandang saat melewati kelasnya.
Siapa lagi kalau bukan Pandu.Dirinya sedang tidak ingin mendapatkan penolakan.Pandu sangat kesal dengan sikap Kara.
Dengan cara apalagi agar Kara tidak terus diam seperti ini.
Pandu sebenarnya sudah bisa pulang karena jam mengajarnya sudah habis.
Namun,ia masih ingin Kara bisa pulang bersamanya.
Pandu memutuskan untuk menjauh darikelas Kara.Tidak ingin jika Kara sampai melihatnya dan akan mengganggu konsentrasi mengajarnya.
__ADS_1
_Aku tunggu di gang sebelah gedung sekolah.Aku tidak mau ada penolakan_
Pandu mengirim pesan Pada Kara.Dan Kara membacanya dengan rasa kesal sembari keluar kelas.
"Selamat sore Pak Pandu"Sapa salah satu guru yang berpapasan.
"Iya sore Pak"Jawab Pandu.
"Pak Pandu masih disini rupanya.Pak kepala sekolah tadi mencari bapak.Katanya ada hal yang harus dibicarakan"Kata seorang guru perempuan yang berpapasan dengannya.Namun guru itu sedikit aneh melihat Pandu.Pandu terlihat tampak fokus pada kelas seni suara dan musik.
"Pak Pandu cari siapa?Mr.Farhan atau Ms.Kara?"
"Bukan siapa siapa.Saya cuma lihat murid seni suara dan seni musik ternyata banyak juga.Saya permisi dulu,kepala sekolah mungkin sudah menunggu"Pandu tampak gugup dan segera pergi.
Guru itu pun aneh melihat Panud yang buru buru pergi.Padahal tadi tampak santai mengamati kelas itu.
"Sejak kapan Pak Pandu peduli sama murid ekskul?"
Gumamnya bertanya pada diri sendiri.Lalu pergi masih dengan hati bertanya tanya.
Segala pransangka timbul di pikiran guru itu.
***
Meskipun Kara menolak namun akhirnya ia menurut.Ia menunggu di gang sebelah gedung sekolah.
Kara juga sudah menolak tawaran Farhan yang ingin mengantarnya pulang.
Kara duduk disebuah bangku dekat angkringan.Sudah seperti orang hilang yang tidak tau jalan pulang.
Berkali kali Kara menilik benda yang melingkar dipergelangannya.Hampir satu jam ia menunggu.Hati siapa yang tidam kesal.
Dipaksa pulang bersama namun yang membuat peraturan justru tidak menepati janji.
Perut yang sudah mulai protes karena minta diisi.Sampai Kara menyempatkan dirinya untuk membeli es teh di angkringan itu.Kara menyedot es teh dalam plastik bening itu sudah berulang kali.Lebih dari setengahnya sudah mengguyut membasahi tenggorokannya.
Kemana sih mas Pandu lama sekali.Ini sudah hampir satu jam.
Kara memutuskan mengirim pesan singkat.
_Aku sudah menunggu di gang.Kamu dimana?_
Menit demi menit Kara menunggu balasan namun hasilnya nihil.
Kara pun semakin kesal,ketidak jelasan ini membuat kepalanya mendidih.
Sebenarnya apa yang terjadi sama mas Pandu.Kenapa dia terlambat lama sekali.Harusnya dia sudah pulang lebih dulu dari pada aku.
Batin Kara sudah memuncak kesalnya.
Ada dua orang siswi yang lewat.Kara memutuskan untuk bertanya.Kebetulan mereka juga muridnya namun bukan hari ini jadwal mereka ekskul.
"Ms.Kara,kok belum pulang?"Salah satu siswi justru lebih dulu menyapa.
"Hey indah,iya saya lagi nunggu teman.Kamu juga baru keluar?"Tanya Kara.
"Iya mis kami ke perpus dulu tadi.Sebenarnya kelas tambahan sudah selesai dari tadi"Jawab indah polos.
"Oh,ikut kelasnya siapa?"Kara bertanya kembali.Kedua siswi itu pun malah ikut duduk bersama Kara.
"Pak Pandu"Jawab keduanya serentak.
"Di dalam masih banyak guru ya?"Tanya Kara menyelidik.
"Kurang tau juga mis,tapi sepertinya tidak.Sudah banyak yang pulang"Jawab Dinda siswi yang satu lagi.
__ADS_1
"Mis masih lama nunghu temannya?kami temani ya mis?"Ucap Indah.
"Eh tidak perlu"Senyum Kara.
"Kalian pulang saja,nanti orang tua kalian mencari"
"Tidak apa apa mis.Lagipula rumah kami dekat"Ucap Dinda.
Jika Indah dan Dinda menunggu sampai Pandu datang.Itu berarti akan membuat mereka curiga.Dan kemungkinan besar gosip akan cepat menyebar.
"Oh ya baiklah kalau begitu"Kara terpaksa mengiyakan.
Beberapa saat mereka mengobrol.Kara menilik jam tangannya.Sejak kedua siswi itu datang sudah lebih dari lima belas menit berlalu.
Kara memutuskan lebih baik pulang sendiri saja.
"Indah,Dinda.Saya pulang saja ya.Mungkin temanku tidak jadi datang.Biar nanti bisa saya kabari.Sekarang kalian bisa pulang juga"Ucap Kara yang menyisakan kesal didalam hatinya.Namun tak mungkin ia perlihatkan pada kedua siswinya itu.
"Bener mis?Tidak menunggu saja?"Indah memastikan.
"Iya tidak apa apa"Kara pun mendahului beranjak dari bangku kayu itu.
"Ya sudah mis.Hati hati ya mis"Ucap keduanya.
"Iya,saya terima kasih ya.Sudah ditemani"Kara melambaikan tangan dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dengan cepat ia memesan ojek online.Tak sampai menunggu lama ojek itupun datang.
Mengantar Kara hingga ketempat tinggalnya.
Tentu saja Kara pulang membawa hati yang teramat kesal.
Bagaimana mungkin seseorang tidak merasa kesal.Sudah menunggu lebih dari satu jam.Dan tanpa kabar apapun dari orang si pembuat janji.
Sesampai rumah Kara membersihkan dirinya.Lalu menyiapkan makanan yang sempat ia beli waktu diperjalanan pulang tadi.Kara tidak mau menambah pekerjaannya disaat hatinya tidak baik.
Mas Pandu,kamu keterlaluan sekali.Aku marah dan tidak ingin berbicara apapun denganmu.
Setelah sholat maghrib Kara memutuskan untuk tidur.Dan Pandu sampai sekarang belum pulang juga.
Kara merebahkan tubuhnya di ranjang.
Dan baru mengecek ponselnya.Hampir bersamaan saat Pandu menelpon.
*Kamu dimana Ra?Aku digang tapi kamu tidak ada disini.
Suara Pandu tampak terburu buru dan mungkin bisa dikatakan cemas.
"Dirumah"Jawab Kara lirih dan singkat sesingkat singkatnya.Kara menutup telepon tanpa mendengar suara Pandu lagi.
Dan Kara memutuskan untuk benar benar tidur.Lelah dan perasaan kesal sebagai bekal dirinya ke alam mimpi.
Kara merasa kecewa pada Pandu.
*bersambung...😘
Hello readers.
Aku up 1episode tapi puanjang nih.
Jangan lupa vote sebanyak banyaknya ya.Dan seikhlasnya.
Kaŕena dukungan kalian adalah semangatku.
spam komen positif.Kritik dan saran yang membangun.Agar aku bisa menulis dengan lebih baik lagi.
__ADS_1
Sampai ketemu di episode selanjutnya..🥰🥰🥰🥰🥰🥰